Ibu, Ibu Pertiwi tidak datang lagi .. namun kisahnya malahan lebih seram dan kelam.


Bumi memasuki tahun 1994, di awal bulan yang telah mencapai tengahnya. Aku lahir dari rahim Ibu pertiwi. Saat itu Ibu pertiwi memilih melahirkanku di rumah sakit yang berkeyakinan minoritas. Tentu saja aku bukan anak pertama dari Ibu pertiwi. Sebelum-sebelum aku sudah lahir puluhan, ribuan atau bahkan jutaan saudaraku. Terakhir hitung-hitungannya ada 250 juta yang sudah dilahirkan Ibu pertiwi. Yang kupikirkan bagaimana Ayah dan Ibu pertiwi bercinta dan memutuskan memiliki anak sebanyak-banyaknya, semau-maunya. Aku membayangkan ketika Ibu pertiwi dan Ayah di atas ranjang. Mereka tentu mengawali dengan obrolan-obrolan kecil, perihal untuk apa mereka ada dan hidup. Ibu pertiwi yang menceritakan segala ke Ayah dalam sedunya bagaimana dia berjuang 350 tahun dari peras dan paksaan kelompok-kelompok jauh, yang menyebabkan saudaraku yang lahir saat itu tidak diperlakukan sebagai manusia.

Belum juga luka sembuh, datang lagi suatu kelompok yang mengikrar serupa cahaya dari sebuah benua, 3,5 tahun mereka mencoba menggagahi Ibu pertiwi lewat anak-anak perempuan Ibu pertiwi dan hasil-hasil bumi. 1945 di bulan ke delapan, Ibu pertiwi serasa hidup dan menghirup udara sesegar-segarnya, perjuangan dan pergerakan beserta anak-anaknya menuai bebas, merdeka. Sayang, Ibu pertiwi tidak berpikir secara matang meski usianya sudah ratusan tahun. Kelompok-kelompok jauh dan cahaya yang ia pikir musuh terberat sekaligus memayahkan tubuhnya, malah anak-anaknya yang saling meledak setelah 20 tahun merdeka itu daya payahnya lebih dahsyat. Ibu pertiwi pasrah, bagaimana bisa ia melerai saling bunuh anak-anaknya sendiri kala itu hanya untuk kekuasaan.

Ayah yang mendengar cerita Ibu hanya tersenyum, entah apa itu maksudnya, senyumnya serasa bermakna “segalanya itu memang sudah diatur dan hanya perlu kau tanggung”. Ayah mencium Ibu pertiwi lalu diiringi dengan bebunyian kancing-kancing baju yang dikenakan Ibu pertiwi lepas dengan merdunya, gaduh yang aduh dan nikmat yang khidmat mengiringi pergumulan mereka di ranjang dengan ruangan yang ukurannya mungkin mendapatkan porsi cukup lega.

Jika kau tanya Ayahku ada di mana?, Ibu pertiwi sempat memekikan dengan lugas, bahwa Ayah ada di tempat yang tidak ada dalam sebuah peta, ruangan, atau batas pikiran manusia.

Ibu pertiwi hanya bilang bahwa jika tiap saudaraku di antara 250 juta ada yang meninggalkan bumi, mereka akan disemogakan berada di samping Ayah. Sebuah penjelasan yang tidak terlalu memuaskanku. Tapi Haruki murakami di dalam cerpen kota kucing sempat mengatakan jika tanpa penjelasan kau tidak mengerti, bagaimana kau akan mengerti dengan penjelasan.

**

4 tahun setelah aku lahir, Ibu pertiwi seperti mendapat sebuah kutukan kembali setelah beratus-ratus tahun usianya. 1998, saudara yang paling kami percaya untuk mengurus Ibu pertiwi, kami paksa untuk berhenti dan menyerah. 32 tahun yang begitu penuh intrik, propaganda, cucuran darah sesama saudara dan kekangan kepada saudara-saudara lain. Muak, kami tidak perlu saudara seperti itu. kami butuh babak baru, sebuah reformasi. Namun ingatan Ibu pertiwi akan ratusan tahun lalu muncul setelah di tahun yang sama, saudara kami, yang sedikit berbeda, namun mereka ini juga lahir dari rahim yang sama seorang Ibu pertiwi, yang tidak dianggap oleh saudara lain. Dibantai dan diperkosa secara brutal di jalanan. Gila. Aku menyesalkan usiaku yang 4 tahun. Bagaimana kau bisa baik-baik saja sesama saudara saling bunuh dan bersetubuh paksa. Gila.

Reformasi yang dituntutkan tercapai. Namun saudara-saudara yang tidak dianggap itu yang menjadi korban, kembali tidak diperlakukan sebagai manusia. Produk hukum yang dicetuskan dari pengurus-pengurus Ibu pertiwi tidak mampu berkata-kata. Didiamkan hingga busuknya menghilang. Biadab. Bahkan ada beberapa saudaraku yang vokal untuk peduli hak-hak mereka yang menjadi korban, diberangus oleh “hantu” yang diciptakan para pengurus-pengurus Ibu pertiwi. Kenapa hantu? sekali lagi, hukum telah menjelma barang antik yang sudah di museumkan. Kenapa pengurus itu yang menciptakan ? agar posisinya sebagai pengurus tetap aman. Sebab "mata pencahariannya" tidak mau diganggu hal-hal remeh seperti hak asasi manusia yang tidak penting bagi perut dan hasrat mereka.

***

Sekarang usiaku sendiri sudah 23 tahun. Ibuku, Ibu pertiwi masih sehat. Sebuah klaim dari pengurus beliau katanya, pengurus-pengurus yang omongannya sudah seperti bau busuk belerang kawah gunung berapi. 23 tahun hidup meringkuk di tubuh Ibu pertiwi membuatku semakin melihat bahwa Ibu pertiwi tidak baik-baik saja. Saudara-saudara yang kami percayakan untuk mengurus malah mengenyangkan dirinya sendiri dengan cara yang apa-apa saja. Tiap datangnya pemilihan pergantian pengurus Ibu, ada saja saudara yang berkelompok dan menebar kebencian dengan isu-isu yang sudah seperti menjadi turun temurun yang menyebabkan terkotak-kotaknya sesama saudara kepada saudara lain. Padahal mereka-mereka ini yang ada di bawah, semestinya berserikat, dan mengingatkan saudara yang di atas, yang menjadi pengurus, jika segalanya tidak benar. Beberapa kelompok yang menebar kebencian memang sudah dipelihara oleh calon pengurus Ibu pertiwi. Kelompok ini mau-mau saja dipelihara sebab digadang-gadang Ibu pertiwi tidak memberi kesejahteraann baginya, istri dan anak-anaknya. Pengurus-pengurus ini sudah menjelma serupa kelompok-kelompok jauh yang 350 tahun memeras Ibu pertiwi. Dan hasil perasannya digunakan untuk memelihara saudara lain yang sudah seperti kelompok ternak.

****

Hal kompleks lain, aku dan beberapa saudaraku yang lain seperti sudah diarahkan dan diprogram untuk ikut apa kata pengurus-pengurus yang menurut mereka sudah benar dan final tapi menurutku dan mungkin menurut saudara-saudara yang sepemikiran denganku, segala hal itu bisa saja salah kaprah. Hasilnya, kami tidak bisa menikmati esensi hidup sesuai apa yang kami sukai dan hasrati. Rutinitas bagaikan mesin yang dihidupkan sedari subuh sampai petang menjelang pulang.

Sekali lagi, ini fenomena biadab. Dan aku, mengutuk usiaku kembali, 23 tahun, yang hanya berteriak lewat tulisan.

Pengurus-pengurus ini, meski terus berganti dan tetap saja laku-laku mereka yang tidak sedap itu berulang dan terus begitu, yang bertahun-tahun memekikkan untuk mengajak bela Ibu pertiwi, membela negara, menumbuhkan cinta nasionalisme, diiringi melabelkan untuk jangan memberi ampun sembari menggebuk kepada suatu ideologi kanan ataupun kiri yang mengkritisi sendi-sendi pancasilais, aku hanya bisa mengatakan ..

“oh sesungguhnya aku tidak mau menjadi anak durhaka, Ibuku, Ibu pertiwi, negaraku, namun mecintaimu apakah sebenar-benarnya propaganda paling rapi ? agar si busuk tetap mendapatkan posisinya ? lalu hak asasi dan kemanusiaan apa akan dibela jika kalau ada untungnya bagi bebauan busuk yang serupa mereka ?