Tadi malam saya baru baca tulisan mas Syarif Yunus yang beliau beri judul Omong Kosong, Kamu Bilang Kritik Bersifat Membangun. Saya tertarik dan suka dengan tulisan beliau. Saya-pun berusaha mencari dan memahami sebab musabab serta maksud tulisan tersebut. Saya hadirkan link tulisan beliau kembali di sini agar pembaca lebih mudah memahami : https://www.hipwee.com/opini/omong-kosong-kamu-bilang-kritik-bersifat-membangun/

Saya adalah pribadi yang suka bahkan sering mengkritik juga di-kritik. Nuansa kritik meng-kritik memang tak selalu sama. Terkadang bikin geram namun juga lebih sering senang saya dapatkan. Seperti pertanyaan beliau yang terletak pada paragraf awal, "Apa yang kamu rasakan kalo ada orang yang mengkritik?", saya menjawab dengan mudah saja. Sangat senang.

Advertisement

"Yang kita cari apa yang benar, bukan siapa yang benar" – Emha Ainun Nadjib.

Mungkin saya bukan termasuk kalangan yang beliau maksudkan. Yaitu, kaum kebanyakan yang mudah down dan cenderung mencari pembenaran ketika di-kritik, bisa juga disebut kurang berpikir positif. Mungkin. Apalagi beliau sendiri menyatakan bahwa sekian literatur (yang beliau baca), tidak ada bentuk kritik yang bersifat membangun. Justru bersifat menghancurkan. Malah-malah menekan perasaan si penerima. Saya sangat mohon maaf kalau artikel ini membuat mas Syarif merasa ditekan. Saya hanya berniat mengajak kita semua kembali mencerna apa yang kita pahami. Mengutip dari Emha Ainun Nadjib, "Yang kita cari apa yang benar, bukan siapa yang benar".

Sebelumnya mari kita memahami apa itu mendikte dan mengarahkan. Apa itu menganjurkan dan menghujat. Apa itu mencibir dan berbagi. Atau apa perbedaan antara memaki dan menasehati. Di tulisan serba singkat ini, jelas saya tak bisa memaparkan satu persatu perbedaan dari keduanya hal tersebut. Hanya saja secara garis besar dapat kita tangkap, bahwa satunya bersifat membenahi -mencari apa yang benar- dan lainnya cenderung menyudutkan -mencari siapa yang benar-.

Advertisement

Kritik omong kosong-nya mas Syarif Yunus sesungguhnya bukanlah kritik yang sebagaimana biasa kita pahami -bersifat membangun-. Pengertian kritik mas Syarif condong kepada hal-hal yang bersifat menjatuhkan -menyerang si pelaku-. Saya tentu menepis definisi kritik tersebut.

Dalam kritik meng-kritik, kita tentu harus memperhatikan timing, nuansa, kondisi psikologi kominikan dan hal-hal lainnya. Karena ia bertujuan membangun.

Dalam kritik meng-kritik, kita tentu harus memperhatikan timing, nuansa, kondisi psikologi kominikan dan hal-hal lainnya. Karena ia bertujuan membangun. Bukan menjatuhkan. Membenahi, tidak merubuhkan. Ibarat naskah buku, perlu disunting ulang oleh penerbit sebelum diterbitkan agar isi buku lebih nyaman dibaca. Sederhana sekali.

Saya akui adanya manusia yang suka kritik meng-kritik tanpa melihat timing, situasi dan kondisi dan variable lain yang perlu diperhatikan. Alias 'yang penting bicara'. Hatta niatnya memojokkan membangun, saya-pun tidak setuju jika cara penyampaian tersebut asal-asalan.

Sekali lagi, mohon maafkan saya mas Syarif. Dalam beberapa poin saya setuju tulisan Anda, beberapa poin-pun tidak. Semoga apa yang saya tangkap dari tulisan panjenengan adalah salah dan bisa menjadi pelajaran bagi kita -termasuk pembaca- sehingga mau memahami satu sama lain. Salam damai []

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya