Adalah hal yang wajar sebagai warga Indonesia yang identik dengan budaya senyum dan sapa melekat sebagai ciri khas bangsa yang ramah. seringkali, bentuk keramahan ditunjukkan dengan melontarkan pertanyaan basa-basi yang bersifat pribadi.

Parahnya, hal itu kadang menimbulkan efek samping berkelanjutan. Salah satunya adalah pertanyaan seputar siklus hidup manusia mulai dari lahir hingga berakhir, dan yang paling sering ucapkan adalah "kapan kamu nikah?" Sadar atau tidak, sifat individu yang berbeda akan merespon pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda pula, selain itu, dampak dari pertanyaan tersebut pun akan berbeda bagi tiap orang.

Demam nikah muda yang semakin santer di "booming" kan belakangan ini, membuat beberapa orang yang memasuki usia dua puluhan mulai sensitif tiap mendengar kata "nikah, lamar, dan tunangan". Bagi mereka yang berstatus pacaran, akan mulai membujuk pasangan ilegalnya untuk melamar, sebagai upaya memastikan jodohnya aman.

Namun sebagian orang yang tidak sedang dalam status apapun mulai merangkai imajinasi dan bertanya kapan bertemu jodohnya tiap kali menerima undangan pernikahan.

Sebenarnya, kecenderungan menikah muda bukan hal yang baru terkenal sekarang. Hal ini sudah wajar sejak dulu khususnya bagi beberapa daerah di Indonesia yang mempunyai budaya nikah muda seperti Madura, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sumatra Barat, dan Indramayu.

Beberapa alasan menjadi menjadi latar belakangnya seperti: kekhawatiran para orang tua akan kehormatan sang anak, khususnya remaja yang mulai menjalin hubungan dengan lawan jenisnya, masalah perbaikan ekonomi, Selain itu ada juga yang dijadikan jaminan untuk melunasi hutang orang tua. Serta ali-alih menyatukan dua pihak keluarga melalui proses perkawinan.

Ke semua hal diatas kebanyakan karena keinginan keluarga. Beberapa pernikahan tidak didasari perasaan saling suka. Alhasil tingkat perceraian menjadi tinggi sebagai akibat kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Faktor usia juga menentukan kelanjutan rumah tangga pasangan muda tersebut, mayoritas dari mereka menikah di usia 15 tahun yang merupakan masa-masa dengan tingkat ego yang sangat tinggi.

Usia 15 tahun keatas seharusnya menjadi masa berjuang mengumpulkan prestasi demi meraih kemerdekaan atas terbebasnya diri dari belenggu keterbatasan ilmu pengetahuan. Banyak diantara mereka sebenarnya memiliki cita-cita yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat universitas bahkan berkhayal untuk bekerja dengan jabatan yang notabene memerlukan level pendidikan tinggi.

Ada juga yang berharap pada usia itu, bisa mengikuti berbagai kompetisi sesuai keahliannya, menghabiskan masa sekolah bersama teman, hingga berkeliling dunia demi prestasi. Namun keadaan dan waktu melaju cepat seolah enggan memberi kesempatan untuk mewujudkan impian dan memerdekakan mereka dari hal yang mengikat untuk dipatuhi.

Dari hal di atas, terlihat jelas perbedaan yang terjadi antara pasangan nikah muda karena faktor keadaan dan mereka yang masih lajang berusia 20 tahunan, yaitu kesempatan. Sekarang, beberapa orang yang baru saja memasuki usia 20an mulai bingung karena jodoh tak kunjung datang, namun sadarkah kita, ada hal besar yang sangat patut disyukuri dibalik masa penantian pasangan yang "dianggap" lama datangnya.

Ada sekelompok orang yang pada usia itu sangat ingin bebas berprestasi dengan kemampuannya sendiri untuk lebih produktif dengan mengembangkan potensi diri. Memang, menginjak usia dua puluhan ideal untuk memulai biduk rumah tangga. Namun, diusia itu, jika status sudah berubah menjadi suami atau istri, sedikit banyak akan membagi fokus hidup, lantas apakah sudah cukup segala yang kita lakukan untuk membalas jasa orang tua?

Apakah sudah ada sumbangan prestasi untuk mengharumkan nama bangsa? Sudah maksimalkah balas jasa ke Negara atas pajak yang sudah membiayai hidup kita? Sudahkah banyak pengalaman hidup untuk bekal bercerita?

Semua itu tak akan pernah bisa kita raih sebelum kita benar-benar berkontribusi dan terus berkarya. Isi masa-masa "menunggu" dengan tidak melulu menjadi mellow dan saling menyindir masalah pernikahan di sana sini dengan bertanya "kapan nikah", dengan tidak berdiam diri dan berkhayal perihal jodoh, dan yang paling parah, jangan menjadikan pernikahan sebagai ajang berlomba hingga mendaftarakan diri di website biro jodoh, tak salah tapi raihlah predikat "jomblo high quality". Satu hal yang patut diyakini, JODOH DITANGAN TUHAN. Terdengar klise, namun itulah faktanya.

So, bersyukurlah jika diusiamu sekarang, kau belum diberi amanat mengurus rumah tangga, Tuhan ingin dirimu berbakti dan fokus pada kedua orangtua dulu, menyumbangkan prestasi atas nama pribadi pada negeri, bekerja keras dengan usahamu sendiri untuk membayar jasa pajak, serta memperkaya prestasi, pengetahuan, dan pengalaman pribadi agar tak kehabisan bahan cerita.

Jadi, jangan lagi merasa terjajah tiap mendapat pertanyaan tersebut, dan katakan dalam hati, "raise your head up, it’s just a matter of time".

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya