Kadang terpikir nggak sih, kalau semua yang ada di bumi ini, bukan sekedar ornamen yang nggak artinya? Ya, pasti semuanya punya makna; semuanya punya energi. Hukum tarik menarik mengatakan bahwa segala sesuatu yang berenergi akan selalu membentuk suatu kesatuan ‘’kemiripan menarik kemiripan.’’

Dan, hukum tarik menarik ini juga berlaku dalam tubuh kita. Hukum ini beroperasi pada pikiran karena pikiran juga merupakan energi. Jadi jangan anggap sepele dengan ‘’kekuatan pikiran.’’ Sugesti yang otak kita ciptakan bisa menentukan apa yang akan terjadi. Contohnya: ‘’Aku akan mabuk dalam perjalanan kali ini’’, kemudian kamu betulan muntah-muntah selama perjalanan.

Advertisement

Percaya atau tidak, semuanya berpusat dari kekuatan pikiran. Maka tak salah jika muncul suatu pernyataan yang mengatakan ‘’Hati yang gembira adalah obat yang manjur’’. Kebagaian hati adalah produk dari pikirian kita yang selalu berpikir baik. Kalian pasti pernah dengar kan, cerita orang tua yang bisa langsung sehat karena kumpul bareng keluarga, ketemu cucu, ketemu anaknya yang lama merantau dan lain-lain.

Contohnya aja nih, ada seperti seorang kakek-kakek terkena stroke bertahun-tahun, dokter menganjurkan supaya tidak keluar rumah dan hanya boleh makan makanan tertentu, tapi kemudian keadaannya membaik karena bertemu dengan cucu-cucunya, bibirnya mulai sedikit tersenyum karena perasaannya yang gembira.

Kamu sendiri sebagai mahasiswa/i rantauan yang hidup pas-pasan, mungkin pernah ngerasaiin ini, kamu bisa ketawa bahagia padahal cuma makan nasi kucing, hemat-hematin paket internet, kurangin jajan di koperasi kampus, kurangin rorok dan segala macam aksi penghematan lainya padahal kalau mau dibikin mellow dan selalu lihat ke atas ya, sakjane mesake banget hidup dalam keterbatasan.

Advertisement

Tapi kamu masih bisa santai ketawa dan menjadikannya sebagai bahan candaan sama teman-teman. Secara tidak sadar kita tahu bahwa kunci kebagaian itu sendiri adalah: bersyukur. Kita sadar kalau kesulitan yang dialami saat ini merupakan proses menuju kesuksesan.

Iya, syukur!

Jangan buru-buru membantah karena kamu merasa hidupmu lagi suram banget dan gak ada yang perlu disyukuri. ‘’Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain.’’ .’’Masalahku berat, kamu ga bakal paham.’’ .’’Gimana, mau bersyukur kalau emag ga ada yang perlu di syukurin, hidupku kelam..udahlah kamu ga bakal paham’’. ‘’Aku punya masalah keluarga, aku banyak masalah pokoknya.’’

Tenang, tenang. Coba deh, duduk santai dan ingat-ingat lagi waktu kita masih kecil, waktu kita belum tahu banyak hal mengenai apa saja yang ada di sekliling kita. Rasanya gembira banget, pas dengar mamang es krim lewat, lihat kupu-kupu terbang, kita juga terheran-heran waktu gigi kita mulai copot, excited tiap lewat pasar malam. Betapa istimewanya hidup ketika kita masih takjub melihat apa yang mengitari kita.

Tapi sayangnya, seiring berjalanannya waktu kadar syukur kita berkurang. Nggak ada yang istimewa lagi, waktu kita lihat kupu-kupu, nggak ada yang menarik dari suara-suara pedagang kaki lima yang ramai di jalanan. Kesibukan, ambisi-ambisi kita membuat kita lupa bahwa kita hidup di dalam dunia yang menakjubkan!

Coba kamu ambil kertas dan pulpen terus list deh, "daftar kebagaianmu" mulai dari matahari yang bikin jemuran cepat kering, pak satpam yang selalu mengucapkan selamat pagi, motor yang memperlambat jalannya pas kamu nyebrang, teman yang minjemin kamu pulpen dan lain-lain.

Ingat, hukum energi : "kemiripan menarik kemiripan!", dan pikirian adalah energi juga. Jadi, kalau pikirianmu bahagia, yang kamu tuai adalah kebagaiaan itu sendiri. Sebaliknya, kalau kamu kerjanya ngeluh doang, otomatis yang ditarik pasti yang suram-suram.

Coba ingat, hari ini kamu udah merasakan apa aja? Kira-kira masih layak nggak buat mengeluh?

Jadi, jangan lupa bahagia! Karena hidup ini terlalu rugi jika dilewatkan tanpa senyum dan tawa 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya