Pada tahun 1945, Indonesia mendeklarasikan dirinya sebagai negeri Pancasila, namun tidak disangka sampai beberapa tahun kemudian bahwa tidak semua orang berpikiran yang sama.


“Pada tanggal 1 Oktober 1965, PKI menggunakan sumur tua sedalam 12m dan berdiameter 75cm ini untuk mengubur tujuh jenazah pahlawan revolusi.” Itulah yang tertulis di depan sumur tersebut, 53 tahun kemudian. Sumur yang kerap dijuluki “lubang buaya” ini merupakan satu dari sekian lokasi kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).


Advertisement

Bagi kalian yang tidak sepenuhnya mengetahui sejarah dibalik sumur ini dan atau tentang era Partai Komunis Indonesia (PKI), bolehlah mengunjungi obyek wisata Monumen Pancasila, Jakarta Timur. Monumen ini terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Tempat wisata ini dibuka setiap hari pukul 8:00-15:30 WIB, kecuali pada hari Senin. Biaya masuk juga sangat terjangkau dengan Rp. 4.000 untuk umum, dan Rp. 2.500 untuk pelajar/mahasiswa. Akan tetapi khusus untuk setiap tanggal 5 Oktober (HUT TNI) dan tanggal 10 November (Hari Pahlawan), bebas biaya tiket masuk kecuali parkir, serta akan ada juga pemanduan dan pemutaran film. Lumayan kan?

Diresmikan pada tahun 1972 oleh Presiden Soeharto, monumen ini berdiri dan dibangun di lokasi asli pemberontakan PKI pada tahun 1965. Setengah abad yang lalu, areal ini merupakan salah satu markas besar PKI yang paling dikenang. Pada tahun 1965, di tempat yang sama, kalangan komunis negeri (PKI) melaksanakan suatu aksi yang sekarang dijuluki sebagai gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Sebagian besar masyarakat Indonesia pastilah sudah mengenal peristiwa sejarah ini. Dimana tujuh perwira TNI AD, terculik, dibunuh, dan dimasukkan ke dalam sumur tua atau “lubang buaya”. Dimana pada malam itu, hanya satu sasaran yang lolos, dan digantikan dengan kematian putrinya serta letnan tangan kanannya.

Advertisement

Dari kebanyakan wisata sejarah, tempat ini adalah salah satu yang paling kelam dan pada saat bersamaan, paling menarik untuk dikunjungi. Bukan hanya karena letak geografisnya, tapi juga karena pameran yang dikandunginya. Berikut ini merupakan hal-hal yang dapat kalian temui di Monumen Pancasila Sakti.

Museum Pengkhianatan PKI (Komunis)

Seperti judulnya, museum ini mengisahkan mengenai kronologi peristiwa pengkhianatan PKI, dari mulai terdirinya agenda baru, hingga saat menjadi partai terlarang. Di dalamnya kita dapat menemukan kurang lebih 34 diorama yang mengisahkan setiap perselisihan antar PKI dan TNI Indonesia serta tragedi yang ditumpahkannya ke rakyat Indonesia. Bagi kalian yang hanya mengetahui PKI dari kejadian G30S/PKI, inilah kesempatan kalian untuk mengenal lebih dalam.

Karena faktanya, PKI telah melakukan aksi kekerasan dan pemberontakan sejak lama. Semua hal tentang usaha untuk menerapkan sistem pemerintahan komunisme, penculikan pejabat, hingga teror yang dilakukan terhadap rakyat ada di museum ini. Bahkan jika Anda benar-benar memperhatikan, museum ini tidak hanya meliput kekerasan oleh PKI, tetapi dari aparat lokal juga. Pantas saja dibilang Monumen Kesaktian Pancasila, memang benar pada saat itu kelima sila Garuda benar-benar terancam.

Museum Paseban

Berbeda dengan yang lain, museum ini didirikan pada 1 Oktober 1981, pada hari kesaktian Pancasila, dan 16 tahun setelah ditemukannya jasad 7 jendral tersebut. Setelah menjelajahi Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), pengunjung dapat langsung memasuki museum ini yang terhubung oleh jembatan penyebrangan. Barulah di dalam museum ini, dijelaskan secara rinci kronologi kejadian 30 September hingga 1 Oktober tersebut.

Diorama yang memenuhi bangunan ini menggambarkan sisi dari setiap Perwira TNI AD yang menjadi korban, mulai dari saat penculikan, penyiksaan, hingga detik-detik dibuang. Museum ini menggambarkan secara rinci biodata setiap korban, bahkan sampai-sampai menyimpan dan menampilkan baju-baju korban saat mereka dibunuh!

Serambi Penyiksaan


“Pada tanggal 1 Oktober 1965 serambi rumah ini digunakan oleh pemberontak G30S/PKI, sebagai tempat menawan dan menyiksa mayor jendral S. Parman, Mayor Jendral Suprapto, Brigadir Jendral Sutoyo, dan Letnan Satu Pierre Tandean, sebelum mereka dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur.”


Sebagaimana yang tertulis di depannya, diorama life-size ini menunjukkan 4 patung laki-laki dengan baju berlumuran darah karena hasil tertembak. Dengan efek suara dan permainan cahaya, diorama ini telah berhasil menggambarkan suasana pada kejadian aslinya.

Lubang Buaya

Di sebelah serambi penyiksaan, merupakan sumur tua atau “sumur maut” yang dahulu digunakan untuk membuang jasad 7 Jendral besar Indonesia. Sumurnya memang sudah tidak digunakan lagi, tapi Anda tetap dapat melihat secara jelas lubangnya. Terpahat di batu nisannya ialah tulisan, “Tjita2 perdjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pantja-Sila tidak mungkin dipatahkan hanja dengan mengubur kami di dalam sumur ini."

Tugu Monumen Pancasila Sakti

Berhadapan dengan “sumur maut”, tugu ini menunjukkan patung pahlawan revolusi dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17m dan hiasan patung garuda. Berdiri bersebelahan, merupakan ketujuh pahlawan revolusi yaitu: Patung Mayjen TNI Anumerta Soetojo Siswomihardjo, Mayjen TNI Anumerta D.I. Pandjaitan, Letjen TNI Anumerta R. Soeprapto, Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta M.T. Harjono, Letjen TNI Anumerta S. Parman, dan Kapten Czi Anumerta P.A. Tandean.


Di depan tugu tersebut ada tulisan, “Waspada……. dan mawas diri agar peristiwa sematjam ini tidak terulang lagi.”


Pos Komando dan Dapur Umum

Dahulu, kedua bangunan ini merupakan rumah penduduk yang digunakan PKI untuk melancarkan aksi-aksi mereka. Sampai sekarang pun beberapa perabotan asli dari saat itu masih ada.

Monumen ini tidak hanya mendalami kekejaman PKI, namun juga kekerasan aparat dalam menangani PKI, terutama akibat perselisihan tersebut terhadap rakyat. Disinilah dimana Indonesia benar-benar memulai peperangannya. Perlawanan yang memutar balikan seluruh 5 sila yang pada awalnya menjadi pondasi berdirinya negeri Indonesia. Memang sulit untuk menerapkan sistem pemerintahan yang sama pada negara yang beragam suku, tapi apakah kekerasan dan teror benar-benar jawabannya? Tetapi apa boleh buat? Semuanya sudah terjadi, yang tersisa hanyalah perasaan duka dan penyesalan.


Kita semua difitnah dan saudara-saudara kita telah dibunuh, kita diperlakukan secara demikian, tapi jangan kita dendam hati, iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ ala, iman kepada-Nya meneguhkan iman kita, karena Dia perintahkan kita semua berkewajiban untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.” (Cuplikan Pidato Jendral A.H Nasution pada Upacara Keberangkatan Jenazah Tujuh Pahlawan Revolusi di MDAB, 5 Oktober 1965).


Kita mungkin tidak bisa mengubah sejarah, tapi kita bisa mengubah masa depan. Jadikanlah apa yang telah terjadi sebagai pelajaran dan jangan biarkan semuanya mati sia-sia. Kita harus mewujudkan mimpi-mimpi pahlawan kita di masa lampau dan membuat Indonesia yang satu, seperti Pancasila. Maka tidak ada salahnya bukan untuk memperdalam sejarah bangsa?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya