Tahukah kamu kejadian tubuh pendek (Stunting) pada balita menjadi permasalahan yang banyak terjadi setiap tahunnya? Balita dengan kondisi Stunting akan mengalami berbagai permasalahan ketika mereka beranjak dewasa. Penerimaan sosial dan kesehatan mungkin menjadi beberapa risiko yang harus dihadapi orang-orang penderita stunting. Stunting menggambarkan kondisi kurang gizi pada anak usia balita yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Kejadian stunting pada balita menjadi perhatian serius karena akan memberi dampak pada pertumbuhan dan perkembangan fisik.

Disamping itu juga akan berpengaruh pada perkembangan dan kemampuan berfikir pada anak. Pada balita yang mengalami stunting memiliki risiko tinggi terjadinya penurunan pada kemampuan berfikir dan peningkatan risiko penyakit degeneratif dimasa yang akan datang. Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang disebabkan karena terjadinya kerusakan atau penghacuran terhadap jaringan atau organ tubuh. Proses dari kerusakan ini dapat disebabkan salah satunya karena gaya hidup yang tidak sehat. Cara mudah untuk mengetahui balita yang mengalami stunting adalah dengan membandingkan tinggi badannya dengan teman seusianya. Sehingga dapat dilihat bahwa anak tersebut mengalami stunting atau tidak.

Menurut Peraturan Depkes RI tahun 2016, pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015–2019 terfokus pada empat program prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan angka kejadian balita bertubuh pendek (stunting), pengendalian penyakit menular dan penyakit tidak menular. Berdasarkan isi sasaran pokok Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015-2019 departemen kesehatan RI, bahwa upaya peningkatan status gizi masyarakat menjadi poin penting termasuk pada masalah penurunan angka kejadian balita bertubuh pendek.

Menurut Semba and Bloem tahun 2001, pada dasarnya tingkat kejadian stunting ini akan dipengaruhi oleh beberapa jenis faktor, yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Faktor yang secara langsung berhubungan dengan stunting adalah pola makanan dan status kesehatan, baik yang menderita penyakit infeksi, berat badan lahir rendah, maupun faktor genetik. Kemudian faktor tidak langsung yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita diantaranya kebiasaan pemberian makan, pelayanan kesehatan, kondsi lingkungan rumah tangga, dan faktor ekonomi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada balita di Mesir bahwa anak yang mengalami stunting mengalami dampak negatif lebih besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka . Pemberian vitamin dan mineral seperti kalsium, zink, magnesium, dan vitamin A serta beberapa vitamin dan mineral lainnya mempunyai peran penting dalam kondisi perbaikan pertumbuhan linear mereka. Konsumsi kalsium yang rendah akan meningkatkan angka kejadian stunting pada balita. Permasalahan ini dihindari dengan konsumsi makanan sehat dan meningkatkan konsumsi susu yang mengandung tinggi kalsium.

Advertisement

Kalsium yang terkandung didalam susu sapi sangat penting untuk membantu masa pertumbuhan anak usia balita. Hal ini sangat penting pengaruhnya untuk mengurangi kejadian stunting pada balita. Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh American Journal Clinic Nutrition tahun 2016, penelitian yang dilakukan pada anak-anak di Banglades menyatakan bahwa asupan serbuk mineral dan vitamin dapat mengurangi kejadian stunting secara signifikan. Menurut survei perusahaan riset global Canadean pada tahun 2004, terdapat fakta bahwa konsumsi susu sapi segar di Indonesia masuk dalam kategori rendah di tingkat Asia. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab angka kejadian stunting yang tinggi di Indonesia.

Selain itu faktor secara langsung, kejadian stunting juga dipengaruhi oleh faktor tidak langsung. faktor pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kebiasaan pemberian makan pada anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi lebih terbuka untuk menerima informasi mengenai cara pengasuhan anak yang baik, kesehatan anak, pendidikan dan sebagainya. Menurut studi literatur, diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak balita yang mengalami stunting.

Hubungan tinggi badan anak dan tingkat pengetahuan gizi ibu yang diteliti di Mozambique menyatakan bahwa pendidikan ibu dan pengetahuan mengenai gizi sangat penting dan memiliki manfaat besar bagi perkembangan antropometri anak-anak di Mozambique. Faktor kebiasaan pemberian makan pada balita stunting juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan di Banjarbaru yang menyatakan bahwa pengetahuan orang tua mengenai keseimbangan gizi dan manfaatnya terhadap kesehatan yang direalisasikan melalui kebiasaan pemberian makan anak memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan tinggi badan anak.

Advertisement

Berdasarkan berbagai hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi balita stunting, bisa kita ketahui bahwa konsumsi susu sapi dengan jumlah yang sesuai akan dapat mendukung kebutuhan gizi balita dalam masa pertumbuhan dan perkembangan . Kebutuhan akan kalsium yang dapat dipenuhi dengan mengonsumsi susu sapi setidaknya sebanyak 150 ml setiap harinya. Jumlah ini akan mencukupi kebutuhan asupan kalsium pada balita sejumlah 500 mg kalsium per hari.

Selain itu pengetahuan orang tua yang benar mengenai gizi yang dibutuhkan anak juga akan membantu menurunkan angka kejadian stunting pada balita. Kebiasaan pemberian makan yang tepat, seperti pola makan dan bahan apa saja yang harus diberikan kepada anak untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, aktifitas fisik anak yang harus diimbangi dengan pemberian makanan yang sehat dan juga pemberian suplemen untuk perkembangan otak anak merupakan beberapa cara untuk optimalisasi tumbuh kembang anak. Jadi, mari kita dukung program pemerintah untuk dapat mengurangi angka kejadian balita dengan stunting di Indonesia. Agar generasi masa depan Indonesia menjadi generasi yang berkualitas dan lebih sehat.