Bahaya laten terkungkung dalam nostalgia

Konsepsi

Peter Drucker berpendapat bahwa di dalam bisnis, hanya ada dua fungsi fundamental dalam menciptakan pelanggan yaitu pemasaran dan inovasi. Hal ini sepenuhnya sejalan dengan Guru Besar ilmu inovasi di Harvard Business School, Professor Clayton Christensen, yang berargumen bahwa inovasi merupakan faktor krusial untuk memberikan added value bagi konsumen.

Advertisement

Dalam konsep product life cycle yang diajukan oleh Raymond Vernon, ia menekankan mengenai pentingnya membuat kurva produk (S-curve) yang baru melalui inovasi agar perusahaan dapat senantiasa bertahan hidup di waktu kedepan.

Disrupsi, sebagaimana dikemukakan oleh Profesor Rhenald Kasali, adalah kondisi dimana lanskap sebuah industri ‘tergoncang’ sedemikian rupa– ari model bisnis konvensional– sehingga menyebabkan pemain dalam industri tersebut perlu melakukan restrukturisasi maupun rekonfigurasi untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Melalui pemahaman ini, saya rasa kita semua familiar bagaimana perusahaan seperti Uber, Hostelworld, maupun Tokopedia telah mendisrupsi industri transportasi, perhotelan dan ritel di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tentunya, para disruptor ini telah melahirkan kontroversi bagi pelaku usaha didalamnya dan tidak jarang konflik antara pemain konvensional dan modern mencuat ke muka publik.

Advertisement

Lantas apa kaitannya dengan evolusi? Bukan. Saya bukan ingin melakukan cocoklogi antara inovasi, disrupsi dan bagaimana manusia berevolusi mulai dari simpanse atau orang utan.

Namun, saya ingin menggaris bawahi pemahaman Charles Darwin yang mengatakan bahwa bukan mereka yang paling kuat ataupun yang paling pintar dari seluruh spesies yang mampu bertahan, melainkan mereka yang paling dapat menyesuaikan (atau membawa) diri dan beradaptasi dengan perubahan.

Spesies dari kategori inilah yang dinilai Darwin mampu untuk survive dalam ekosistem yang entitasnya saling terkait satu sama lain. Sekali lagi, bukan yang terkuat atau yang terpintar; melainkan mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan situasi.

Refleksi

Ketiga konsep di atas pada dasarnya dapat menjadi bahan perenungan kembali kepada kita bahwa: (1) Inovasi adalah dasar bahwa peradaban manusia ternyata masih ada dan terus berkembang; kemudian, perubahan konstan ini pada akhirnya mengantarkan kepada (2) disrupsi pada model perilaku bisnis maupun interaksi antara produsen dan konsumen di pasar; yang apabila tidak diikuti dengan kemampuan (3) beradaptasi untuk bertahan hidup, tinggal hanya menunggu waktu saja untuk kemudian hilang dimakan zaman.

Telah disebutkan diatas bahwa Hostelworld, AirBNB, AiryRoom adalah salah satu contoh nyata bagaimana wajah industri perhotelan telah berubah sedemikian rupa menjadi room-sharing. Konsep ride-sharing yang diusung Uber, Gojek dan Grab juga telah ‘mengganggu’ abang gojek pangkalan yang mungkin dulunya hanya tinggal ‘menunggu bola’; lain dengan sekarang yang justru ‘jemput bola’.

Tokopedia, Bukalapak maupun Lazada juga telah mengubah lanskap industri retail yang dimana pengalaman belanja telah bergeser ke layanan komputerisasi.

Dari tiga contoh perusahaan-perusahaan diatas, sepertinya jelas bahwa ekosistem industri beberapa waktu belakangan telah merujuk kepada era-digitalisasi. Saya suka menyebut digitalisasi ini sebagai the invisible tsunami; sebuah gelombang tak kelihatan yang pelan-pelan namun pasti menyisir dataran bisnis konvensional yang telah bercokol lama di zona nyamannya.

Pertanyaannya, apakah para penghuni didalamnya akan ikut terbawa arus, atau berjaga-jaga dan bersiap diri untuk menghadapi sengatnya? Perlu diketahui, seringkali kita terbuai dengan zona nyaman dan enggan keluar dari situ.

Kalau Anda sulit membayangkannya, mungkin bangun pagi di hari Senin untuk memulai bekerja setelah dua Sabtu dan Minggu adalah salah satu ilustrasi yang paling dekat dengan hidup kita mengenai bagaimana godaan bertahan di zona nyaman itu begitu menyenangkan.

Implikasi

Perhatikan bahwa kondisi sosio-ekonomi kita juga perlahan berubah. Pernikahan sesama jenis dilegalkan. Perusahaan tidak lagi memandang latar belakang sarjana sebuah aspek penilaian (sebaliknya, malah beberapa golongan masyarakat Indonesia justru melihat bahwa sarjana saja tidak cukup).

Ada juga tekanan sosial untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain karena postingan kerabat dekat di Instagram atau Facebook. Ataupun dua orang muda yang menjalin kasih di sebuah kafe dimana mereka masing-masing asik dengan gadget-nya sendiri. Kasihan.

Terlepas dari kontroversi dan segala dinamika sosial yang ada hari-hari ini, perlu kita mengingat bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali ‘perubahan’ itu sendiri. Dengan demikian, inovasi akan selalu ada dan menjadi sebab disrupsi di hidup kita. Pilihannya kembali kepada kita, apakah akan diam saja atau berjuang bertahan hidup dengan situasi baru yang ada.

Tiga hal ini tidak tertutup hanya pada dunia ekonomi dan bisnis. Hal ini sejatinya relevan dengan setiap aspek hidup kita sehari-hari, baik dalam hubungan, karir, maupun keuangan. Bagaimana kita mampu bertahan menghadapi waktu kedepan bukan sepenuhnya ditentukan dari keberadaan kita hari ini, tetapi justru bagaimana kita menyikapi keberadaan di sekeliling kita pada hari-hari yang akan datang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya