Pernahkah kita berpikir akan jadi apa kita nantinya, karena kita tidak bisa melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi lagi? Pernahkah kita merasa tidak memiliki masa depan? Kecewa? Bahkan menyalahkan orang lain? Jika jawabannya pernah, berarti kita tidak sendiri.

Dulu saya mengira, kesuksesan itu hanya milik mereka yang punya banyak uang dan berpendidikan tinggi saja. Namun, perlahan asumsi saya itu mulai berubah. Ini bermula ketika saya kelas 3 SMA. Hampir setiap harinya teman-teman sekelas saya, keluar masuk ruang BK (Bimbingan Konseling) untuk mencari informasi dan berkonsultasi, universitas mana yang tepat sesuai dengan jurusan yang mereka inginkan.

Hampir setiap harinya pula, saya menangis diruang kelas sendiri. Karena melihat sikap saya yang berubah, tak jarang teman-teman saya bertanya, ada apa dengan diri saya. Dengan menahan rasa sedih dan iri, saya hanya bisa menjawab kalau tidak terjadi apa-apa dengan diri saya.

Di satu sisi saya ingin melanjutkan lagi sekolah saya. Namun di sisi lain, saya tak tega melawan ibu saya, yang sejak awal tidak mengijinkan saya untuk sekolah lagi. Karena bisa sekolah sampai SMA saja, seharusnya saya juga sudah bisa bersyukur. Tidak ada hewan ternak, sawah ataupun barang berharga lainnya yang bisa dijual untuk keperluan masuk kuliah. Karena biasanya untuk biaya awal membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kedua orangtua saya juga hanya seorang buruh.

Apa lagi dengan kondisi ayah saya yang sering sakit-sakitan. Beda lagi kalau sudah masuk kuliah, biaya mungkin bisa diangsur, bahkan bisa mendapatkan beasiswa dari prestasi yang telah dicapai. Namun ibu saya tetap bersikeras untuk tidak mengijinkan saya, setidaknya tetap bisa mengikuti test masuk ke perguruan tinggi yang saya inginkan. Lulus atau tidaknya, itu urusan belakangan.

Bahkan ada dari beberapa teman saya ingin menemui ibu saya, untuk meminta ijin kepada beliau. Karena menurut mereka, sangat disayangkan jika saya tidak melanjutkan sekolah saya, dengan nilai dan prestasi yang pernah saya dapatkan sejak kecil. Namun, saya tetap tidak bisa melawan keputusan ibu saya. Meskipun dalam hati saya kecewa.

Setelah lulus SMA saya memutuskan untuk bekerja membantu orangtua saya. Dari bekerja ini pula, saya tidak menyangka bisa membeli sepeda motor. Meskipun orangtua saya juga membantu dalam pelunasannya. Tahun pertama, kedua saya masih berpengharapan untuk bisa sekolah lagi. Sedih rasanya melihat teman-teman saya bisa memakai pakain sesuai almamater universitas mereka masing-masing. Tapi, saya juga tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Pernah suatu kali saya berhenti bekerja karena ingin melanjutkan sekolah saya. Tapi kenyataanya tidak jadi lagi.

Sempat saya berpikir, apakah saya akan bekerja seperti ini terus? Dengan gaji di bawah UMR yang bagi mereka mungkin tidaklah cukup? Dengan anggapan orang lain akan merendahkan pekerjaan saya yang hanya seperti ini, saya mencoba untuk mengubah pola pikir saya.

Tak ada gunanya pula berlarut-larut menyalahkan diri ataupun orangtua sendiri. Terkadang, Tuhan menempatkan kenyataan awal lebih buruk, karena Tuhan ingin kita melihat masa depan yang indah di depan nanti. Meskipun sebenarnya kita sebagai manusia selalu tak sabaran dan menuntut Tuhan segera mengabulkan apa yang kita inginkan.

Tidaklah salah jika oranglain bahkan kita sendiri ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya dan mencapai gelar yang diinginkan. Karena setiap orang memiliki arti kesuksesan mereka masing-masing. Tidak terkecuali saya sendiri. Tapi, disini saya akan membagikan sedikit pengalaman saya. Bagaimana saya mulai mengerti arti kesuksesan sesungguhnya dalam hidup saya.

Waktu kecil pasti kita pernah ditanya, apa cita-cita kita saat besar nanti? Tanpa berpikir panjang kita menjawab dengan jawaban yang sama dengan teman-teman kita. Seingat saya dulu saya menjawab ingin menjadi seorang dokter. Tapi, setelah masuk sekolah dasar saya ingin menjadi seorang musisi. Karena saya suka bermain musik, terlebih alat musik gitar.

Di tingkat sekolah menengah pertama, saya ingin menjadi seorang guru, karena saya suka dengan mata pelajaran IPA dan Bahasa indonesia. Namun, saat kelas 3 SMA ini, cita-cita saya mulai berubah semenjak ibu saya tidak mengijnkan saya untuk melanjutkan sekolah lagi.

Tapi rencana Tuhan tidak ada yang tahu. Meskipun tidak menjadi seorang guru yang mengajar secara formal pada umumnya di sekolah, tapi saya pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa membantu beberapa anak untuk belajar bermain musik, terlebih alat musik gitar. Ketika saya kelas 2 SMA, saya dan teman-teman saya pernah mengikuti festival musik dan parade band.

Meskipun saya belum menjadi seorang musisi pada umumnya, saya sangat senang sekali, karena dari sini saya bisa mengembangkan hobi saya dan melatih diri untuk bisa percaya diri dihadapan orang banyak. Saya dan teman-teman juga pernah mengisi acara disebuah cafe dan resto. Dan terakhir kami juga mengisi sebuah acara disalah satu radio di kota Semarang.

Tapi menjadi seorang dokter, ternyata tidaklah cocok dengan saya. Karena passion saya tidak disitu. Saya paling tidak tega melihat orang sakit apalagi akibat kecelakaan. Yang ada saya justru takut. Sekarang saya juga melukis sketsa wajah. Bahkan ada dari teman-teman yang sudah memesan lukisan saya. Ini bahkan tidak pernah saya bayangkan. Mereka mengatakan kepada saya, kenapa tidak dari dulu saya melukis dan mencoba menawarkan pada orang lain.

Bila ditarik kesimpulan dari ini semua, bagi saya kesuksesan itu hanyalah celotehan angan seperti pungguk yang merindukan bulan. Namun, kita tidak akan pernah tahu semua itu akan kita gapai pada akhirnya nanti. Tetap beranilah untuk bermimpi. Kesuksesan bagi saya adalah ketika tanpa diminta, kita melakukan apa yang kita sukai, dan itu bisa memberi arti untuk orang lain.

Bagi kita yang belum atau tidak memiliki gelar atas pendidikan kita, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memaknai kesuksesan itu untuk hidup orang lain. Jika saya dulu melawan ibu saya, pasti cita-cita saya tidak bisa saya wujudkan satu per satu. Dan nantinya justru saya akan menyesal karena tidak mengindahkan nasihat orangtua. Karena bagaimanapun tidak ada orang tua yang tidak ingin melihat anak-anaknya sukses. Dari mereka pula kita bisa melihat kesuksesan itu bukanlah soal materi saja melainkan tentang arti memberi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya