Setelah berjuang menyelesaikan skripsi sampai titik keringat penghabisan, akhirnya gelar itu tersemat juga dibelakang nama kamu. Iya, gelar sarjana yang udah susah payah kamu dapetin. Dan akhirnya ijazah dengan foto kamu yang tersenyum bangga pun akhirnya berpindah dari tangan rektor ke kamu. Orang tuamu pun ikut bangga dengan pencapaian kamu ini. Eits, tapi tunggu dulu. Semua euforia kebahagiaan itu dalam beberapa hari setelah wisuda pun mulai meredup. Dan gerbang besar dengan tulisan welcome to the real world pun terpampang di depan mu.

Ya, sekarang kamu mulai memasuki dunia nyata. Bukan lagi dunia kampus dengan segala kesibukan tugas dan kegiatannya. Tapi ini lah dunia sesungguhnya yang akan membuktikan hasil perjuangan kamu selama mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Maka dimulailah perjuangan kamu untuk melamar pekerjaan di berbagai perusahaan. Sudah berlembar-lembar daftar riwayat hidup atau bahasa kerennya curriculum vitae kamu kirimkan ke bagian HRD perusahaan. Namun sayangnya, tidak satupun dari perusahaan itu menghubungimu untuk sesi interview. Mungkin artikel ini bisa mewakili apa yang kamu rasain ketika tak satupun panggilan interview menghampirimu.

1. Kamu bakal merasa ada yang salah sama CV kamu

Yang paling mungkin pertama kali kamu pikirkan adalah : "Apa yang salah sama CV gue?". Dan kamu pun mulai punya niat untuk kepo CV teman-teman kamu yang udah bekerja ataupun cari-cari tips membuat CV yang baik di internet. Dari sana kamu membandingkan CV kamu dengan CV orang lain dan merasa CV kamu kurang keren, mulai dari isi, layout, sampai pose foto di CV pun kamu bandingkan.

2. Kamu mulai melamar pekerjaan secara abstrak

Awalnya kamu masih terbawa idealisme saat masih kuliah : "Gue pengen kerja sesuai jurusan gue". Tapi ketika udah nunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kamu belum juga dihubungi pihak perusahaan, maka kamu akan mulai berpikir : "Gue kerja apa aja deh, yang penting ada yang nerima gue". Dan akhirnya kamu pun melamar pekerjaan yang menerima semua jurusan alias all mayor, walaupun kamu sendiri nggak ngerti sama bidang pekerjaan itu.

3. Kamu mencari-cari lowongan dengan kesempatan walk in interview

Setelah memperbaiki CV dan melamar kerja abstrak, kini kamu mencoba peruntungan dengan kesempatan walk in interview. Apa itu? Bukan, bukan kamu disuruh interview sambil jalan ya, tenang aja. Maksudnya ini proses interview yang dilakukan langsung saat kamu menyerahkan CV langsung kepada HR perusahaan. Jadi, kamu ga perlu nungguin perusahaan menghubungi kamu duluan. Tapi sayangnya, sekarang tidak terlalu banyak perusahaan yang membuka kesempatan walk in interview kayak jaman ayah kamu melamar kerja dulu.

4. Kamu mulai (dan makin) sering dihubungi oleh orang tua : "Sudah dapat panggilan kerja belum, nak?"

Advertisement

Ini nih, ini. Yang bikin kamu pengen mewek segera mendapatkan pekerjaan. Orang tua. Iya, kedua orang tuamu yang udah berjuang menyekolahkan kamu sampai perguruan tinggi dan lulus. Pastinya kamu juga ingin membanggakan dan tidak merepotkan mereka lagi kan? Dan kamu pun menjawab dengan bijak : "Belum Yah, belum rejeki".

5. Dan kamu pun akhirnya mencoba peruntungan lain : menjalankan usaha sendiri

Kamu mulai berpikir kalau rejeki kamu mungkin bukan menjadi karyawan, tapi menjadi pengusaha. Disini lah kamu bakal banyak mencari-cari lowongan dan ide usaha yang bisa kamu lakukan sendiri ataupun bareng teman-teman kamu yang senasib. Mulai dari buka online shop, jualan di pasar kaget, buka usaha makanan kecil, dan lain sebagainya.

Nah, mungkin itu sebagian besar yang bakal kamu rasain saat panggilan kerja belum juga menghampiri. Tapi tenang aja, tiap usaha pasti bakal dapat balesannya. Mungkin sekarang kamu belum merasakannya langsung, tapi setiap orang ada rezekinya masing-masing kok 🙂

Semangat!!!