Belakangan ini mata saya digugah saat membaca berbagai tulisan di media sosial, yang intinya mengatakan bahwa "rokok tidak berbahaya". Dalam tulisan-tulisan tersebut juga menyiratkan bahwa akumulasi tindakan kapitalis yang ingin menstagnankan (mematikan) industri rokok produk lokal lah, yang menjadi dalang disuarakannya berbagai kampanye bahaya rokok.

Hmm cukup menarik, di sini telah terjadi perlawanan logika antara akademisi dengan idealisme mereka dengan industri rokok raksasa. Begini, setelah 1950 sebenarnya industri rokok telah berhasil menahkodai sektoral pemerintahan, sehingga propaganda rokok bisa dibilang berhasil pada masa itu. Kita boleh melihat semua elemen, mulai dari dokter, cendikiawan, pihak pembuat kebijakan hampir semuanya merokok pada masa itu. Rokok boleh dibilang mengalami masa kejayaannya pada masa itu, bahkan bung Karno pun menjadikan rokok sebagai pelengkap setelah makan.

Tidak ada yang salah di sini, merokok atau tidak sebenarnya merupakan urusan personal masing-masing. Selagi masih dapat membelinya kenapa tidak? Sampai pada era 80-90-an, WHO mulai mengumumkan bahwa rokok dapat mengganggu metabolisme tubuh serta dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Lembaga ini juga mengumumkan proyeksi berbagai jenis racun yang ada di satu batang rokok (lihat di puskesmas). Menurut kalian apa ini berlebihan? Saya rasa tidak.

Well, saya akan jelaskan menurut hemat saya saja. Saya juga bukan orang yang pandai berargumen ataupun menulis. Baik kita mulai saja. Pertama, saya pernah berbincang tentang seorang kakek yang berumur 70/80 tahunan, yang divonis mengidap penyakit kanker paru-paru karena merokok. Ia merokok sejak masih remaja, dan sebelum divonis ia mengaku hanya mengkonsumsi rokok jenis kretek buatan lokal. Yang bisa ia terima hanya penyesalan seumur hidupnya. Ia mengaku tidak pernah beraktivitas berat, tidak pernah mengkonsumsi alkohol, tidak suka keluar malam-malam (yang dituding sebagai penyebab kanker paru" selain rokok), tidak makan sembarangan, dan memiliki pola makan yang teratur. Sehari frekuensi merokoknya tidak sampai satu bungkus (satu bungkus hanya berisi 12 batang).

Apa yang salah di sini? Tentu saja aktivitas merokok si kakek. Ini memperlihatkan bahwa wacana "rokok kretek tidak berbahaya" yang viral di medsos terlalu over-claimed dan belum tentu benar. Kedua, apakah setiap orang menyenangi atau bisa mencium asap rokok? Belum tentu. Bahkan teman terdekat saya pun ketika ia tertidur dan ada yang merokok di sebelahnya, ia langsung terjaga dan batuk. Ini memperlihatkan bahwa individu tertentu memiliki alam bawah sadar yang tidak menyenangi rokok. Batuk adalah respon mekanisme pertahanan tubuh terhadap ancaman, virus dan penyakit (baca wikipedia: batuk). Berarti asap rokok ini adalah ancaman bagi tubuh yang sadar ataupun tidak.

Ketiga, beberapa rekan yang sudah mantap memberhentikan kebiasaan merokoknya, merasakan perbedaan yang jauh lebih baik. Nafas mereka menjadi lebih panjang (bagi teman yang olahragwan). Konsentrasi mereka lebih baik ketimbang sewaktu mereka merokok, mereka mengaku saat masih menjadi perokok konsentrasi mereka tampaknya seperti dipaksakan. Mereka harus merokok terlebih dahulu baru bisa berkonsentrasi, padahal tidak semua tempat memperbolehkan merokok. Saat mereka merokok, mereka juga merasakan bahwa ketika ada materi yang sulit mereka tangkap dalam otaknya, biasanya tangan mereka berkeringat, tubuh menjadi lemas.

Setelah mereka berhenti merokok badan mereka pun menjadi lebih gendut dan tidak sering terserang penyakit. Mereka juga tidak pernah mengalami sesak napas setelah berhenti merokok. Ini memperlihatkan ada pengalaman orang tertentu yang merasa berhenti merokok adalah alternatif menjadi lebih baik. Saya rasa orang yang menulis artikel yang mendukung rokok luput dari testimoni orang" yang merasakan manfaat berhenti merokok.

Keempat, taukah anda bahwa pemerintah Thailand menganggarkan lebih dari 20% dana anggarannya untuk memangkas angka perokok di negaranya? Dan secara simultan pihak pembuat kebijakan di sana juga gencar membuat film pendek yg mengkampanyekan "anti rokok". Maaf jika agak panjang, sedikitnya ada 12 produk rokok lokal di Thailand yang diproduksi oleh rakyatnya sendiri. 12 rokok lokal itu begitu digemari oleh kelas pekerja dan penikmat rokok di negara tersebut. Namun, ketika pemerintah melihat situasi dimana potensi kerugian negara yang bocor pada sektor kesehatan dan sektor perekonomian, akibat semakin banyaknya perokok yang menderita sakit kronis tentu menjadi beban negara.

Apalagi ketika si penderita memanfaatkan asuransi kesehatan negara dalam proses penyembuhannya. Di sini saya melihat bahwa, pemerintah Thailand menerapkan standar ganda dalam memerintah. Di satu sisi ia sadar bahwa ekonomi kerakyatan di sana juga hidup dari industri rokok, itu sebannya ia tidak membekukan (melikuidasi) pabrik rokok di sana. Di sisi lain ia juga merasa bahwa rokok membunuh rakyatnya perlahan tapi pasti. Taukah anda sosok yang sering ada di kemasan rokok yang katanya berwajah ganteng itu haha? Ia berasal dari Thailand (cek: wikipedia).

Well, jadi di sini saya sangat membantah tulisan yang mengatakan bahwa industri rokok raksasa ingin membunuh industri rokok rumahan dengan cara menerbitkam kampanye anti rokok. Menurut saya itu adalah bulshit dan tidak objektif. Karena dalilnya Thailand sebagai salah satu negara yang memiliki industri rokok produk lokal yang pendapatannya langsung dinikmati rakyatnya (alias resmi, pakai cukai, bukan seperti kebanyakan industri di tanah air yang nakal/gak pakai cukai), nyatanya tetap saja pemerintahnya turut mengendalikan dan menekan angka perokok. So jangan terlalu sensi sama kapitalis (industri rokok raksasa), buktikan dulu!

Kelima, merokok atau tidak adalah pilihanmu. Cerdas dalam memilih: 1 bungkus rokok yang legal dan bercukai, memiliki rerataan harga antara 10-22 ribu rupiah, kalikan 365×10.000 = 3.650.000, jumlah pengeluaran yg harus kalian alokasikan dalam setahun, itu pun kalau kalian merokok satu bungkus sehari dan rokok kalian seharga 10 ribu. Teman, jika kalian sudah merokok selama 10 tahun, maka puluhan juta yg kalian bisa saving. Puluhan juta cukup utk membayar biaya uang kalian selama 4 tahun. Teman, lihatlah, sehabis masa orde lama dan revolusioner Sukarno, tak ada satupun presiden RI yg mau bertaruh di masa tuanya dengan merokok. Suharto pun mengakhiri kebiasaan merokoknya di masa tua. Perhatikan umur mereka panjang bukan? Ini tidak saintifik, tapi ini nyata. Ayo teman, kita ini generasi yg unggul dan cerdas! Hentikan kebiasaan merokokmu. Kau tidak akan meninggal dunia kalau tidak merokok dan memberhentikan kebiasaan merokokmu.

Terakhir, rokok itu bagaikan suplemen, yang membuatmu harus siap dengan segala konsistensi dan persistensinya. Konsistensi, bahwa ketika engkau merokok kau akan bergantung terus dan makin lama kau akan menambah frekuensi merokokmu. Persistensi, bahwa ketika kau tidak punya uang buat beli rokok, maka mungkin kau dituntut melakukan apapun yang kau bisa, agar bisa membeli rokok. Mau itu cara wajar maupun menjurus ke kejahatan.

Teman, saya sering mendengar bantahan kaum idealis yang notabene perokok, mereka bilang "tidak ada kan kriminal kasus pemerkosaan, pencurian, dan pembunuhan, yang pas ditangkap polisi mereka lagi merokok?". Pernyataan ini memang benar, tapi yang saya lihat di lapangan, adalah kalo gak ketangkep polisi biasanya para kriminal seperti pencuri, habis mencuri ya dia merokok. Pemerkosa, ya habis memperkosa dia merokok. Pembunuh, habis membunuh ayam, dia bikin tungku panggangan, api tungku ya dibikin buat merokok. Ini dulu ya teman-teman, maaf kalau kepanjangan. Lain waktu atau besok-besok kita sambung lagi ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya