Ada sesuatu yang menyusup ke dasar hati. Yang acap detik mengusik pikir. Bayangnya terkadang menyiksa jiwa. Mengganggu malam dimana harusnya kupejamkan mata, menyiapkan energi untuk menghadapi dunia dan segala badai kerasnya esok hari.

Dan bayang itu, kamu.

Advertisement

Jam jam bosan berlalu, bayangmu tak mau pergi. Senyum mu teramat mengganggu. Kupaksa mataku terpejam. Diikuti hadirmu dalam mimpi, hingga keesokan harinya tiba.

Dan kamu tetap tak mau pergi

Orang bilang, aku jatuh cinta. Dan yang tak kusangka, mengapa kamu yang ditargetkan Tuhan untuk menjadi orang yang menanam kebun bunga dihatiku? Kamu yang seharusnya tak kucintai. Kamu yang awalnya biasa saja, semakin kesini menjadi semakin yang teristimewa dihati. Dan aku bahagia dengan kedekatan kita selama ini.

Advertisement

Menghabiskan waktu denganmu sudah menjadi hal yang selalu kutunggu tunggu setiap minggunya. Tak pernah ada kata bosan akan sesuatu yang berhubungan denganmu.

Aku ingat betul. Bagaimana suatu hari kita pergi berdua ke sebuah tempat yang begitu tenang, saat kamu memanggil namaku dengan lembut. Masih kuingat betul getar getar dihati saat mata bertemu. Saat kita saling bercerita dan tertawa. Masih terbayang wajahmu yang lucu saat tertidur pulas dipangkuanku. Ingin rasanya waktu berhenti saat itu.

Kadang, aku berharap agar Tuhan menghentikan saja waktu dihari itu. Aku sangat menikmati jutaan momen indahku bersamamu.

Sekali lagi, kutatap wajahmu yang lucu itu. Kuusap rambutmu perlahan. Kamu terbangun. Aku tersenyum kecil. Kamu memelukku erat.

Kunikmati heningnya hari, kunikmati bunyi detak jantungmu yang begitu terasa dekat dengan hatiku.

Andai bisa kuungkap, betapa aku cinta. Tapi, kurasa saat itu kemampuan bicaraku menghilang entah kemana. Kubiarkan kamu tetap memeluk, hingga akhirnya kugenggam tanganmu erat, ku kecup lembut keningmu, dan kembali bersandar dibahu mu.

Apakah jika rasa itu kuungkap reaksimu akan tetap baik baik saja? Atau menjauh? aku lebih takut reaksi kedua terjadi. Jadi, aku memilih untuk tetap diam. Aku tak ingin mementingkan egoku.

Kuputuskan untuk tetap menunggumu. Menunggu kamu mengucapkan kata yang kunantikan sambil tetap mencintaimu dalam diamku.

Tapi, yang kurasa saat ini letihnya hati saat rindu mengadu, tanpa ada kabar darimu. Se tersiksa ini kah tidak bisa mengungkapkan? Hanya berharap agar selalu disampingmu dalam keadaan apapun. Aku mencintaimu.

Entah sampai kapan aku menunggumu.

Maka dari itu, dikarenakan hilangnya kemampuanku akan jujur padamu, izinkan aku mencintaimu dalam diamku. Memelukmu dalam doaku.

Taukah kamu, memelukmu dalam doa adalah setulus-nyata nya bukti cinta?

Dariku,

Yang mencintaimu dalam rinai hujan, hening malam

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya