Setiap orang punya kesempatan berubah menjadi baik.

Dalam hidupnya manusia tidak lepas dari kesalahan. Kesalahan besar ataupun kesalahan kecil. Itu sifat manusiawi yang umum ditemui. Tugas manusia hanya berusaha untuk berbuat yang terbaik, menghindari kesalahan semaksimal mungkin.

Advertisement

Namun, ada kalanya manusia melakukan kesalahan dengan sengaja. Nalurinya sebagai salah satu makhluk di alam ini terkadang memaksanya melakukan professional foul dengan alasan yang beragam. Dari sekian banyak alasan, “mempertahankan diri sendiri” adalah alasan yang sering dikemukakan secara sadar atau tidak.

Kesalahan-kesalahan kecil atau besar yang pernah dilakukan seseorang terkadang membuatnya menjadi seorang “pendosa”. Terpenjara karena kesalahannya. Dan dicemooh karena kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalunya.

Pepatah mengatakan “segalak-galaknya harimau tak akan memakan anaknya sendiri”. Pepatah itu bisa bermakna orang yang kejam tak akan mencelakakan orang yang dikasihinya. Bisa juga bermakna sejahat apapun orang pasti mempunyai rasa kemanusiaan.

Advertisement

Kesalahan yang dilakukan oleh setiap manusia. Pasti berdampak buruk bagi dirinya sendiri pada khususnya. Umumnya berdampak buruk pada orang lain. Suatu saat “si pendosa” akan sadar pada kesalahannya. Jika egois mendominasi dirinya dia akan terus berada dalam kesalahannya dan mengulanginya. Namun jika rasa menyesal menguatkan dirinya, dia akan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Bertaubat adalah jalan satu-satunya untuk kembali pada jalan kebenaran. Dan menghindar dari berbagai dosa dan kesalahan di masa lalunya.

Seseorang memang berhak punya penilaian. Dan masa lalu adalah salah satu objek penilaiannya. Namun, terkadang seseorang terlalu melibatkan perasaan kebencian terhadap masa lalu si pendosa dalam menilai, hingga penilaiannya sudah tidak objektif lagi.

Ada pepatah lagi mengatakan “Lebih baik mantan preman, dari pada mantan ustadz”.

Makna pepatah di atas kurang lebih seperti seseorang dengan masa lalunya yang kelam masih punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Asalkan dia punya niat yang bersih, menyesal pada perilakunya dahulu dan meminta ampunan pada tuhan dan/atau seseorang yang pernah disakitinya. Tapi sayang, nasi sudah menjadi bubur, kebijakan sosial selalu mendominasi bahwa keburukan seseorang di masa lalunya dipercaya sebagai watak yang tidak akan pernah hilang.

Buat para “pendosa” jangan pesimis dikatakan “Kamu bukan orang yang dipercaya lagi”. Ada yang lebih maha tahu tentang hati kamu. Jangan khawatir jika orang-orang tidak percaya kamu sudah berubah. Karena mereka tidak tahu dan tak akan pernah bisa menyelami hati kamu yang sudah berubah. Mereka hanya menilai masa lalumu. Maafkan saja mereka, karena ksatria sejati itu adalah si “pemaaf”. Yang penting harus diyakini adalah “Tuhan tahu kita sudah berubah, minta pada tuhan untuk membukakan hati orang-orang yang tidak pernah percaya bahwa kita sudah berubah menjadi lebih baik”.

Semoga, masa lalu buruk yang pernah kita lakukan kita sadari dan sesali, hingga terlahir maaf dan berbuah ampunan. Jangan risau pada manusia yang tidak percaya, karena Tuhan maha tahu segalanya.

Ngamprah, 6 September 2016.

Cs. Maulana

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya