Sering aku mengaku, bahwa merasa memiliki hati seseorang sebelum saatnya adalah perasaan paling bahagia. Merasakan debar setiap mata mulai terlelap, menggigilkan hati ketika tiba-tiba ia tak ada di sisi. Seolah hati ku berdebur di terjang gelombang kebahagian. Tapi sejatinya, semua rasa yang terkira sebagai bahagia itu ternyata hanyalah buih-buih nafsu yang mencoba mencari pembenaran saja.

Ya, saat sebuah hati sudah tertaut pada seseorang sebelum saatnya. Memang ia akan terus mencari pembenaran bahwa yang ia lakukan benar, bahwa yang sering ia namakan sebagai kasih sayang itu nyatanya hanya ucapan di kerongkongan.

Advertisement

Dia hilangkan nikmat ketika masa yang seharusnya tiba menghampiri. Kalaupun tidak, sepotong hati kita tak akan pernah diizinkan bertemu kepada potongan hati yang membuatnya utuh mendampingi. Ya, pertautan yang mendahului waktunya.

Maka sama saja kita melukis hatinya dia, pada hati kita yang terluka. Kenapa? Karna memang hati kita sungguh membutuhkan obat dengan mendekat. Mendekat kepadaNya, terus mendekat dengan ibadah. bukan kepada nama yang terus dilukiskan di hati kita sebelum tiba masanya.


Lalu bagaimana jika sudah terlanjur terjadi? Dan sepotong hati itu di curi tanpa permisi. Meninggalkan setengahnya dengan menyisakan luka-luka, menyisakan nestapa-nestapa.


Advertisement

Sederhana, cukup kita hanyutkan hati kita di tengah-tengah gelombang kesholihan. Dengan sebelumnya, kita telah mengganti layar baru untuk menyeberangi kehidupan yang terus menunggu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya