Sebagai mahasiswa, kalimat bahwa mahasiswa tidak bisa terlepas dari kuliah dan organisasi mungkin sudah sering terdengar. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya tokoh pergerakan yang lahir dari aksi mahasiswa. Karena manfaat berorganisasi saat mahasiswa tidak perlu dipertanyakan lagi dalam meningkatkan potensi diri. Tapi jika ada pilihan lain selain berorganisasi yang dapat meningkatkan potensi diri sekaligus etos kerja, maka jawabannya adalah berwirausaha.

Pernah suatu saat dimana penulis berkesempatan menjadi narasumber di gathering CEDS UI (sebuah unit kegiatan mahasiswa bergerak dalam pengembangan kewirausahaan di UI) untuk berbagi mengenai wirausaha, ada pertanyaan yang diajukan ke penulis mengenai apa motivasi menjadi pengusaha saat masa kuliah.

Wirausaha pada masa kuliah adalah bukan untuk "gaya-gayaan" atau dengan bangga menyebutkan "nih saya mahasiswa entrepreneur!". Bukan, bukan itu. Juga ada hal yang lebih berarti daripada sekedar mencari profit dari hasil wirausaha.

Menerjunkan diri dalam wirausaha saat menjadi mahasiswa dari proses pengalaman yang penulis lakukan sangat banyak sekali manfaatnya jika dibandingkan dengan hal negatifnya.

Apapun cita-citamu setelah lulus kuliah nanti seperti melanjutkan jenjang pendidikan, bekerja, maupun membuat perusahaan, berwirausaha saat masa kuliah merupakan wadah yang tepat untuk melatih potensi diri dan melatih etos kerjamu sejak dini apalagi jika masih duduk di semester-semester awal.

Advertisement

1. Melatih Memanfaatkan Momentum (Opportunity and Momentum)

Terjun ke dalam dunia usaha akan melatih kepribadian diri untuk memanfaatkan kesempatan, waktu, dan momentum yang ada. Momen dapat diartikan juga sebagai peluang yang jarang disadari oleh kebanyakan orang. Seperti bagaimana menyediakan produk dan jasa di saat keterbatasan menjadi mahasiswa.

Ketika memulai berwirausaha maka kesempatan mendapatkan momentum akan lebih besar daripada mahasiswa yang pasif. Agar mendapatkan momen yang pas, mahasiswa dianjurkan untuk membaca peluang dari media masa, jurnal ilmiah, dan tren sosial. Otak kita dituntut untuk menjadi kreatif dan akan menyadari betapa berharganya setiap waktu yang dijalani. No more galau, literally!

2. Melatih Inovasi dan Berpikir Strategis (Innovation and Strategic Thinking)

Berinovasi adalah syarat untuk menjadi tetap muda. Mengapa? Karena saat proses melakukan inovasi pikiran akan terbawa untuk kritis memikirakan hal-hal baru yang dapat bermanfaat bagi orang-orang sekitar. Dimulai dengan pertanyaan, "Produk atau jasa apa yang dapat saya hasilkan? Sejauh apa kemampuan saya untuk memghasilkan produk tersebut? Apa resource yang saya miliki?"

Selain realisasi, inovasi juga dapat berbentuk ide. Namun level yang paling berpengaruh adalah saat merealisasikan atau mengimplementasikan ide-ide tersebut.

Tapi perlu dipertimbangkan juga dalam memulai inovasi. Pasalnya, pada riset terbaru dijelaskan bahwa 80% kegagalan startup (usaha rintisan) adalah karena tidak mampu membuat inovasi yang sesuai dengan permintaan pasar. Berpikir strategis dan analisis akan membantu dalam menemukan inovasi yang terbaik.

3. Melatih Tanggungjawab dan Pengendalian Emosi (Responsibility for Emotional Intelligence)

Bagi yang pernah ikut acara motivasi wirausaha, seringkali disuguhkan enaknya jadi pengusaha, digambarkan dengan berbagai kenyamanan. Dengan gambaran financial freedom akan terjadi saat menjadi pengusaha. Statemen tersebut tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Pada realitanya, banyak sisi tertatih dalam suka cita, duka, pengorbanan proses wirausaha yang tidak diceritakan.

Struggling process ini yang mungkin akan dialami oleh pengusaha pemula apalagi sebagai mahasiswa yang masih menjalankan proses akademis. Istilah populernya adalah hustling dan konsistensi adalah kuncinya.

Dalam fase ini, emosi dan tanggung jawab akan diuji dengan mereprensentasikan bagaimana kita bertindak dan mengambil keputusan yang berdampak pada aspek bisnis dan akademis.

Performa menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu sekaligus hasil yang baik dibarengi oleh dealing dengan deadline yang tak terkira, seringkali hingga waktu tidur yang kurang, dan mengorbankan waktu bersenang-senang. Jika bisa melewati fase ini maka selamat, kamu bisa mempertanggung jawabkan pilihamu!

4. Melatih Berkomunikasi Antar Kerjasama Tim dan Konsumen (Communication Advance)

Proses berkomunikasi dalam berwirausaha sangat banyak dilakukan, bahkan hampir setiap saat. Bagaimana melakukan koordinasi dengan tim, menghandle keluhan konsumen, menanggapi permintaan-penawaran, dan memimpin rapat koordinasi dengan tim.

Karena apapun profesimu nanti, bekal komunikasi akan dipakai kapanpun di masa depanmu. Jangan khawatir jika kamu merasa sebagai tipe orang yang introvert saat ini, karena berkomunikasi adalah ilmu yang dapat dilatih.

5. Melatih Memiliki Pengaruh (Bargaining Position)

Dengan kemampuan menyediakan barang atau jasa yang dimiliki oleh bisnismu nanti, maka secara tidak sadar dan perlahan-lahan kamu akan berusaha untuk mempengaruhi orang lain (tentunya pengaruh positif).

Jika bisnis yang dikembangkan sudah dikenal oleh banyak orang dan memiliki penjualan yang tinggi, maka pengaruh kamu terhadap lingkungan bisa lebih besar, misal dengan membangun program sosial kewirausahaan atau menjadi narasumber seminar kewirausahaan.

6. Melatih Profesionalisme dalam Korespondensi (Correspondence and Records Management)

Proses penyusunan administrasi yang efisien dan efektif akan diperlukan dimanapun dan kapanpun. Jika terjun ke dalam wirausaha, maka kamu akan dilatih untuk dapat menyusun dokumen dan membuat laporan dengan rapih. Laporan keuangan, pajak, produksi, pemasaran, penggajian, dsb.

Tentunya dokumen dan berkas memiliki konten, proses surat menyurat akan membutuhkan juga penyusunan kosa kata dan konten yang baik. Kemampuan tersebut akan selalu digunakan, termasuk dalam dunia kerja profesional.

7. Melatih Kesepakatan (Dealing)

Jika usaha yang dirintis memiliki value inovasi yang masih sedikit kompetitornya, pasar akan mudah menggantungkan kepada bisnis yang kamu rintis.

Saat meeting dengan calon pelanggan misalnya, dirimu akan memposisikan agar produk kita dibeli olehnya. Misal dengan cara menjelaskan keunggulan produk, cara produksi, pemilihan bahan baku, dan latar belakang tim yang membuat mereka berpikir untuk membeli produkmu.

Biasanya dalam berbisnis akan ada proses penawaran dari calon pelanggan. Kesempatan tersebut dapat dipakai untuk melatih merangkai strategi dan pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak tawaran tersebut yang merujuk pada faktor kapasitas produksi atau kemampuan usahamu.

8. Melatih Berkompetisi dan Manajemen Risiko (Competition and Risk Management)

Saat membuka usaha di masa-masa kuliah, kesempatan mengikuti lomba dan konferensi bertemakan wirausaha lokal maupun internasional akan sangat besar.

Dengan mengikutkan diri untuk merintis usaha, kamu juga dapat mengikuti lebih banyak kesempatan. Seperti inkubasi atau pendampingan usaha yang dilakukan oleh kampus. Misalnya UI memiliki Direktorat Inkubasi dan Inovasi Bisnis (DIIB UI). Juga sekarang banyak program pendampingan usaha UKM dan startup teknologi di luar sana yang dapat mahasiswa ikuti.

Keunggulan lainnya adalah usaha yang dibuka bisa diikutkan ke dalam pekan ilmiah mahasiswa, tentunya tidak harus mencari ide dari awal lagi.

9. Akses Kemahasiswaan, Profesional, dan Pemerintahan (Network Access)

Dengan merintis usaha saat kuliah, akses memasuki dunia profesional akan semakin terbuka lebar karena kebutuhan pasar dari swasta hingga pemerintahan dapat kamu coba tawarkan.

Dengan mendapatkan akses penjualan atau proyek ke dalam instansi, maka siapa tahu bisa mendapatkan relasi indirect yang dibutuhkan dikemudian hari, seperti pada saat pasca kampus.

Sebagai pengusaha wannabe, cobalah bergabung dengan asosiasi pengusaha seperti HIPMI, TDA, hingga KADIN. Hal ini akan membawakan kamu banyak manfaat dalam akses jaringan usaha dan silaturahim.

10. Melengkapi Kebutuhan secara Mandiri (Self-Needs)

Berapapun kiriman bulanan untuk melengkapi kebutuhanmu, merintis usaha saat kuliah dapat memenuhi tambahan kebutuhan atau bahkan keinginanmu tanpa membebankan orang tuamu atau si penanggung biaya. Membeli aset usaha, gadget terbaru, bahkan hadiah untuk orang tua dapat kau wujudkan. Hasil dari berwirausaha juga dapat kamu jadikan sebagai tabungan atau investasi pasca kampus.

11. Mendekatkan Diri Ke Yang Maha Kuasa

Ketidakpastian dalam proses berwirausaha memang sangat tinggi. Kita tidak akan pernah tahu yang akan terjadi di masa depan dengan karya dan kemampuan yang sudah kita jalankan.

Pada akhirnya kedekatan dan sandaran kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa akan lebih meringankan beban yang akan atau sedang kita dihadapi.