Banyak orang bilang hidup adalah roda, kadang di atas, kadang di bawah. Sebagai manusia, tak jarang kita merasa senang, sedih, kecewa, semangat, dan bentuk perasaan yang lainnya. That’s what makes us humans, katanya. Perasaan-perasaan inilah yang membuat kita terus maju untuk mengejar hal yang kita mau, atau mundur, atau bahkan meratapi diri sendiri di ujung kamar tanpa tahu harus berbuat apa.

Perasaan tidak bahagia yang kadang datang dalam hidup kita sebenarnya cukup mengganggu. Bentuk perasaan ini jelas membuat kita tidak semangat menjalani hari-hari. Untuk mengawali hari, kita butuh energi positif. Tapi pada kenyataannya, secercah energi positif sebagai bahan bakar tak kunjung datang. Ada banyak alasan mengapa kamu tidak bahagia dalam menjalani hidup.

Nah, 5 alasan di bawah ini mungkin bisa jadi cerminan buat kamu untuk menemukan alasan mengapa kamu tidak bahagia dan memperbaikinya.


  1. Mencoba Mengkontrol Orang-Orang dan Keadaan di Sekitarmu

Menjadi seorang pengkontrol atau bos mungkin menjadi idaman banyak orang. Memiliki wewenang atas sesuatu membuat kita merasa mempunyai kekuatan. Kita berusaha untuk membuat segala sesuatunya terjadi atas apa yang sudah kita rencanakan.

Advertisement

Namun, pada dasarnya hal ini tidaklah semulus yang kita harapkan. Kita hidup dikelilingi oleh orang dengan latar belakang, sifat, dan tujuan yang berbeda. Belum lagi memikirkan kemungkinan unexpected things yang terjadi. Karena hal yang kita coba kontrol tak berjalan sesuai dengan rencana, kita cenderung menjadi kecewa dan tidak bahagia.

Coba tanamkan dalam pikiran kita bahwa sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa mengkontrol orang dan keadaan di sekitar kita. Satu hal yang penting adalah justru bagaimana kita bereaksi akan hal tersebut. Seperti, ketika kita meminta tolong seseorang untuk membeli roti cokelat dan orang tersebut malah membawa roti kacang. Reaksi kita hanya dua; a. marah-marah kepada orang tersebut karena salah membeli roti atau b. menerima roti tersebut dan menikmatinya dengan segelas susu coklat.


Tidak masalah jika kita menaruh ekspektasi kepada seseorang. Tetapi mengertilah ketika kita berekspektasi, tidak semua orang bisa memenuhinya.


2. Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Sangat gampang membandingkan diri sendiri dengan orang lain di zaman serba digital seperti saat ini. Semuanya sudah terpapar di media sosial. Kita sangat gampang iri dengan apa yang orang posting di media sosialnya. Kadang kita tidak sadar bahwa apa yang orang-orang bagikan di media sosialnya, belum tentu sama dengan kehidupannya di dunia nyata. Kita selalu ingin menunjukkan yang terbaik di media sosial, termasuk foto yang ingin kamu masukkan di instagram harus melalui segelintir proses penyuntingan dan pemberian filter.


Menurut Daniell Koepke, pendiri Internal Acceptance Movement mengatakan, Ultimately however, making comparisons doesn’t help us to feel fulfilled. If anything, it makes us feel more inadequate and unsure of ourselves. The reality we often forget is that there is no one correct path in life. Everyone has their own unique journey. A path that’s right for someone else won’t necessarily be a path that’s right for you.


Setiap orang punya jalannya masing-masing, punya waktunya sendiri. Kita mungkin pandai dalam suatu hal, tapi mungkin tidak mahir dalam hal lain. Dan sebaliknya. Nikmatilah apa yang saat ini kamu punya karena kita tidak tahu mungkin banyak orang di luar sana sedang bersusah payah mengejar apa yang saat ini kita punyai.

3. Memandang Buruk Setiap Kesalahan dan Kegagalan

Kita sering melarang anak kecil untuk tidak mendekati tombol air panas yang ada di dispenser. Kita sudah katakan itu adalah air panas dan anak kecil tersebut tetap mendekat. Dan kemudian anak kecil tersebut berhenti mendekati tombol air panas karena sudah pernah terkena air panas dan dia tahu itu sakit. Bagaimana dia tahu mendekati tombol air panas tersebut berbahaya jika dia tidak mengalaminya terlebih dahulu?

Orang-orang bilang, manusia belajar dari kesalahan. Seperti kata Chris Martin sang vokalis Coldplay, If you never try then you never know. Di setiap kesalahan yang telah kalian buat, kalian belajar. Kegagalan, sakit hati, tangisan, pengkhianatan dan hal-hal menyedihkan lainnya akan membuat kalian jauh lebih kuat.

Kita tahu, melewati hal-hal semacam ini mungkin akan menghabiskan banyak energi kita. Tapi percayalah, hal semacam inilah yang akan memberikan kita pelajaran berharga. Lebih baik gagal daripada menyesal. Karena dengan kegagalan, setidaknya kita sudah pernah mencoba daripada menyesal tidak pernah mencobanya sama sekali.

4. Mengabaikan Diri Sendiri

Selama ini mungkin kita terlalu sibuk dengan masalah dunia, kita sibuk mengejar mimpi, sibuk mengidolakan artis papan atas, dan sibuk bermain bersama teman-teman sampai kita melupakan orang yang terdekat dengan kita. Ya, diri kita sendiri.

Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang sangat mengenal diri kita selain diri kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran kamu dan suara-suara di kepalamu. Sangat penting bagi kita untuk mencintai diri sendiri. Mendengarkan diri kita sendiri adalah salah satu contohnya. Dan bagaimanapun keadaannya, teman terbaik di dunia ini adalah, diri kita sendiri.

5. Mengelilingi Diri dengan Hal Negatif.

Hal-hal negatif itu ibarat penyakit menular. Jika kamu berada di dekatnya, kemungkinan untuk tertular sangat besar. Let’s make it simple, jika kita tidak mau terkena penyakit menular, maka jangan dekat-dekat.

Sama seperti lingkungan di sekitar kita. Jika kita tidak mau dikelilingi dengan perasaan negatif, maka jangan biarkan diri kamu dikelilingi oleh orang-orang yang negatif. Jangan dekat-dekat dengan orang yang suka bergosip, atau dekat dengan orang yang sering menyepelekanmu, atau dekat dengan orang yang suka membenci suatu grup tertentu. Jangan.

Jika kamu berada di lingkungan yang tidak membuat kamu maju, bahkan membuat kamu tersenyum saja susah, maka kalian berada di lingkungan yang salah. Jika kamu tidak mau basah, maka jangan berdiri di bawah hujan.