Tapi kebohongan terbesar negara bukan soal besaran utang. Utang uang hanya teknikal, yang lebih bahaya adalah utang fundamental, utang yang skalanya tidak bisa dirampungkan hanya dengan uang. Utang informasi misalnya. Kedudukan informasi dalam hidup seseorang ternyata amat fundamental. Anda boleh diguyur berbagai fasiltas, tapi ketika ada satu informasi yang disembunyikan untuk Anda, maka Anda akan merasa tidak dihargai. Ini bisa berbahaya. Ia akan terus mencari teman, membuat kelompok, dan butuh jalan keluar kalau perlu dengan menumbangkan pemerintah."
-Prie GS

Entah kenapa, saya tiba-tiba berpikir untuk mengerucutkan masalah kejujuran di atas ke dalam skala yang lebih kecil; keluarga dan teman. Betapa banyak kita melihat kehidupan keluarga yang serba rahasia. Orangtua tidak tahu menahu tentang kegiatan anak-anaknya, Suami tidak banyak bercerita tentang kunjungan kerjanya ke luar kota. Istri pun takut bertanya karena tidak mau dianggap kepo.

Advertisement

Kerahasiaan informasi di tengah2 keluarga menciptakan banyak sekali prasangka dan tuduhan. Bisa jadi prasangka itu benar, bisa jadi pula prasangka itu salah. Maka pihak pro dan kontra pun terbentuk tanpa diminta, membuang waktu untuk memperdebatkan sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih efektif: keterbukaan.

Yang terlambat kita sadari, keterbukaan sejatinya bisa meringankan bencana. Lha kok bisa? Ya iya, karena keterbukaan membuat kita lebih siap untuk menghadapi bencana. Keterbukaan membuat kita berpikir lebih tenang, sehingga pikiran kita tidak terjebak dalam lautan amarah dan kesedihan. Dalam kondisi demikian, solusi lebih mudah ditemukan, memaafkan lebih mudah dilakukan. Itu kalau keterbukaannya terkait dengan masalah.

Lalu bagaimana dengan kebahagiaan? Akan jauh lebih bagus lagi. Menyebarkan berita bahagia bisa memberikan ketenangan kepada siapa saja, dengan syarat kebahagiaan itu diperoleh dengan cara yang benar dan sportif. Contoh kecilnya ketika ada seorang anak memenangkan lomba menggambar. Kita bisa bayangkan betapa bahagianya orangtua dan keluarga si anak. Tapi ketika akhirnya tersebar berita bahwa kemenangan itu diraih karena sogokan, justru yang timbul adalah cacian dan fitnah. Pihak lawan tidak menerima. Keluarga juga jadi kecewa. Ini karena tidak pernah ada kebahagiaan yang bersumber dari kecurangan. Dari bermain curang, kita hanya mendapatkan kesenangan sesaat. Tak lebih, tapi boleh kurang.

Advertisement

Begitu pula yang terjadi dalam lingkaran pertemanan. Saya belum pernah mendengar ada yang suka dengan teman yang bermuka dua. Bahkan dari beberapa teman yang pernah saya tanyai tentang apa yang paling mereka benci dari sebuah pertemanan, jawaban mereka hampir sama; kemunafikan.

Syarat yang paling umum ditegakkan agar seseorang mendapat gelar 'munafik' adalah ketika ia tersenyum manis saat berada di tengah kita, tapi ternyata tidak segan menikam kita dari belakang. Ketika ditanya apa dia yang menyebar aib itu, dia bilang tidak tahu. Ini bentuk umumnya, tapi ada juga kejadian yang lebih sederhana yang bisa membuat seseorang dicap munafik. Cukup buat janji bertemu di suatu tempat, lalu batalkan tiba-tiba karena ternyata Anda baru ingat ada janji juga di jam yang sama dengan orang lain. Kalau teman Anda tipe sensitif, dijamin dia akan dengan sukarela memberi Anda cap yang satu ini.

Tapi sekarang bayangkanlah jika Anda terbuka tentang pribadi Anda (bukan aib Anda) dan jadilah diri Anda sendiri di hadapan teman-teman Anda. Jika ternyata seorang teman menyadari kelemahan Anda, dia jadi tahu kapan dia harus menghindari Anda (jika ia tahu diri bahwa ia tidak bisa membantu Anda). Anda pun memahaminya jika dia tiba-tiba menghindar. Bahasa tanpa kata-kata itupun berbuah pengertian. Dan di sinilah jalinan terpenting dari sebuah pertemanan berasal.

Kita tidak perlu sibuk mencari pembelaan atas setiap kebohongan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Yang perlu dilakukan sekarang hanyalah menjadi terbuka dengan pengalaman baik maupun buruk yang kita alami, terlebih kepada orang-orang yang kita percaya. Karena yakinlah, bahwa semua kebahagiaan yang benar-benar membahagiakan didasari dengan kejujuran.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya