Menikah itu bukan masalah perkara yang mudah untuk dihadapi. Butuh kekuatan materi dan spiritual yang cukup tangguh untuk mampu menghadapinya dengan baik dan bijak. Hidup ini bukan seperti berada di negeri dongeng yang penuh dengan imajinasi kehidupan yang serba mewah. Terkadang memang ada hikmah yang dapat kita petik dari ceritanya, namun alurnya tak patut kita jadikan sebagai sumber pengarah kehidupan kita yang sebenarnya.

Hidup ini terkadang lurus kadang juga berliku-liku. Tergantung jalan mana yang kita hadapi dan lewati. Tentu hati ini akan terasa sangat nyaman ketika berada pada jalan yang lurus, itu adalah hal yang alamiah, karena pada hakikatnya hidup manusia itu memang seperti itu adanya. Namun sayangnya, sang penentu skenario kehidupan itu tak sependapat dengan pemikiran itu.

Advertisement

Hidup ini tak bisa dijadikan lurus dan datar saja, bumi pun tampak sangat indah karena liku-liku tanahnya yang kadang lembut, kasar, bahkan tak teridentifikasi oleh manusia. Benar kata orang dulu, kalau hidup ini terus dimanja, maka dewasanya ia tak akan mandiri. Maka itu semua tak jauh berbeda dengan apa yang manusia lewati pada saat ini.

Kehidupan manusia butuh tantangan, butuh ujian yang nantinya akan membuat manusia itu benar-benar tangguh melawan arus kehidupan yang begitu deras menghantam. Manusia kuat karena cobaan, manusia dewasa karena kerasnya alam yang diarungi, dan manusia menjadi pintar karena adanya ujian yang sudah dihadapinya.

Menikah, setiap insan memang berhak untuk menikah. Tak ada satu pun Negara di dunia ini yang melarang warganya untuk memiliki pasangan hidup. Tuhan memang menciptakan manusia ini berbeda jenis, sehingga ia dapat mencintai satu sama lain, serta dapat saling memiliki satu sama lain. Hati manusia memang harus disatukan, agar kelak muncul jagoan-jagoan baru yang menjadi penerus generasi bumi yang berikutnya.

Advertisement

Bumi ini memang tak boleh punah gara-gara kurang populasi, akan terasa sangat lucu memang apabila bumi ini harus punah gara-gara manusia sebagai sang pemimpin tak mampu untuk melanjutkan keturunan mahkotanya. Bahkan binatang pun tak bisa tak berproduksi dalam menjalani hidupnya, apalagi manusia yang sudah sangat jelas merupakan mahluk yang paling pintar dan mulia di hadapan sang pencipta, meskipun pada masa awal penciptaannya sang mahluk merah tak setuju atas kehadirannya.

Bahkan sang mahluk putih pun pada saat itu tak menginginkan kehadiran sang manusia di dunia ini karena anggapan mereka manusia hanya akan menjadi bumerang bagi bumi dan ciptaan tuhan yang lainnya. Namun tuhan tak dapat diatur, ia maha tahu akan segalanya, ialah sang penulis skenario kehidupan didunia ini. Latas siapa yang berani melawan sang pencipta yang memiliki kekuatan yang maha dahsyat.

Tak ada orang yang boleh melarang orang lain untuk menyatukan cintanya melaui sebuah pernikahan yang suci nan sakral. Tak ada yang boleh. Melarang berarti merampas kehidupan orang lain. Merampas kehidupan orang lain berarti perbuatan kriminal, dan kriminal itu sudah tentu mendapatkan hukuman.

Namun sangat perlu diingat, seperti yang diungkapkan sebelumnya. Bahwa penyatuan dua hati melaui akad yang suci bukanlah perbuatan yang mudah ataupun hal yang berbau enteng. Butuh kesiapan materi dan psikologi agar dapat menjalaninya. Tak mudah menjalin rumah tangga, apalagi pada saat ini perceraian sedang marak terjadi, menjamur di mana-mana bak penyakit yang menyebarkan virus kemana-mana. Sungguh menakutkan memang, tapi sayang tak ada orang yang takut akan hal itu.

Semua orang seolah-olah tak bertelinga menjalani kehidupan yang penuh akan rintangan ini. Jangan sampai pernikahan yang pada hakikatnya bertujuan untuk mempererat tali cinta malah menjadi awal kehancuran dari masing-masing pihak yang terlibat dalam mahligai pernikahan terebut. Pernikahan itu bukanlah ajang pertarungan, siapa cepat dialah yang menang. Pernikahan adalah hal sakral yang tak boleh dipermainkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya