"Kamu tau apa yang ingin aku wujudkan?" Kau tanya menatapku.

"Apa?" Kujawab sembari memakan gulali

Advertisement

"Menjadikan kita selamanya" jawabmu. Aku tersenyum.

"Tuhan tidak menggariskan hal itu pada kedua tangan kita" kujawab menatapmu. Kau tersenyum simpul sembari menundukan kepala.

Malam ini aku duduk denganmu setelah pulang dari tempat pameran. Satu hari terakhir yang aku habiskan bersamamu, malam terakhir yang baik. Mungkin aku dan Evan tidak digariskan untuk bersama selamanya, mungkin cukup sampai di sini. Bukan tidak mau saling memperjuangkan hanya saja kita bersikap lebih dewasa, karena kita sadar bahwa mencintai bukan perihal mempersatukan dua orang anak adam, namun mempersatukan 2 keluarga.

Advertisement

"Tuhan pernah mempertemukan kita dan semua yang terjadi tidak atas dasar kesengajaan," kataku menatap bintang "Dan jika nanti dipelaminan bukan kamu yang menjadi pendampingku, aku tetap bahagia sempat pernah jatuh cinta sama kamu." Kau pun tersenyum sembari menatap bintang yang sama dilangit malam itu.

"Andai aku lelaki yang diinginkan ibumu, aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia." Kita saling tersenyum menatap hal yang sama.

"Dan andai aku wanita yang diinginkan ibumu, aku akan menjadi wanita yang paling bahagia." Sebenarnya entah sejak kapan aku mulai menyimpan rasa kembali kepada Evan, atau mungkin rasa itu memang tidak pernah hilang? Sebuah pertemuan yang mengalir begitu saja, kita menikmati segala alur yang ada. Namun sayangnya kita malah terjebak dan harus saling terluka. Ada Sinta, kekasihmu. Juga ada Erik, tunanganku. Entah mengapa tuhan mempertemukan aku dengan Evan setelah 3 tahun berpisah.

Dulu kita pernah sangat dekat namun pada saat itu aku harus pindah ke Bogor, dan kita merenggang lalu saling hilang. Lalu tuhan mempertemukan lagi dengan caranya. Kau mengenalkanku kepada Sinta, begitu pula sebaliknya. Mereka tau kita hanya berteman, dan kita tau kita menyimpan perasaan. Mungkin memang benar ini belum terlambat, tapi tidak bisa. Ibumu lebih menyayangi Sinta, juga ibuku Lebih menyayangi Erik, mereka lebih mengagungkan satu sama lain, juga nampak terpancar kebahagiaan dan harapan kepada raut wajah mereka untuk aku segera menikah dengan Erik, juga kamu dengan Sinta. Bukanlah aku kriteria wanita yang mampu menemani hari tuamu menurut ibumu, dan bukanlah aku yang ibumu harapkan untuk menjadi menantu, begitupun sebaliknya.

"Dan akhirnya aku harus kehilanganmu untuk kedua kalinya," katamu menatapku.

"Dan aku harus melepaskanmu lagi" jawabku. Menurut banyak orang "Kalau cinta harus diperjuangkan meski orang tua tidak merestui". Tapi tidak, tidak dengan kita. Pada nyatanya kita telah memiliki pasangan satu sama lain yang telah kita perkenalkan kepada keluarga, karena kita tidak pernah mengira akan dipertemukan lagi. Kau menduga duga bahwa aku sudah berkeluarga, juga aku sebaliknya. Kita pernah saling mencari namun tidak saling dipertemukan, saat aku kembali kamu telah tidak berada di sini. Dan saat orangtuaku pindah ke sebuah kota baru, Tuhan mempertemukanku denganmu lagi. Kita tidak bisa melarikan diri sebab kita tidak boleh egois hanya memikirkan cinta yang kita punya. Biarlah, biar hal ini menjadi rahasia. Karena apapun sesuatu yang direstui seorang ibu, kita percaya itu adalah hal baik.

"Kapan pernikahanmu?" Kau tanya menatapku.

"Satu bulaan lagi."

"Erik ada di sini?"

"Enggak. Dia lagi keluar kota ada kerjaan, lusa baru pulang" kujawab. "Kapan mau menyusul?". Kamu tersenyum simpul.

"Minggu depan aku baru tunangan dengan Sinta," jawabmu.

"Selamat" ucapku tersenyum. Kau mengangguk. Tak jarang juga kita bercerita tentang pasangan kita masing masing. Karena katamu, "Kalau aku tidak bisa memilikimu, aku akan menjadi sahabatmu". Ini adalah keputusan yang baik, malam terakhir yang menjadikan aku dan kamu adalah kita. Bahkan esok, lusa dan seterusnya, mungkin tidak ada lagi peristiwa semacam ini. Mungkin nanti aku akan lebih fokus dan mengarahkan perasaan seutuhnya kepada Erik, begitupun kamu. Dan ini adalah malam terakhir kita. Hal yang harus terulang lagi adalah kehilanganmu untuk kedua kali.

Mungkin ada hal yang baik mengapa tuhan mempertemukan lagi kita waktu itu, hingga hari ini menjadi hari terakhir dari segala rasa. Sebab kalau dibiarkan terlalu lama, perasaanku malah ingin menuntutmu yang menjadi pendampingku bukan malah menjadi tamu undanganku.

"Tapi sudahlah. Terimakasih, sebab aku pernah bahagia denganmu," kataku.

"Terimakasih kembali Delia, bersamamu aku mengerti untuk menghargai sebuah pertemuan," katamu.

"Mungkin bukan aku yang digariskan untukmu, tapi Erik. Percayalah, dia adalah lelaki yang lebih baik dibanding aku," lanjutmu. Aku tersenyum menatapmu Sejenak kita terdiam sesaat, aku bersandar dipundakmu dengan menggenggam gulali yang masih tersisa. Kita menatap langit yang sama, bintang yang sama. Mungkin benar, semua hal tidak harus terjadi sesuai dengan keinginan. Kita dipertemukan kembali setelah aku dan kamu sudah berjanji kepada pasangan masing masing. Sayangnya kita tidak bisa ikut campur semesta untuk mengguratkan tangan takdirnya untuk kita "Aku punya bintang untukmu," kataku.

"Itu, yang paling dekat dengan bulan, yang paling terang dari yang lain." Kamu menatapnya sembari tanganmu mengusap rambutku, aku pun sudah bisa menebak pasti sekarang kamu tersenyum.

"Del.." katamu.

"Hemm?" kujawab tanpa menatapmu, aku masih saja bersandar.

"Berjanjilah satu hal," katamu.

"Apa?" Kutanya.

"Berjanjilah untuk menjadi sahabatku," Aku terdiam dan tersenyum.

"Aku berjanji." Dalam hidup, manusia tidak bisa menentukan dengan siapa ia akan dipertemukan, kepada siapa ia akan jatuh hati, dan karena alasan apa ia harus pergi. Menurutku hidup itu adalah segudang misteri, aku tidak tau esok atau lusa siapa orang baru yang akan tuhan pertemukan. Dan jika hari ini kita harus melangkah pergi, maka kehilanganmu adalah sebaik baiknya patah hati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya