“ Hidup ini ibarat berajalan di atas seutas tali yang tipis. Tak ada jalan lain untuk tetap bisa berada di atasnya, selain menjaga kesimbangan tubuh. Apabila salah satu berat sebelah, maka terjatuhlah seperti daun yang berguguran di musim semi”

Hidup ini indah, hidup ini istimewa. Dunia ini memang benar adalah sebuah Surga; hadiah dari Tuhan yang kuasa. Tuhan telah memberikan banyak kemewahan kepada seluruh umat manusia di dunia ini. Tuhan telah berpesan kepada seluruh manusia, "Nikmatilah seluruh isi bumi ini hingga perut tak mampu terisi kembali, namun tetaplah menjaga keseimbangannya."

Advertisement

Sederhana, namun tak semua manusia mampu menajalankannya, bahkan jarang sekali! Apabila ingin menghitungnya dengan jari, mungkin saya rasa itu sudah cukup. Karena yang benar-benar mampu menerapkan tak lebih dari 10 jari yang kita miliki.

Tuhan telah memberikan pesan kepada seluruh umat manusia untuk tetap menjaga keseimbangan. Jangan kurang, ataupun jangan lebih, harus pas.

Ibarat makan, janganlah biarkan diri sendiri kelaparan, atau kekenyangan. Makanlah secukupnya, karena itu akan lebih sehat, daripada kekurangan atau kelebihan. Ibarat ilmu akuntansi, neraca keuangan harus seimbang; debit dan kredit harus sama, karena kondisi sumber dan alokasi harus seimbang, agar tampak jelas alokasi sumber daya perusahaan.

Advertisement

Akuntansi telah secara tidak langsung mengajarkan kita arti yang sebenarnya dari keseimbangan hidup. Berada di atas seutas tali memang tidak mudah, terkena sedikit tiupan angin saja maka badan ini akan langsung goyah. Hal ini pun sama dengan kehidupan yang sedang kita jalani saat ini.

Hidup ini perlu keseimbangan.

Mengapa hidup ini perlu keseimbangan?

Pernahkah anda menikmati sensasi berdiri di atas jembatan kayu yang tak berteknologi tinggi? Bertali ikat seadanya, sedangkan anda sendiri dituntut untuk tatap berdiri dan bergerak kedepan agar bisa mencapai ujung? Untuk mencapai ujung, tentunya kita harus mati-matian menjaga keseimbangan tubuh ini agar tidak sampai terjatuh, bukan? Hal ini juga berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tuhan pun meminta kita untuk menjaga keseimbangan hidup masing-masing. Hidup ini ibarat berjalan di atas lintasan tali setipis rambut. Tak kita sadari sebenarnya kita sedang mempertaruhkan hidup kita masing-masing agar tidak sampai terjatuh dari atas lintasan tersebut. Lintasan ini pun sebenarnya memiliki aturannya sendiri. Barang siapa yang ingin sampai di tujuannya masing-masing, maka tetaplah konsentrasi ke depan dan tetaplah menjaga keseimbangan agar jangan sampai terjatuh ke dasarnya.

Kita mulai dari hutan. Hutan adalah Surga dunia. Hutan menyediakan segala kebutuhan manusia. Segala hal tinggal petik, maka perut akan terpenuhi, pikiran pun jernih. Hutan hijau tentunya akan membuat bumi menjadi indah. Manusia juga akan selamat dari bencana-bencana alam yang mengintai. Namun sayang, saat ini manusia sudah benar-benar membabi buta memburu hutan-hutan hijau.

Demi uang, mereka rela menebas hutan hingga ke akar-akarnya; hingga tak satu pun tunas yang tertinggal sebagai penggantinya di masa yang akan datang. Sang pohon pun mati untuk selama-lamanya. Lantas apakah kita tak boleh memanfaatkan hutan? Jawabannya tentu sangat boleh. Bahkan itu adalah alasan Tuhan menyediakan hutan, agar kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan baik. Namun kita harus tetap mengingat pesan-Nya, jagalah keseimbangan.

Pakailah sesuai kebutuhan, jangan tebang semua. Sisakan sedikit agar ada harapan untuk ia tumbuh lebih banyak lagi di masa yang akan datang. Keserakahan hanya akan memuaskan perut sesaat, namun kemelaratan sudah menunggu dengan sigap di depan sana!

Kawan, mari kita jaga keseimbangan dalam memanfaatkan hutan.

Selanjutnya adalah mengenai kehidupan sehari-hari.

Pernahkah kita merasa hidup itu tak memerlukan orang lain? Kita bisa hidup sendiri tanpa banyak meminta dan mengemis-ngemis bantuan dari orang lain. Hanya memanjakan diri sendiri saja, jika mau, maka kita bisa melakukannya sendiri. Pernahkah? Pernahkah pula kita merasa bahwa tetangga yang ada di dekat rumah kita sendiri hanya sebagai pengganggu ketenangan kita saja? Kamarku adalah duniaku. Kamar adalah lingkunganku. Itulah yang mungkin pernah terbersit dalam pikiran kita masing-masing.

Jika kita pernah melakukan hal itu maka kita telah menjalankan kehidupan ini dalam keadaan pincang atau berat sebelah. Ibarat sebuah timbangan buah, jika salah mengukurnya maka timbangannya tidak akan seimbang. Hidup ini tak bisa hanya di dalam kamar saja. Tuhan telah menciptakan manusia lainnya agar kita saling menjaga satu sama lain. Pada dasarnya kita adalah saudara, dan saudara harus menjaga komunikasi satu sama lain. Itulah salah satu cara untuk mempererat tali persaudaraan kita. Oleh sebab itu, dalam menjalani kehidupan ini, kita harus mampu membagi waktu kita.

Kapan kita harus menjadi mahluk individualis, dan kapan harus menjadi mahluk sosial. Kedua-duanya harus seimbang, sama sekali tak boleh berat sebelah, walau se-gram pun. Itu tetap tak boleh.

Setiap insan di dunia ini memang memiliki hak masing-masing. Mereka memiliki hak masing-masing dalam memanfaatkan hasil bumi seperti dari hutan, laut, udara, maupun daratan. Namun perlu diingat, akan ada masih milyaran manusia lainnya yang memiliki hak yang sama dengan yang kita miliki. Jadi, kita dituntut menjadi orang yang adil dalam memanfaatkan hasil bumi tersebut. Menjaga keseimbangan adalah caranya akan tetap menciptakan kesejahteraan bersama.

Tak ada yang perlu dibanggakan dari tubuh kita yang mungil ini. Menjadi perusak adalah suatu hal yang sangat merugikan.

Hal yang perlu diingat oleh diri kita masing-masing adalah, ketika kita tak mampu berada pada posisi memperjuangkan kebenaran, maka setidaknya kita tak berada pada posisi perusak.

Lebih baik diam menonton seperti menyaksikan drama komedi yang sangat lucu, untuk keadaan ini. Ya, itu akan lebih baik dan mendatangkan pahala!

Semoga kita semua tetap dapat menjaga keseimbangan masing-masing, agar tak jatuh ke dalam kubangan lubang masing-masing. Ingat, terjatuh itu menyakitkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya