Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial

Ungkapan nenek moyang kita–yang ternyata bukan hanya sekadar pelaut–itu sudah tak asing lagi didengar. Kebutuhan dasar manusia (Abraham Maslow), seperti kebutuhan dihargai dan aktualisasi diri membuat manusia berinteraksi dengan makhluk di sekitarnya, baik benda mati maupun benda hidup. Manusia itu adalah aku dan kamu.

Interaksi terjadi saat kita memiliki waktu luang yang memacu kita untuk melakukan kegiatan baik secara kelompok maupun sendiri. Pernyataan tersebut kini diasosiasikan menjadi nongkrong. Pengertian nongkrong semakin disempitkan dalam persepsi masyarakat. Sebutan nongkrong lebih dikenal jika kita sedang berada di suatu tempat dan melakukan kegiatan baik berkelompok atau sendiri.

Menoleh ke belakang. Jauh ketika era reformasi belum muncul. Gerobak yang berisi berbagai nampan makanan ringan nan murah hingga nasi kucing bersama tempe oreknya telah hadir sejak lama di sepanjang jalanan Kota Yogyakarta. Bahkan saat terang berganti gelap, sekerumunan gerobak dengan sigap mengambil tempatnya masing-masing seraya pemiliknya menggelar tikar. Iringan lagu khas Jawa dari petikan gitar dan alunan suara yang masih medok tatkala membuat malam semakin semarak menyambut kedatangan pembeli. Hakekatnya itu merupakan bagian dari kegiatan nongkrong. Berarti, kita sebenarnya sudah mengenal kegiatan nongkrong sejak dulu. Nongkrong yang lebih merakyat dengan makna positifnya.

Beberapa tahun belakangan ini istilah nongkrong kian booming. ‘Rumput tetangga lebih hijau’ menjadi pemicunya. Angkringan dan warung-warung mulai ditinggalkan meski tak sepenuhnya. Satu per satu peminatnya mengubah arah haluan. Saat orang luar negeri memuji budaya kita, tetapi kita malah mencari suatu gaya dan pola hidup yang lebih diakui oleh masyarakat yang mengaku modern (western) sekarang ini.

Advertisement

Umumnya, anak sekolah (SMA), mahasiswa, dan eksekutif muda yang nongkrong di tempat-tempat nongkrong. Pada tahun 2009, 7-Eleven mulai membuka gerainya di Indonesia. Saat itu, tempat ini menjadi salah satu pilihan nongkrong dari sedikit pilihan yang ada. Seiring adanya peningkatan kebutuhan dari masyarakat, pertumbuhan tempat nongkrong pun semakin menggeliat. Hampir di setiap sudut jalanan kota kita temui tempat-tempat nongkrong yang sudah dipenuhi kerumunan anak-anak yang mengaku modern itu.

Bukan hanya sekadar menghilangkan rasa lapar, melainkan banyak motif orang nongkrong. Beberapa orang memiliki motif, seperti mengerjakan tugas, menghilangkan penat dan kesibukkan yang dijalani sehari-hari, diskusi atau rapat dengan komunitasnya, kangen-kangenan bersama teman lama, menunggu kemacetan yang tak kunjung terurai, bahkan ada yang sekadar numpang foto dan update lokasi.

Numpang foto dan update lokasi menjadi sebuah motif yang sangat menggelitik. Ini bisa saja terjadi sebagai akibat adanya pergeseran budaya dalam sebagian masyarakat yang mengaku modern. Hal ini menimbulkan sifat konsumtif yang tinggi dan meningkatkan hedonisme. Tak jarang semua tempat rela dikunjung hanya demi kedua hal tersebut. Perkembangan teknologi juga mendukung munculnya motif tersebut. Kehadiran aplikasi Instagram dan Path dimanfaatkan secara negatif menjadi ajang pamer foto dan update lokasi. Pamer tersebut menjadi sebuah bentuk aktualisasi negatif bahwa, “Nih gua bisa kesini. Masa lo engga?” atau “Ini mewah loh.”

Perlombaan berbagai tempat nongkrong tentunya tak kalah sengit untuk menarik minat masyarakat dengan mendesain lokasinya se-cozy dan seunik mungkin, tak lupa fasilitas wi-fi juga mempengaruhi. Hingga tak jarang terdapat beberapa tempat nongkrong yang menomorduakan rasa dari makanan yang ditawarkan. Karena masyarakat bukan lagi membeli makanan, melainkan membeli pola dan gaya hidup. "Ada rasa yang beda saat mereka memasuki dan makan di tempat-tempat yang identik dengan panganan elit. Tidak hanya rasa, tetapi mereka membeli pola dan gaya hidup, agar mereka menjadi orang modern inilah efek sampingan dari pencitraan media melalui iklan-iklan," kata Kholek (seorang sosiolog). Ini menimbulkan efek yang tak baik, hingga tak salah jika beberapa orang masih menganggap bahwa nongkrong adalah kegiatan yang negatif dan tidak produktif.

Membeli pola dan gaya hidup seperti itu sangat berkorelasi dengan pergaulan yang dijalani. “Dirimu mencerminkan pergaulanmu.” Saat salah bergaul, terjerumuslah dalam kesalahan. Pulang ke rumah larut malam setelah nongkrong bersama teman dalam keadaan mabuk. Hingga terjebak dalam sex bebas dan narkoba adalah efek (image di masyarakat) buruk dari nongkrong, selain gosip.

Nongkrong (sebenarnya) bukan seperti itu! Itu bukan budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Masih banyak hal positif yang sebenarnya bisa kita gali dalam interaksi saat nongkrong. Salah satunya, nongkrong menjadi sarana bertukar informasi dengan orang lain untuk mengasah pola pikir kritis kita. Obrolan yang terjadi memberikan pengetahuan baru yang tak jarang menimbulkan rasa keingintahuan yang lebih. Menambah bank ilmu pada diri.

Selain itu, daripada untuk ajang pamer sebaiknya benar-benar digeluti dengan serius seperti menjadi fotographer makanan yang dapat di-upload di instagram. Tentunya hal ini pun menjadi semakin baik karena dapat membentuk brand image tersendiri bagi kita di kalangan masyarakat. Memperluas atau mempromosikan bisnis untuk mencari pelanggan pun dalah keuntungan lain dari nongkrong. Awalnya hanya sekadar menceritakan ke teman nongkrong, info bisnis pun dapat menyebar mulut ke mulut melalui teman kita tersebut.

Nongkrong itu positif saat kita mampu membentengi diri dan ‘pilih pergaulan.’ Tapi kalau keseringan nongkrong juga tidak baik buat kantong papa loh! Hehe

Kadang data dapat menaburkan makna. Kita melihat orang-orang sedang nongkrong adalah data, kemudian kita mengasumsikannya mereka sedang bergosip ataubahkan bertransaksi narkoba (?) Padahal sebenarnya mereka sedang asik membahas dan mencari solusi tentang ke-absurd-an politik di Indonesia yang terjadi saat ini. Jadi, apa makna tentang nongkrong bagi kamu setelah membaca ini?