GAMER.
Sewaktu tidur, terkadang kaki kiriku terasa agak nyeri dan sedikit sakit.Ku oleskan saja balsem atau salep pereda nyeri.Memang rasa sakitnya hanya sedikit yang hilang, Namun selidik demi selidik ternyata aku teringat kembali akan masa kecilku yang sempat menyakitkan dan terus kuingat hingga sekarang.Perjalanan hidupku ini memang diwarnai aneka bumbu – bumbu kehidupan salah satunya ditandai dengan adanya “tanda” kebiru – biruan yang tak dapat hilang pada kaki kiriku..

Kenapa?
***
Semua dimulai ketika aku masih kecil.Saat itu aku sedang berjalan – jalan disekitar rumahku.Berputar – putar mengelilingi berbagai tempat yang ada didalamnya seperti dapur, gudang, teras, kamar dan bahkan kamar mandi.Bisa dibilang pada saat aku kecil memang aku tidak bisa diam layaknya seekor nyamuk yang terbang kesana – kemari.Pada waktu itu aku yang masih baru bersekolah di Sekolah Dasar (SD), aku mendapatkan berbagai macam pelajaran dasar yang sama pada umumnya seperti misalnya belajar menghitung, menulis macam – macam kata hingga diajarkan untuk membaca dengan baik dan benar.Lalu di saat itu juga, aku mendapatkan Home Entertainment Game System untuk pertama kalinya bernamakan Sega Genesis.Masih santer terdengar di telingaku sewaktu itu ayahku yang berkata,

“Nih Sega! Coba masukin kasetnya ke sana, terus nyalain.”Ayahku yang baru pulang kerja sambil bersimbah keringat berkata padaku kala itu.”

Dan langsung diwaktu itu pula ku memainkan game yang ternyata tidak kuduga akan menjadi iconic sekaligus menjadi maskot permainan kegemaranku, Sonic The Hedgehog.Dimana terkadang disaat jam pelajaran sedang berlangsung aku teringat akan permainan digital yang sangat adiktif itu, membuat ku mencari teman yang serupa.Dan ternyata bukanlah hal yang sulit, memang ada beberapa orang dikelasku yang turut memiliki game tersebut serta memainkannya dengan cara yang berbeda – beda.

Spontan disela – sela waktu belajar mengajar didalam kelas, aku beserta teman – temanku yang lainnya heboh serta kegirangan membicarakan topik dengan game yang
sama.Ada yang kesulitan saat bermain di tempat ini dan itu, musuh yang agak sulit untuk
dihadapi, hingga kebingungan antar pemain yang selalu hangat dibicarakan mengenai
permainannya pada waktu itu.Aku pun pernah dimarahi guru karena tidak memperhatikan apa yang guruku terangkan dan juga karena nada bicaraku yang terlalu keras.Namun teman – temanku tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan obrolannya denganku.Membuat sekolah semakin asik karena bisa saling sharing pengalaman bermain game, juga game yang kala kumainkan itu pun semakin menarik dan akupun ingin bersaing menjadi yang paling jago diantara mereka.Pinjam – meminjam kaset sampai lupa waktu pun tak terhindarkan karena asiknya bermain video game, baik itu sendiri maupun bersama teman – teman.

Advertisement

Hingga memasuki era tahun – 2000an, lambat laun game yang senantiasa kumainkan dengan feature 16-bit tersebut lama – lama tenggelam sejalan dengan arus teknologi yang berkembang.Dan disaat itu juga aku mendapatkan console video game bernama “playstation.”

***
Aku sedang menempuh pendidikan ditingkat SMP saat dengan video game baru ku yang bernama playstation.Memiliki beberapa keunggulan dibandingkan konsol generasi sebelumnya.Yang terlihat mencolok adalah dizaman yang disaat itu menggunakan Compact Disk (CD), kualitas gambar yang meningkat dan fitur – fitur andalan lainnya.Membuat para kalangan muda termasuk diriku ini terbius akan game – game yang akan membuatku ketagihan.Tempo waktu permainan yang jauh semakin panjang membuatku benar – benar lupa waktu.Semisal game yang kumainkan berjudul Megaman Legends 2, berbulan – bulan aku memainkannya karena permainannya yang sangat mengasyikan.Permainan yang menceritakan kita menjelajah dunia dan berpetualang dengan robot berwarna biru ini secara tidak langsung tepatnya telah membuatku “lupa diri.”

“Lupa?yakin telah lupa diri? Ga inget sama diri sendiri??

PR atau yang lebih dikenal dengan Pekerjaan Rumah ku terbengkalai begitu saja, makan dan mandipun jarang, berkomunikasi satu sama dengan yang lainnya pun apalagi.Saat itu aku sangat fokus dengan waktu permainanku.Kapanpun dan bagaimanapun caranya aku harus bisa untuk menyempatkan diri sekurang – kurangnya 2 jam untuk melanjutkan permainanku.Sekolahku pun hanya menoton begitu – begitu saja disetiap harinya.Aku cuma berpura – pura memperhatikan guru yang sedang menerangkan.Tapi disisi lain setiap tes lisan aku mendapat nilai yang memuaskan.Aku masih ingat nilai sejarahku 85, padahal yang lainnya hanya mendapat nilai yang biasa – biasa saja kisaran 60 atau 75.Sepertinya daya ingatku bertambah.Namun disisi lain, sesuatu hal yang tak pernah aku duga sebelumnya terjadi padaku.

***
Posisi duduk yang kugunakan bila saat bermain game adalah sila (duduk sila).Memang aku menyadari sebelumnya bila kedua kakiku agak pegal – pegal dan nyeri yang amat sangat bila bermain terlalu lama.Efeknya baru akan terasa apabila pergi ke sekolah.Biasanya aku bermain game sampai larut malam lalu setelah itu tertidur.Ketika sedikit demi sedikit mulai beranjak dari tempat tidur rasanya cukup sakit, terasa begitu nyeri dibagian kaki.Waktu sekolah itu terkadang amat menyiksa dengan membawa kedua kakiku yang amat pegal ini.Yang kutunggu hanyalah bel istirahat dan bel pulang saja.Tetap saja meski sesaat terpikir untuk berisitirahat ketika sudah sampai rumah nanti untuk memulihkan keadaan kakiku seperti semula, namun nyatanya aku tetap melanjutkan untuk bermain game lagi pada akhirnya.

Kejadian itu bermula saat aku sedang tengah bermain game.Masih dengan posisi duduk yang sama, tiba – tiba kaki kiriku terasa tidak seperti biasanya.Saat aku mencoba turun tangga ke bawah rumah, tiba – tiba yang aku rasakan kaki kiriku seperti terkilir.aku coba mengisitirahatkan diriku sejenak dengan cara meluruskan kedua kakiku.

Namun ketika aku mencoba kembali kekamarku lagi dengan berjalan menaiki tangga pertama, kakiku dengan sendirinya berbelok ke arah kiri, tertekuk atau “bengkok”.
Sontak aku menjadi perhatian ibu dan ayahku.Rasa perih yang tak terbayangkan saat itu yang membuat aku sendiri bingung entah mengapa bisa terjadi pada kaki kiriku.Sekitar 2 sampai 3 hari kaki kiriku ini membutuhkan perawatan medis.Aku sempat dibawa ke dokter, namun dokter biasa ku menyarankan agar aku dibawa ke spesialis supaya bisa lebih di teliti apa dan bagaimana bisa kaki kiriku menjadi bengkok dan sakit seperti ini.Dan akhirnya aku pun dibawa kesana.

Sesampainya di tempat tujuan, sangat banyak orang yang mengantri.Bahkan beberapa diantaranya masih bersimbah darah dan aku pun terheran – heran mengapa orang – orang disini mau mengantri padahal tempatnya saja seperti rumah biasa pada umumnya.Akupun sempat bertanya pada ibuku mengenai tempat yang banyak orang kunjungi ini.Ternyata aku bukan dibawa ke dokter spesialis, melainkan tabib.Lama mengantri dan tibalah giliranku masuk ke kamar yang terlihat ada noda serta bercak darah di mana – mana, mengerikan memang.

Pertama – tama, tabib menanyakan apa yang kurasakan dan tentunya bertanya kenapa bisa sampai seperti ini.Dengan spontan tabib tersebut tiba – tiba mengulurkan tangannya pada kaki kiriku dan dengan metode penyembuhan yang sama sekali tidak aku bayangkan sebelumnya, tabib itu dengan tanganya yang kasar “membengkokan” kakiku ke arah sebaliknya agar menjadi normal kembali.Sontak aku merasa kesakitan yang teramat sangat dan juga berteriak kencang membuat seisi ruangan serta orang – orang yang berada disekitar tempat tersebut kaget.Setelah di bengkokan, kaki kiri tersebut diberi perban serta kayu untuk mengganjal kakinya agar tidak tertekuk lagi.Sambil memanjatkan doa – doa dengan ayat sucinya, tabib tersebut menyarankan diriku untuk beristirahat penuh sesampainya dirumah nanti supaya kondisiku bisa pulih secepatnya.

Sesudah diobati, tabib yang berbicara dengan nada rendah hati pun hanya tersenyum sambil terdiam.Sama sekali tidak meminta bayaran apapun.

”Jadi berapa pak semuanya?”ibuku yang bertanya sambil tersenyum.”Dan dengan jawabannya yang menurutku agak aneh tabib itu menjawab,

“Seikhlasnya saja…”

Ibuku pun memberi amplop berisi uang yang aku tak tahu – menahu berapa isinya.Setelah keluar dari ruangan pasien dan izin pamit dari tabib, kamipun pulang dengan tentunya harapan kondisiku bisa terus membaik.

***
Sesampainya dirumah, aku langsung beristirahat dan tetap melanjutkan berbagai macam aktivitasku seperti biasa, termasuk sekolah.Disekolah inilah tantangan baru muncul.Kaki kiriku tidak bisa digerakan dan terasa amat sakit, aku berjalan dengan alat bantu tongkat layaknya orang pincang pada saat itu.Teman – teman kadang ada yang datang membantuku untuk berjalan.Sekolahku yang memiliki 3 lantai menjadi tantangan tersendiri waktu itu, berjalan menjadi sangat lelah untuk naik dan turun.Kebetulan kelasku berada di lantai 3 tepatnya berada di ujung lorong, belum lagi aku memiliki penyakit asma
yang saat itu pernah kambuh disaat aku pincang.Panik memang, namun itu semua berakhir dalam kurun waktu 1 bulan.Sedikit demi sedikit secara perlahan kakiku mulai bisa digerakan…

Meski sudah menempuh pendidikan SMA dan hingga saat ini aku kuliah, kebiasaan ku bermain game tidak bisa kupungkiri lagi memang banyak menghabiskan banyak waktu.Teringat dari pelajaran yang dapat ku petik dari sini bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak lah baik, aku pun dapat mengurangi jam bermain game ku sedikit demi sedikit.Dan sampai sekarang terkadang pengalamanku yang dulunya sempat menjadi “freak gamer” di masa SMP tersebut menjadi pengalaman yang benar – benar tak dapat kulupakan.
Seperti pepatah yang banyak orang tua katakan “segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik” memang ada benarnya.Kuakui memang pada saat aku tergila – gila akan permainan yang dimana orang tuaku sempat mengatakan hal seperti itu, namun aku tidak menghiraukan perkataanya.Cukup yang kukatakan pada kala itu hanya iya dan iya saja sambil menganggukan kepalaku.Dimana semua mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing – masing, juga segala hal yang berlebihan itu memang nyatanya tidak baik.

Karena “Pengalaman adalah guru yang terbaik.”

Apa yang kamu tanam akan kamu petik buahnya pada nantinya.

Sampai sekarang aku tetap mencoba introspeksi diri agar tidak terjadi hal yang tak kuinginkan kembali terjadi lagi. Penjelajahan ke dalam diri sendiri ini ternyata membawa banyak makna yang tak terduga.Juga tentunya selalu mengingatkan agar lebih “mawas” diri.***