Tak dapat di pungkiri kemacetan merupakan salah satu masalah akut yang selalu dialami oleh masyarakat kota, salah satunya yaitu kota Jogja. Jalanan yang semula lenggang perlahan berubah menjadi arena macet dengan ribuan kendaraan terlibat didalamnya. Motor dan mobil seolah menjadi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Opini masyarakat dengan gaya hidup hedonis menganggap bahwa tidak lengkap rasanya bila tidak menyimpan salah satu kendaraan roda dua atau roda empat ini dirumahnya. Pertumbuhan kendaraan saat ini sangat melonjak tinggi dan tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan yang cenderung stagnan tiap tahunnya.

Yogyakarta merupakan kota pelajar dengan limpahan pelajar dari berbagai pelosok nusantara yang berusaha mendapat gelar pendidikan setinggi tingginya. Tipikal jalanan Jogja yang pendek karena baru melaju sebentar sudah ada “siwarna warni” dan masalah yang paling akut adalah ruas jalan yang dijadikan arena parkir

Advertisement

Jika membayangkan luas jalan yang ada dikota dengan daerah pedesaan tentunya kita berpikir bahwa jalan perkotaan akan lebih luas. Ya, anggapan itu memang benar namun setelah dijalani akan lebih terasa bahwa jalanan di pedesaan terasa lebih luas dari jalan dikota. Fenomena yang terjadi saat ini adalah jalanan di kota Jogja yang luas namun yang bisa digunakan hanya sebagian jalan saja. dimana setengah jalanan ini digunakan untuk arena parkir  

Pemerintah kota Yogyakarta melakukan proyek perluasan jalan supaya mengurangi kemacetan yang ada terutama pada saat pagi dan sore hari saat masyarakat disekitar memulai dan mengakhiri aktivitasnya. Namun jalanan yang semakin lebar seolah tak memberikan dampak positif apapun terhadap pengguna jalan terutama para pengguna sepeda motor. Mereka harus bersaing dengan asap hitam bis bis yang tak mau tau dengan orang-orang yang ada disekitarnya.

Coba saja anda lihat dijalan Kusumanegara pada sore dan malam hari pengguna sepeda motor dan mobil harus beringsut sedikit demi sedikit untuk melewati jalan yang sebenarnya cukup luas namun terasa sempit. Hal ini disebabkan karena area parkir yang memakan badan jalan. Terbatasnya lahan parkir membuat bahu jalan dijadikan kantong parkir. Fenemona ini juga bisa ditemui di pinggir jalan Solo (Urip Sumoharjo) dan Selokan Mataram disana kita bisa melihat ratusan kendaraan berjejer rapi.

Advertisement

Bagaimana masyarakat Jogja ingin nyaman jika jalanan saja direbut oleh orang orang yang tak bertanggung jawab. Kenyamanan warga bukan hanya pada hiasan seni yang ada ditepi jalan namun juga keluasan saat berkendara. Kesadaran semua pihak sangat diperlukan dalam hal ini terutama pada pengguna kendaraan “santai” yang parkir diruas jalan. Pemerintah Kota Yogyakarta juga harus bertindak tegas  dan memberikan sanksi yang sesuai kepada pengguna kendaraan yang parkir diruas jalan. Karena jalan raya adalah milik umum bukan milik pribadi.

Jika tidak, jalan luas yang ada dikota Jogja tidak akan pernah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat yang menggunakan kendaraannya. Karena seluas apapun jalannya jika tidak ada rasa kebersamaan dan peduli kepada sesama pengguna jalan maka jalanan di Jogja akan tetap terasa sempit walau seluas apapun jalannya. Semoga hal itu tidak akan terjadi lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya