Teruntukmu hati yang telah lama aku paksakan. Mari kita mengambil beberapa saat, sejenak untuk sama-sama berbincang. Untuk menelusuri apa yang kita lewati selama ini.

Teruntukmu hati yang telah lama tak ku kunjungi, mari kita saling bertanya apakah yang telah terjadi antara kita beberapa waktu terakhir.

Advertisement

Hai, hati. Apa kabar?

Untuk kesekian kali nya aku minta, mari kita berdamai dengan segala perubahan yang ada. Semoga kau dan aku bisa terlatih untuk bisa bertahan pada segala sakit yang lebih pilu dari sakit sebelumnya. Terlatih untuk bisa lebih sabar, terlatih untuk bisa lebih ikhlas.

Mari kita membuka cerita baru, dengan bercermin pada cerita lama, agar tak lagi kita rasakan sakit yang sama diwaktu berikutnya.

Advertisement

Kita tidaklah kalah sebelumnya, hanya saja kita belum menemukan cara untuk merasakan menang.

Kita juga tidak terabaikan sebelumnya, hanya saja kita lupa caranya menghargai diri sendiri, dan terlalu berharap mendapat penghargaan dari orang lain.

Hati, apa kau tau?

Waktu telah banyak berganti. Telah banyak yang terjadi, dan waktu juga telah mengantarkan kita sampai pada saat sekarang ini. Saat dimana semuanya mungkin saja terjadi. Saat dimana kita merasakan apa yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.

Hati, apa kau telah siap?

Kita akan mengahadapi hal yang terbaik bahkan hal yang terburuk. Kita akan dipaksa mengetahui apa yang sebenarnya tidak ingin kita ketahui. Kita akan dipaksa untuk memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan, bahkan kita akan dipaksa untuk merasakan apa yang sebenarnya tidak ingin kita rasakan.

Hati, apakah kita mampu bersabar? Apakah kita mampu untuk ikhlas? Atau mampukah kita untuk bertahan?

Sementara waktu tidak mampu untuk menunggu kita, waktu tak kan melihat seberapa lelah kita mencoba untuk belajar sabar atau ikhlas.

Karna waktu selalu menuntut kita untuk bisa berjalan seiring dengannya.

Lelah? Tentu kita akan kelelahan hati, karna sebelumnya kita telah terbuai dengan angan kita sendiri sehingga kita belum terbiasa untuk berpacu dengan apapun bahkan tidak berpacu dengan waktu.

Menyerah? Sungguh… Sangat ingin aku menyerah, bahkan sangat ingin aku menyuruh untuk berhenti mengejar semuanya, sangat ingin aku menyuruh untuk berhenti memahami semua.

Jika saja kita berada diujung takdir kita, tentu aku tidak akan meminta mu. Tapi Tuhan memberi kita kesempatan untuk tetap bertemu waktu dan tetap mengikuti jalannya. Tentu kita tidak bisa menyerah atas apa yang sudah Tuhan berikan untuk kita bukan?

Hati.

Mari kita berdamai.

Berdamai dengan keadaan yang ada, berdamai dengan kenyataan dan mari kita berdamai dengan waktu.

Waktu tidak akan menunggu kita, tapi kita lah yang harus berusaha mengikuti jalannya.

Iya hati, kita yang harus mampu berdampingan dengan waktu.

Teruntuk mu hati. Tetaplah kuat, bahkan pada saat terburuk sekalipun.

Teruntuk mu hati. Tenanglah, tetap tenang jika suatu saat logika tidak menemukan jalan untuk ku. Dan ingatkan aku untuk tetap mengunjungi mu, walau hanya sekedar berbincang-bincang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya