Instagram sebagai media informasi sangat diminati oleh anak muda saat ini. Sejak diluncurkan fitur Instagram story pada tahun 2016 lalu, yang memudahkan pengguna untuk tetap membagikan cerita mereka tanpa harus menge-post di akun mereka. Perkembangan fitur mereka juga semakin diikuti dengan filter wajah,close friend,superzoom,siaran langsung,stiker gif, dan lain-lain.

Fitur close friend sendiri dihadirkan oleh Instagram pada akhir 2017, fitur ini berguna untuk membagikan story hanya dengan daftar teman dekat anda. Mungkin fitur ini sangat membantu bagi yang tidak ingin orang asing sebagai pengikutnya melihat story yang dibuat. Pengembangan dari fitur ini juga dimaksudkan oleh pihak Instagram agar pengunanya bisa merasa lebih nyaman ketika ingin membagikan beberapa konten yang bersifat personal hanyalah kepada teman-teman terdekatnya saja

Advertisement

Tapi melihat dari fitur yang sangat baik ini, tentu ada celahnya. Namun, celah yang di maksud bukan kepada Instagram sebagai pengembang, tetapi lebih kepada penggunanya sendiri. Mengapa? Dikarenakan terkadang ada beberapa orang membuat list dari close friend sendiri, padahal sebenarnya orang tersebut jelas tidak terlalu dekat bahkan tidak terlalu mengenal. Hal ini jelas membuat orang yang di masukkan ke daftar teman dekat merasa tidak nyaman. Lagi pula sebagian cerita yang mereka bagikan tidak dirasa penting.

Konten-konten yang mereka bagikan pun cenderung tidak jelas, seperti halnya seseorang sedang bercekcok dengan orang lain, mereka tunjukkan bukti-bukti tangkapan layar tersebut. Namun, jika orang yang masuk pada daftar itu paham dan kenal apa yang dipermasalahkan, maka jelas memberi respon. Namun, lagi-lagi siapa,apa, yang dipergunjingkan saja kita tidak paham dan mengenalnya.

Begitu pula, sering kita melihat teman kita membagikan kebersamaan mereka dengan orang terdekat. Mungkin mereka masih belum bisa mengakuinya di khalayak ramai, sehingga mereka membagikan dengan close friend. Sebenarnya terlihat apa yang mereka lakukan benar, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi coba kita lihat, apa untungnya untuk teman yang melihat, apakah mereka harus menyampaikan rasa peduli dan respon? Ataukah memang sepenting itu hubungannya untuk dibagikan.

Advertisement

Kita lihat lagi, di mana sosial media itu digunakan, ketika kita sudah berani membagikan kepada khalayak meskipun hanya beberapa/bahkan satu orang, bukankah dengan mudah kembali tersebar? Jangan lupa, setiap smartphone sudah dibekali kemampuan untuk screenshot. Kita bisa bilang bahwa screenshot adalah senjata, mengapa senjata?

Karena itu juga merupakan bukti yang kuat. Sebenarnya untuk kita semua selalu ingat berpikirlah dahulu dengan apa yang akan kita bagikan, bagaimana dampaknya pada orang lain, bagaimana penilaian mereka terhadap diri kita sendiri. Karena sejatinya, jika kita berani membagikan berarti kita juga harus menanggung konsekuensi terhadap apa yang kita lakukan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya