Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berpendapat. Hanya karena banyak yang tidak setuju, bukan berarti kamu bungkam atas apa yang kamu yakini benar.


Kita tinggal di lingkungan yang penuh dengan pendapat yang berbeda-beda. Tidak ada satu pendapat yang bisa disetujui dengan hati yang lapang oleh lainnya. Akan muncul banyak pendapat dan seolah perdebatan baru untuk sebuah ungkapan.

Advertisement

Manusia memiliki hak yang sama untuk berpendapat. Mereka memiliki hak yang sama untuk menyuarai isi hati dan pikiran. Manusia memiliki peluang yang besar untuk mengubah dunia dari apa yang ia ungkapkan. Bahkan memiliki peluang besar untuk mengahancurkan siapa saja dengan satu kalimat yang dikatakan.

Mungkin ada yang salah saat kita kecil. Kita dididik untuk tidak boleh membantah kedua orangtua atau orang yang lebih tua saat mereka memarahi dan menyalahkan kita. Semua seolah memang kitalah yang memiliki porsi besar terhadap kesalahan yang kita lakukan. Kita hanya diijinkan mendengar tanpa diberi waktu untuk memikirkan apa salah kita, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaikinya dan bahkan untuk memikirkan hal apa yang nantinya harus kita lakukan.

Memang benar, tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun saat seorang anak membantah atau melawan kedua orang tua. Bahkan di kebudayaan Indonesia atau budaya Timur juga tidak diperbolehkan untuk kurang ajar terhadap orang yang lebih tua.

Advertisement

Pendapat saya bukan untuk mengajarkan siapapun membantah kedua orang tua. Hanya saja untuk yang akan menyandang status orang tua atau siapapun yang pastinya suatu saat nanti akan menjadi orang tua. Penting bagi kita untuk tahu apa yang harus kita ajarkan sebelum anak kita terlambat menyadari.

Setiap manusia diberi kesempatan untuk berpendapat. Negara demokrasi Indonesia bukan hanya untuk dunia politik. Tapi untuk semua aspek kehidupan.

Setiap anak yang salah patut tahu mereka melakukan kesalahan di sebelah mana, mereka melakukan kesalahan karena apa dan mereka melakukan kesalahan dengan tujuan apa. Bukan hanya sekedar memberikan label bahwa seorang anak melakukan kesalahan, memarahinya dan mengadilinya. Bahkan tidak jarang ada peran perlakuan fisik yang dilakukan dengan tujuan memberikan pelajaran terhadap anak yang bersalah.

Namun, setelah saya pun menyadari. Apa yang harus dilakukan orang yang lebih tua saat anaknya salah adalah memberitahu mereka apa yang salah, menuntut mereka untuk menemukan solusinya dan memastikan bahwa hal itu tidak akan terulang kembali. Tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat anak terhadap keberadaan dan kedudukan orang tua sebagai orang tua mereka.

Banyak orang tua yang hanya berfokus pada kesalahan yang dilakukan, bukan pada alasan dan bagaimana penyelesaian dan pencegahan kedepannya. Sedangkan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berubah, menunjukkan kebaikan dan dipercaya. Tentu saja ini berperan pada tumbuh kembang sang anak itu sendiri. Mulai dari fisik sampai dengan mental mereka.

Setiap anak yang selalu disalahkan akan merasa bahwa dirinya selalu merasa apa yang ia lakukan adalah salah. Ia tidak akan berani melakukan sesuatu sampai dinyatakan bahwa sesuatu itu benar. Ia bahkan akan membatasi diri untuk mengeksplor diri, di saat orang lain tidak setuju dengannya.

Minder? Tidak percaya diri?

Tentu saja. Mereka sudah menanamkan di dalam pemahaman dan perasaan mereka tentang bagaimana mereka berbuat. Saat mereka salah, apa yang akan ia dapatkan. Bukan apa yang harus ia perbaiki. Tidak ada yang salah, sebab sampai detik ini pun setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak mereka.

Kedekatan yang terjalin antara anak dan orang tua harus membuat anak tidak merasa sendiri. Mereka tidak merasa selalu salah, bahkan mereka tidak merasa takut berbuat sesuatu. Bahkan sekalipun itu adalah hal yang benar. Setiap anak pada masa perkembangan mereka pasti melakukan kesalahan. Baik atau buruk bukan mereka yang belajar sendiri. Ada campur tangan orang tua yang harus membantu anak mengetahui apa yang benar, mana yang salah, siapa yang harus memperbaiki dan bagaimana tidak mengulanginya.


Tidak ada kata terlambat untuk mengajarkan anak menjadi lebih berani bahkan untuk berpendapat tentang tempat liburan yang sesuai dengan mereka, bukan sekedar keinginan orang tua.


Masa kanak-kanak adalah masa dimana mereka membentuk perilaku yang akan mereka bawa sampai mereka dewasa. Bahkan akan mereka ajarkan kepada anak dan cucunya, dan mereka tularkan pada lingkungan.

Setiap anak memiliki hak yang sama untuk berpendapat.

Mereka seolah memiliki masa di mana bebas melakukan apapun, tanpa melanggar aturan dari lingkungan bahkan agama. Peran orang tua adalah menuntut mereka bukan sekedar mendikte setiap anak. Memarahi anak saat salah bukan hanya berhasil membuat anak merasa bersalah di saat itu juga. Tapi juga membuat anak menjadi pribadi yang kurang percaya pada kemampuan yang ia miliki.


Tidak ada orang tua yang salah dalam mendidik anaknya. Setiap orang tua sama halnya dengan anak yang terus belajar mengakui kesalahan, memperbaiki kesalahan dan melakukan sesuatu yang lebih baik keesokan harinya.


Berhenti memarahi anak saat mereka bersalah, dan lebih fokus mengajak anak menemukan solusi untuk memecahkan solusi masalah mereka, akan membuat anak tahu bagaimana ia harus bersikap setelah melakukan kesalahan.

Berpendapat sejak kecil tidak ada larangan. Tidak ada undang-undang yang menyatakan bahwa seseorang tidak boleh berpendapat sebelum usis XX. Itu artinya, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk mengungkapkan perasaan dan pemikiran yang sama.

Hanya saja, kita butuh tempat dan pengarahan yang sesuai. Agar apa yang kita sampaikan tidak menyakiti siapapun. Tidak merugikan siapapun dan tentu saja tidak menimbulkan perpecahan antara pihak manapun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya