Beberapa hari yang lalu tiba-tiba ada seseorang yang bertanya seperti itu. Kalimat itu membuatku langsung berandai-andai. Hebat juga ya kalau kita punya mesin waktu. Kira-kira kalau kalian punya mesin waktu, kalian mau pergi ke mana? Kenapa kalian mau pergi kesana? Terus kalian mau apa kalau bisa pergi kesana?

Aku ? Kalau mesin waktu itu ada aku ingin pergi ke suatu masa. Mundur ke belakang. Lebih tepatnya masa lalu. Kenapa ? Ada yang perlu diperjelas dan diselesaikan. Bertahan sekian lama untuk menunggu itu bukanlah keputusan mudah. Menjalani hari dengan penantian yang terlihat semu. Tidak tahu ujungnya dan kapan akan berakhir. Kau bilang jangan terlalu dalam berperasaan. Ya, aku memang terlalu dalam dalam berperasaan.

Advertisement

Tapi, bukannya seorang perempuan yang tak lain selalu dikuasai oleh perasaan? Sedangkan kamu adalah makhluk yang seakan sengaja tidak ingin peka dengan perasaan itu. Bagaimana kalau kita kembali ke masa lalu dan kita bertukar posisi? Kamu menjadi aku yang katamu terlalu dalam berperasaan dan aku akan menjadi makhluk yang tidak ingin peka seperti dirimu. Aku ingin lihat seberapa lama kamu akan bertahan dengan perasaanmu itu.

Bukannya aku memaksamu untuk menjadi aku. Tapi kamu harus tahu yang kamu lakukan itu berlebihan. Apa yang kamu lakukan membuat orang lain selalu salah sangka padaku. Aku tahu, aku yang terlalu dalam berperasaan. Bodohnya lagi status teman selalu aku lontarkan pada mereka yang selalu bertanya padaku tentang dirimu. Seperti tidak sinkron antara hati dan lisanku.

Sampai sekarang aku masih bertahan dengan sikap berlebihanmu itu. Sejauh ini aku masih bertahan dengan semua itu. Hingga ada yang bilang padaku, seberharga kah dia untukmu? Aku tidak mengerti. Entah apakah dia memang berharga atau aku yang memang tidak ingin menyerah dan berhenti untuk menunggu? Dengan mesin waktu itu aku ingin mengajakmu ke masa itu dan kau harus berkata padaku

Advertisement

Jangan terlalu dalam berperasaan padaku, jangan keras kepala dengan perasaanmu itu, apalagi bertahan untuk menunggu. Karena di masa mendatang aku tidak memilihmu

Itu yang lupa kau sampaikan dulu padaku. Hingga aku tidak perlu susah payah untuk bertahan dengan perasaanku sejauh ini. Kenyataannya mungkin memang begitu. Untuk saat ini kau sudah memilih yang lain. Apakah aku masih pantas bertahan? Untuk apa? Berkali-kali aku mencoba menjauh. Tapi, lagi-lagi kau datang dengan sikap berlebihanmu itu, membuat runtuh benteng yang sudah kubangun.

Sampai kapan mau seperti ini? Sampai kapan kau berusaha tidak ingin peka? Pikirkanlah. Hatiku bukan tembok yang bisa kau hantam berkali-kali tapi tetap kokoh. Hatiku sudah berkali-kali kuperbaiki tapi begitu saja kau runtuhkan lagi. Dan akan terus begitu sampai kau benar-benar peka dan mengerti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya