"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Aku hanya mahasiswi kupu-kupu, yang sering menjadi bahan singgungan oleh para aktivis kampus. Tak jarang kaumku di cemooh habis-habisan di depan ribuan mahasiswa baru. Para aktivis akan berteriak teriak “Jadilah mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)”.

Advertisement

Kami tahu tujuan kalian untuk membakar semangat adik-adik yang masih dalam masa transisi mengenal dunia perkuliahan. Kami paham betul motivasi kalian. Tapi, sungguh bisakah kalian memperbaiki kalimat yang kalian teriakkan? Seperti misalnya “Jadilah mahasiswa layaknya kami, berjuang atas nama universitas, demi kebaikan semata”. Bisakah kalian tidak berkoar-koar bahwa kalian adalah yang terbaik, sedangkan kami terburuk?

Seberapa besar perbedaan yang selalu kalian bandingkan? Each person have right of freedom. So, jangan bertingkah kalian adalah yang terbaik. Kita, kaum yang disebut kupu-kupu juga mempunyai kehidupan yang sangat kami nikmati, tidak beda halnya dengan kalian yang menikmati rapat-rapat. Hanya berbeda versi saja.

Kita tidak hidup di negara komunis, dimana sama rata sama rasa. Jangan berlebihan memandang rendah kami, karena nama-nama kami tidak tercantum dalam sebuah struktur organisasi. Bersikaplah santai, hargai sesama. Bukankah mahasiswa adalah manusia-manusia cerdas dan beruntung. Kalian para aktivis paham betul seperti apa menjadi mahasiswa.

Advertisement

Pesan terakhir, bersikaplah dewasa. Jangan racuni pemikiran adik-adik kita dengan paradigma “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu”. Berbicaralah dengan kalimat yang tidak menjudge kaum kami, karena kami terluka. Ada banyak alasan kenapa kami memilih kupu-kupu. Dan tidak perlu semua alasan itu dibeberkan kemana-mana. Salam damai.

Dari kupu-kupu untuk kura-kura.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya