Peniru adalah salah satu sikap yang acap kali dipakai oleh sebagian besar manusia di Bumi ini. Pastinya, hal-hal yang ditiru adalah sesuatu yang telah teruji keuntungan dan kemuktahirannya. Target yang dibidik juga biasanya terarah ke sosok orang besar dan terkenal.

Ya begitulah, tiru meniru pun menjadi sikap yang wajib diamalkan. Simpel saja alasannya, kalau mau hebat seperti seorang tokoh atau orang besar, ikuti langkah hidupnya dalam menggapai impian dunia. Prinsip seperti ini juga sering dituliskan pada kata-kata bijak yang memotivasi manusia.

Advertisement

Tidak ada salahnya jika memang ada sesuatu hal positif yang mesti ditiru dari orang hebat atau terpandang. Baik itu tentang sikap, prinsip dan pergerakan yang menjadikan hidup lebih hidup. Sah-sah saja. Dilarang melarang, karena itu adalah hak setiap manusia. Bebas.

Walaupun demikian, jika tidak jeli, aktivitas tiru meniru bisa berujung kehancuran dan kemunduran pemikiran. Jiwapun bisa tergadai. Banyak contoh yang terjadi, misalnya saja tentang pandangan masyarakat Indonesia terutama generasi mudanya yang seringkali salah kaprah atas apa yang dilihat, dirasakan dan didengar dari tokoh idola atau panutan mereka.

Apalagi di zaman peradaban modern ini, segala hal tentang budaya, ideologi dan gaya hidup sangat mudah sekali untuk masuk ke setiap penjuru dunia. Serta merta hal ini menjadi objek untuk ditiru oleh manusia. Sederhananya, tinggal pegang remote dan duduk di depan televisi, maka akan ada ribuan objek yang bisa ditiru dan diaplikasikan dalam kehidupan masing-masing kita.

Advertisement

Lalu, apakah sikap tiru meniru oleh masyarakat Indonesia sudah menampakkan hasil yang positif untuk perkembangan negeri? Saya rasa belum. Malah, sikap tiru meniru hanya menjadi sebuah gaya hidup, bukan prinsip hidup. Salah kaprah! Untuk hal ini banyak sekali contoh yang bisa dipaparkan.

Begini. Beberapa waktu lalu, teman saya bercerita tentang salah satu temannya yang tergila-gila musik rock. Setiap ia mengetahui tentang kelompok musik yang mengusung aliran musik cadas, si teman pasti akan segera mengoleksi kasetnya. Dari zaman The Doors, Led Zeppelin, Deep Purple hingga grup-grup rock yang booming di zaman sekarang ini, seperti Avenged Sevenfold. Tidak hanya sampai disitu, ia berusaha ‘menjadi’ sang idola.

Setiap hari skill diasah untuk menguasai sejumlah lagu yang dimainkan grup-grup musik kesayangannya. Dari siang ke malam, dari pagi ke sore. Tekun sekali dia. Tidak perduli dengan ujung-ujung jari yang telah bengkak, gitar tetap di-gejreng setiap hari.

Dari penampilan apalagi. Saat ia suka musik rock di tahun 70-an, rambutpun dibiarkan terurai panjang dan berantakan, celana cupray menyapu lantai, kemeja motif bunga serta aksesoris yang menyemak di tubuhnya. Rock n Roll, katanya.

Selanjutnya, ketika ia menyukai Glam Rock, penampilan juga ikut-ikutan berubah. Rambut gondrong berponi, celana ketat seketat-ketatnya, kacamata tak ketinggalan plus baju-baju kaos bermerk band-band idola seperti Guns N Roses, Skidrow, Motley Crue, LA Guns, Poison dan banyak lagi. Begitulah.

Tidak sampai disitu. Ketika masuk era Grunge, si teman ini makin liar. Melihat sosok Kurt Cobain yang menjadikan ikon Grunge, ia juga kembali mengubah penampilannya. Jeans belel sobek sana sini, kemeja panel kotak-kotak, sepatu kets dan rambut awut-awutan.

Oh ya, saking ingin terlihat sangat Grunge, saat manggung di acara-acara komunitas, ia juga mengikuti gaya Kurt yang suka membanting dan menghancurkan gitar. Alhasil, sejak si teman melakukan aksi tersebut, beberapa bulan kemudian ia tidak bisa manggung. Maklum, gitar hasil tabungan dua tahun telah hancur gara-gara ingin mengikuti gaya sang idola. Kalau Kurt Cobain masih hidup, ia pasti miris melihat kondisi si teman ini. Saya yakin.

Oh iya, saat ini ia mengandrungi modern rock dan metal. Seperti biasa, penampilan juga ikut berubah. Rambut yang biasanya gondrong sekarang dibentuk seklimis mungkin. Kemudian piercing dipasang di sana-sini, pakaian hitam-hitam, sepatu boots dan dengan tekad yang bulat ia juga mentato tubuh-bukan untuk alasan seni tapi untuk terlihat seperti idola.

Begitu cerita dari temannya teman saya itu. Ia mengaku musisi malahan seniman, tapi tidak pernah melahirkan satupun karya dan juga ia tidak memiliki prinsip hidup. Jiwanya dibiarkan terombang-ambing dalam gemerlap euforia belaka. Padahal jika dikaji, tokoh-tokoh yang diidolakannya tersebut adalah sosok yang berpegang teguh terhadap prinsip hidup.

Jim Morrison contohnya, vokalis dari grup musik The Doors ini adalah lambang anti kemapanan di zamannya. Ia adalah pemberontak. Pergerakannya sangat tajam untuk melawan pola kehidupan yang telah mulai keluar dari alur yang hakiki. Begitupun Kurt Cobain. Intinya, setiap musisi rock tersebut menyuarakan sebuah pergerakan, prinsip hidup dan suara-suara perdamaian untuk ketentraman dunia. Tapi itu tidak ditiru oleh si teman dan juga sejumlah generasi muda lainnya.

Mereka hanya berupaya untuk terlihat seperti tokoh idola. Tidak lebih. Jika ada orang yang bilang si teman mirip dengan Jim Morrison atau Kurt Cobain, itu adalah penghargaan yang tak kalah tinggi dibanding Piala Oscar. Selanjutnya, ia terus berupaya sekuat tenaga untuk meniru tampilan dan tampilan. Adapun yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketika si teman juga mencicipi narkoba dan minuman keras untuk lebih mirip dengan idola. Malah ada yang membuat image kalau seolah-olah ia juga depresi layaknya Kurt Cobain. Hm..

Kalau untuk dipaparkan, sebenarnya sangat banyak contoh manusia khususnya generasi muda yang terjebak dengan hal di atas. Ada juga pergerakan Punk yang ketika sampai di Indonesia malah menjadi sebuah style. Padahal Punk adalah ideologi anti kemapanan yang sangat pekat, sebuah pergerakan pekat yang menyuarakan kebobrokan pemerintahan dan juga prinsip hidup DIY (Do it Yourself). Tapi ini juga tidak dipedulikan oleh peniru.

Sebagian generasi muda menganggap Punk adalah tampilan rambut mohawk, piercing, boots, menenggak alkohol dan suka nongkrong serta hidup di jalanan-menurut saya itu adalah gembel, bukan Punk-. Ada juga reggae yang sekarang lagi hangat-hangatnya di Indonesia. Sama juga dengan paparan di atas. Sebagian generasi muda tidak kenal betul tentang perjuangan Bob Marley-ikon reggae-.

Mereka hanya tahu kalau musik reggae berhubungan erat dengan marijuana dan itupun dijadikan gaya hidup sehari-hari. Marijuanapun digunakan untuk ketawa-ketiwi. Sebuah contoh penyalahgunaan yang fatal.

Beberapa hal yang saya paparkan di atas adalah sebuah kebobrokan sikap tiru meniru generasi muda tentang ideologi musik. Jika dikaji lagi, masih banyak hal yang terjadi begitu adanya. Tidak hanya musik, namun juga sejumlah hal yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh besar lainnya dengan bidang-bidang yang beragam. Film pun juga menjadi media yang sering disalah-kaprahkan oleh generasi muda.

Seberapa hebat film mencoba untuk menyampaikan pesan positif untuk penontonnya, tapi itu terlihat sia-sia belaka. Film PK dari India yang menampilkan kritik dan pesan tentang ketuhanan dianggap film komedi terbaik. Kemudian, Film Crows Zero yang banyak menyiratkan pesan positif, sejumlah penonton hanya menangkap tentang semangat berantem dan style dari tokoh-tokoh filmnya-sampai rambut juga dibuat persis dengan Genji (aktor utama Crows Zero).

Selain tentang musik dan film, apa yang ditawarkan oleh dunia maya juga sering disalah-artikan oleh sebagian besar generasi muda di Indonesia. Misalnya saja media sosial yang bernama Facebook. Sudah jelas-jelas di media ini diterangkan untuk membuat sebuah status atau tulisan dengan pertanyaan “Apa yang anda pikirkan?”, namun kebanyakan muda-mudi memanfaatkan media sosial ini untuk curhat, pamer dan malah berdoa.

Jadinya, bukan lagi “Apa yang anda pikirkan?” seharusnya yang ditanyakan oleh Facebook, tapi “Apa yang anda rasakan?”. Jika begini apa yang kita dapatkan? Nol. Media yang seyogyanya bisa dimanfaatkan untuk sharing pemikiran dan menciptakan buah pikiran ini ternyata hanya jadi ajang curhat, pamer dan berdoa di Indonesia. Kasarnya, media sosial jadi tempat bergosip yang luas.

Oh ya, kemudian juga tentang hijab yang biasa dikenakan oleh wanita muslim. Entah apa yang terjadi hingga Hijab telah menjadi sebuah style, bukan lagi untuk menutupi aurat. Bagian kepala ditutup Hijab, namun bagian tubuh tetap saja dibiarkan ‘tembus pandang’. Ada lagi alasannya kalau hijab ‘terpaksa’ digunakan karena rambut yang buruk atau karena wajah yang terlihat manis dengan balutan hijab di kepala. Huft!

Seperti yang saya sampaikan di atas, jika dipaparkan secara detil, tulisan ini bisa terketik setebal novel. Banyak sekali hal yang lari dari hakikatnya. Kesimpulannya, apa yang kita lihat, dengar dan baca dari tokoh besar hanya menjadi sebuah gaya hidup yang berupa tampilan luar, tidak sampai ke dalam (jiwa).

Entah apa yang mengakibatkan hal ini terus terjadi sehingga kita tidak bisa menyerap energi positif dari manusia-manusia panutan yang memiliki pola pikir yang tajam tentang kehidupan. Mungkin kalau Hittler saat ini masih berkuasa dan terkenal dengan aksi-aksinya, saya yakin generasi muda juga akan berlomba-lomba menumbuhkan kumis yang tercetak kotak di bawah hidung.

Apa penyebabnya? Saya masih terus mencari-cari. Apakah hal dari tokoh-tokoh terkenal yang ditangkap oleh mata akan langsung menuju otak, kemudian otak bekerja untuk merealisasikan upaya tiru meniru dari apa yang dilihat mata? Apakah ada sekat yang tebal menuju jiwa, sehingga apa yang dilihat, didengar dan dibaca tidak pernah sampai ke relung sanubari?

Jika memang kita mau untuk menelaah apa yang tersirat, sebenarnya begitu banyak pesan-pesan positif yang tergambar dari setiap tokoh, kejadian, ideologi, sikap, prinsip dan segala macam yang terjadi di Bumi ini. Sayangnya, hal itu hanya menjadi sebuah gaya hidup, lelucon atau hiburan belaka.

Saya pernah menyimak lagu The Panasdalam yang berjudul “Kucing Adalah Anjingku”, dan ini untuk sebagian masyarakat hanya dianggap sebagai sebuah lagu konyol. Padahal jika didengar lebih dalam, lagu ini sangat tajam mengkritisi sebuah pola hidup yang larut dalam sikap tiru meniru yang berujung tipu menipu. Penyelewengan Jati diri-itu menurut saya, entah bagaimana sebenarnya menurut si pencipta lagu (Pidi Baiq).

Menurut saya begitu seharusnya. Hingga hanya lelucon yang ditampilkan oleh seorang tokoh besar atau orang-orang terkenal, dengan penggalian atau pemahaman secara mendalam, beberapa pesan positif akan bisa ditangkap oleh jiwa-bukan otak-. Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh Dewi Lestari (Dee) kepada saya bahwa guru terbaik ada di dalam diri kita sendiri.

Kita akan terus dan terus belajar di Bumi ini, tidak akan berhenti sampai nafas terhenti. Saya menangkap pesan bahwa salah satu makna hidup adalah pembelajaran untuk hidup di alam abadi nantinya. Satu hal lagi, jika terus-terusan melakukan tiru meniru tampilan, apa yang kita dapatkan? Hanya sebuah sikap untuk terus lari dari hakikat diri. Dengan kata lain, kita tidak pernah benar-benar menjadi diri sendiri.

Larut dalam euforia belaka. Jujur, saya juga pernah terjebak dengan aksi tiru meniru idola. Maklum, manusia adalah mahkluk pelupa. Lupa hakikat karena sering meniru. So, jika anda adalah peniru dan juga pelupa, maka hati-hatilah dan jangan sampai tertipu lalu terjebak.

Wassalam.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya