Seorang anak adalah wajar dan wajib untuk patuh kepada orangtuanya. mama dan bapaknya yang merawat dari kecil dengan penuh kasih sayang. Walau terkadang dengan sedikit tekanan keras, tapi hanya satu menurutku yang menjadi tujuan mereka yaitu untuk kebaikan kita di masa yang akan datang. Memarahi kita adalah hal yang wajar, ketika kita melakukan sesuatu yang buruk. Kita menganggapnya biasa saja, tapi mereka yang sudah lebih banyak makan garam dari kita berpikir itu tidak baik untuk masa depan cerah yang mereka harapkan kita dapatkan…

Menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi sangat mereka harapkan dari kita. Mereka ingin kita lebih sukses dari kita, dan tak jarang mereka ingin supaya kita tidak memiliki hidup yang keras seperti yang mereka hadapi dengan penuh kesederhanaan. Tapi, biaya adalah hal yang tidak biasa kita pungkiri untuk mencapai itu. Peluh keringat menjadi jawaban mereka untuk masalah itu, yang penting kita sukses, sukses, sukses, dan sukses. Pergi ke ladang mencangkul di tengah terik matahari yang sangat menyengat. atau pekerjaan apapun itu yang penting bisa menghasilkan uang dan menyekolahkan anaknya. Setahu ku, tidak ada orangtua yang tidak menginginkan anak-anaknya sukses, tapi dengan keterbatasan yang mereka miliki, seakan-akan mereka mengatakan "gak usah sekolah kau, untuk apa sekolah", padahal dalam hati mereka, mereka sangat bersedih, dan tak jarang mengutuk diri mereka sendiri karena tidak bisa menyekolahkan kita ke jenjang yang lebih tinggi,"maafkan mamak ya nak, sampai disini aja bisanya mamak", kira-kira seperti itu yang mereka ingin katakan. Tapi mereka tidak memilih kata-kata itu, seakan-akan mereka tidak sanggup mengatakan itu kepada kita, yang menjadikan pilihan katanya adalah menyakiti harapan kita.

Advertisement

Apakah kau sadar akan hal itu? Atau kau pura-pura nggak sadar akan kerja keras mereka? Melemparkan hasil kerja keras keringat mereka, seakan-akan itu bukan hal yang spesial…

Tak jarang aku melihat teman, atau anak muda, tidak bisa menghargai orangtua mereka. Mamak bapak sudah lelah mendapatkan uang untuk pendidikannya, tapi dia menyia-nyiakan itu semua. Miris memang, tapi itu lah yang terjadi. Merokok, berjudi, pacaran di tempat mewah, tidak mau susah. Padahal orangtua kita disana membayar semua dengan keringat mereka, dengan harapan, setidaknya anakku tidak susah seperti ini kelak dalam hidupnya. Tapi yang kita lakukan adalah hal yang berbeda dan berlawanan dengan apa yang mereka harapkan…

Berbohong seperti sudah makanan sehari-hari kita kepada orangtua kita, uang bukulah, uang inilah. Mereka yang polos dan tidak tahu apa-apa berpikir,"darimana lah lagi ku cari uang ini ya Tuhan, kasihan kali anakku disana..". Hutang sana, hutang sini, berharap ketika panen bisa membayarnya. Tanpa menghiraukan itu, kita tertawa-tawa bersama teman-teman kita seperti tidak memiliki masalah dalam hidup ini dengan uang yang kita dapatkan dari hasil berbohong kepada orangtua tercinta. Ketika mereka tidak menyanggupinya, kita marah, kita mengancam, kita murung, atau apapun itu supaya mereka menyenggupinya, seolah-olah kita tidak punya mata, seolah-olah kita tidak tahu apa yang mereka lakukan, seolah-olah kita tidak tahu apa pergumulan mereka, seolah-olah itu urusan mereka sendiri, dan tugas kita hanya meminta…

Advertisement

Tanpa aku sadari, aku ada dalam bagian itu. Memang aku tidak bandal, tidak mereokok, tidak berjudi, tidak berbohong. Tapi terkadang, ketika aku meminta, dan benar-benar butuh baru aku bilang, tapi mereka tidak menyanggupinya. Aku seakan marah, menutup telponku, menonaktifkan handphoneku, apapun tiu, supaya mereka tahu aku sangat perlu. Padahal, mereka tahu itu, mamak bapak sangat mengerti apa yang jadi pergumulan kita. Tapi, kadang mereka sampai di titik batas mereka sehingga tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu, lalu memberikannya…

Ketika aku seperti itu, aku hanya terdiam, merenung, dan menangis dalam hati. Kenapa aku seperti itu tadi kepada mamakku? Apa salahnya? Kenapa aku seperti marah dan menutup telpon tanpa mendengarkan penjelasannya. Aduh, apa lah yang dipikirkan mamakku ini sekarang. Jangan nangis mak, aku gak bermaksud membuatmu bersedih. mak, jangan nangis. Aku berbicara dalam hatiku seperti aku sedang berbicara kepada mamakku… Ketika aku tidak bisa memungkiri apa yang ku lakukan, aku tidak tahu mau berbuat apa lagi. Selain mengatakan," Mak, Maafkan Aku".

Salam Harjoshrian…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya