Dia sudah terlanjur pergi, lalu aku harus bagaimana?

Tiga bulan setelah perkenalan……..

Awal cerita dimulai dari saat aku berkenalan dengannya lewat sosial media, perkenalan yang memalukan karena kami belum bertemu secara langsung.

Advertisement

Tetapi beberapa hari setelahnya, dia mengajakku bertemu di tengah jadwal kerja dan kuliahku yang padat. Akhirnya kami bertemu di parkiran kampus setelah aku selesai Ujian Akhir Semester.

Pertemuan yang begitu singkat karena waktu sudah terlalu malam dan aku harus menyelesaikan tugasku di rumah, walaupun dia ingin mengajakku pergi, ku tolak dengan halus.

Waktu itu…… aku selalu mengingat saat pertama kali dia membuatku sakit hati. Dia berjanji akan menemuiku tapi entah pada pagi harinya sikapnya tiba-tiba berubah dan aku tidak tahu kenapa. Tanpa ada kejelasan dan kabar, singkatnya kami tidak jadi bertemu dengan alasannya yang menurutku tidak masuk di akalku, tapi aku menerima dan memaafkanya.

Advertisement

Beberapa waktu kami tidak bertemu dan hanya saling bertukar kabar lewat chat.

Sebelum mengenalnya, aku adalah perempuan yang egois, kekanakan, manja dan perempuan yang tidak sabaran. Tapi dia mengajarkan aku bagaimana rasanya menjadi sabar ketika dia pamit untuk main game, walaupun awalnya sedikit jengkel tapi lama-kelamaan menjadi terbiasa karena normal ketika laki-laki butuh hiburan game, yang penting tidak aneh-aneh.

Dia memang sangat maniak dengan game-nya, bahkan rela mengeluarkan uang berapapun untuk game-nya. Dan ketika diajak ketemu selalu bilang tidak punya uang.

Dapat dihitung dalam tiga bulan kami berkenalan dan dekat, kami hanya bertemu 4 kali.

Dan sekarang, semuanya sudah berubah. Dia yang kuharapkan awalnya, yang ku pikir tidak akan meninggalkanku, yang ku kira tidak akan menyakitiku, berubah menjadi orang lain yang tidak ku kenal. Menjadi orang yang sangat cuek dan tidak peduli denganku lagi.

Awal dia berubah, aku pikir dia cuma ada masalah dan aku memakluminya. Mungkin dia akan kembali seperti semula. Aku benar-benar selalu berusaha ada kalau dia butuh, aku berusaha mempertahankan yang ingin ku pertahankan selagi bisa, walaupun sikapnya terkadang ingin membuatku menyerah.

Ketika aku mulai berpikir untuk meninggalkannya saja, dia selalu datang lagi dan memberi harapan untukku lagi, walaupun setelah itu dia akan meninggalkanku lagi.

Belum genap 48 jam setelah pertemuan kami kemarin, sikapnya sudah benar-benar seperti orang yang mau meninggalkanku, orang yang sudah tidak mau denganku lagi. Tolong……. kalau sudah tidak ingin denganku bicaralah, jangan diam saja seolah-olah tidak ada hati yang kamu sakiti karena sikapmu ini.

Aku akan menyerah kalau kamu memang ingin aku untuk selesai memperjuangkan.

Kalau boleh aku berharap aku ingin bersamamu saja. Tidak ingin yang lainnya lagi.

Tapi setelah ku ingat-ingat lagi, tidak pernah sekali pun dia membahagiakan aku. Setidaknya jangan membuka gadget-nya dan memainkan game saat sedang denganku. Aku memang diam saja, dan malah seolah-olah ingin mengerti apa yang dia mainkan.

Tapi sedikit saja aku ingin kami berdua ngobrol dan dia tetap fokus denganku, bukan gadget-nya.

Bohong kalau aku tidak sakit hati. Bohong kalau aku baik-baik saja. Yang paling berat saat ini adalah bagaimana aku harus memasang topeng setiap saat agar aku terlihat bahagia di depan orang lain.

Kalau aku mengikuti ego ku, rasanya hanya ingin mendoakan yang jelek-jelek untuknya. Rasanya ingin membalas apa yang sudah dia lakukan, tapi aku tidak bisa. Karena aku yakin kuasa Tuhan yang akan melakukannya. Walaupun aku tidak akan tahu kapan itu, tapi karma akan menjalankan tugasnya dengan baik.

Dari aku yang sedang mencoba mengikhlaskan dengan menulis.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya