Penghujung 2017 sudah dekat. Sungguh tidak terasa. Waktu benar-benar berjalan dengan begitu cepat. Kalau kita refleksikan ulang tahun ini, apa yang sudah terjadi? Apa saja yang sudah kita raih? Apa saja kegagalan kita?

Tahun ini, menurut saya pribadi, adalah tahun penuh goncangan. Tahun kegagalan, mungkin bisa di bilang seperti itu. Tapi juga dipenuhi dengan kebahagiaan, dan pembelajaran. Lagipula, apa lagi guru yang paling baik selain dari kegagalan?

Advertisement

Pada tahun ini saya gagal mendapatkan beasiswa kuliah keluar negeri yang sejak lama sudah saya idam-idamkan. Sudah lama saya persiapkan, mulai dari meminta surat rekomendasi, melengkapi semua dokumen, mengikuti kursus bahasa Inggris, tes bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Juga dengan biaya yang tidak murah. Namun perjalanan tersebut gagal, bahkan gagal sebelum saya menemui pihak penyelenggara beasiswa. Padahal surat penerimaan dari universitas yang dituju sudah di tangan.

Sungguh kejadian itu membuat saya kecewa. Kejadian tersebut benar-benar meninggalkan dampak dalam diri saya. Dua hari saya menangis melihat hasil yang sungguh mengecewakan. Apa salah saya? Semua sudah dipersiapkan dengan baik, dan saya tidak lulus karena saya menjadi diri saya sendiri. Saya malu. Malu dengan keluarga, malu dengan teman, malu dengan orang-orang yang mengetahui rencana saya ke depannya. Sebelumnya saya tidak punya rencana lain untuk tahun 2018 selain mendapatkan beasiswa, lalu kuliah ke luar negeri. Sekarang, apa yang harus saya lakukan?

Setelah kegagalan tersebut, saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya yang lama. Mencoba mencari peruntungan di tempat lain. Saya sudah masa bodoh dengan apa kata orang, apa kata teman kerja, saya hanya akan memikirkan diri saya sendiri. Semakin dewasa, saya semakin merasa kehilangan harapan untuk mengandalkan orang lain, untuk memikirkan orang lain. Toh juga pada akhirnya sayalah yang akan berjuang untuk diri saya sendiri. Singkat cerita, saya mendapatkan pekerjaan baru dengan manfaat yang lebih besar. Namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kekecewaan saya terhadap diri saya sendiri.

Advertisement

Kecewa karena tidak merasa cukup baik. Kecewa karena mengecewakan orang lain, terutama ibu saya, meskipun ia tidak mengatakan demikian. Kecewa karena mengecewakan diri sendiri. Saya menganggap bahwa selama ini mungkin saya sesumbar, menganggap diri cukup hebat hingga bisa meraih beasiswa yang sulit itu. Ternyata memang kemampuan saya hanya sampai disitu. Selain itu juga saya merasa takut, apa yang akan saya lakukan setelah ini? Apa rencana saya untuk tahun depan? Bekerja, melanjutkan pendidikan, menikah, atau apa? Semua tidak ada yang pasti.

Di tengah segala ketidakpastian, segala kesedihan, saya melihat sekeliling saya. Ada anak-anak yang melihat saya dengan kagum, menganggap saya adalah panutan dalam hidup saya. Anak-anak tersebut adalah murid saya.

Mereka, dengan cerianya tetap mengajak saya bermain, menyuruh saya membacakan cerita, dengan polosnya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya, sungguh mereka tidak tahu apa yang saya rasakan. Tapi di momen itu, saya merasa berharga.

Tiap hari saya naik kendaraan umum online atau mengunjungi kafe-kafe di Jakarta, berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat di Jakarta, juga membuat saya merasa berharga. Melihat bahwa di balik kesedihan, selalu disediakan orang-orang yang dapat menjadi saluran kebahagiaan yang bahkan tidak kita sadari.

"Miss Indri, makasih ya nasi bungkusnya," ucap salah satu office boy di tempat saya bekerja. Di saat itu pula saya merasa, bahwa segala kekecewaan, segala kesedihan, segala kegagalan itu tidak membuat saya serta merta menjadi orang yang tidak berguna.

"Aku maunya gandengan tangan sama Miss Indri."

"Miss Indri tau nggak, cuma Miss Indri yang mau bawa anak-anak ke toilet."

"Where is Indri?"

"Miss Indri, we are very excited to see you tomorrow."

"You know Indri, someone's telling you that you're doing a good job."

"Indri, it all happened because of you."

Sampai pada akhirnya, seseorang mengatakan pada saya;

"Indri, kamu masih muda. Perjalanan kamu masih panjang. Saya memang melihat kekurangan sama kamu, tapi saya juga melihat bahwa kamu orang yang mau belajar. Kamu bisa jadi lebih baik. Kamu bisa jadi yang terbaik. Orang menganggap bahwa pekerjaan yang kamu lakukan itu gampang, tapi sesungguhnya kamu tau, diperlukan orang yang benar-benar tulus untuk bisa melakukan apa yang kita lakukan."

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya