“Perempuan yang terlahir cantik, maka setengah dari masalah hidupnya telah terselesaikan.”


Itu adalah slogan paling sukses dan familiar dikalangan wanita. Tapi, apa benar terlahir dengan wajah cantik saja cukup? Apa benar terlahir dengan wajah cantik menyelesaikan sebagian masalah kita? Jika iya, masalah mana yang terselesaikan?

Advertisement

Cantik itu punya ribuan arti. Cantik itu punya ratusan makna. Dan cantik itu punya puluhan pandangan. Ada yang mengatakan bahwa, cantik itu ada dua jenis : cantik secara fisik dan cantik secara jiwa. Jika, ada sepuluh orang disuruh mendeskripsikan cantik dalam pandangan mereka, maka akan ada sepuluh pendapat juga pandangan tentang cantik.

Ini yang akan sering kita sebut cantik itu relatif. Tergantung siapa yang memandang dan memandangnya dari sisi yang mana. Jadi, cantik itu sebenarnya tidak bisa dideskripsikan secara umum. Karena, semua punya pendapat yang berbeda. Jadi, definisi cantik hanya perlu kita simpan masing-masing dan kita jadikan tolak ukur untuk diri kita sendiri. Tidak perlu memaksa orang lain untuk setuju bahkan harus mau sejalan dengan kita.

Namun, di zaman milineal seperti sekarang, kecantikkan seseorang menjadi tolak ukur dan strata sosial. Rata-rata orang memandang kecantikan hanya dari fisik. Sehingga, beberapa orang punya pendapat yang sama ketika menilai wanita. Kecantikan ini diikuti dengan label yang bermacam-macam. Misalnya, di Indonesia sudah sangat erat bahwa perempuan cantik itu tinggi, putih, hidung mancung, postur tubuh tinggi, rambut lulus dan berbagai macam lainnya. Hal-hal ini juga didukung oleh gambaran public figure yang tampil begitu.

Advertisement

Tapi, kalau melihat hal-hal lain, di beberapa negara ada perempuan-perempuan yang meski tak putih dan tak mancung, mereka tetap memukau dengan kharisma yang ada dalam dirinya sendiri. Indonesia sendiri juga punya perempuan-perempuan yang tetap cantik, seksi, dan eksotis dengan kulit hitam mereka. Jadi, ya sekali lagi, kecantikkan orang tidak bisa diukur dari warna kulit atau sekedar tingkat kemancungan hidung yang dimiliki.

Bahkan, saya pernah baca sebuah artikel, ada seorang designer yang memakai model dengan orang-orang yang punya sedikit kelainan pada kulit mereka. Tapi, mereka tetap bangga. Tidak melihat itu sebagai kekurangan. Saya juga pernah baca artikel, seorang designer yang menjadikan perempuan berkebutuhan khusus sebagai modelnya. Dan, hasilnya mereka tetap cantik di balik kekurangannya. Dalam foto-foto yang diambil, mereka terlihat seperti gadis normal umumnya, mungkin tanpa ada yang menyadari kekurangan mereka. Membaca artikel-artikel ini, membuat saya bangga kepada mereka.


Bahkan, dalam pandangan saya, orang-orang seperti inilah yang memiliki kecantikan mutlak. Mungkin, kalau di Indonesia, orang-orang seperti ini tidak akan dilirik. Hanya dijadikan olok-olok atau dianggap aneh.


Saya sendiri masih melihat yang dijadikan model adalah orang-orang yang secara fisik sempurna jika di Indonesia. Jadi tidak heran mengapa standar cantik di Indonesia masih begitu-begitu saja. Masih sama dari tahun ke tahun. Bahkan, beberapa teman lelaki saya punya prinsip, perempuan itu harus cukup cantik saja, jangan terlalu pintar, karena akan sulit diatur nantinya. Kuno! Ya, pemikiran yang sangat kuno. Tapi, nyatanya laki-laki di Indonesia masih begitu, yang enak dipandang adalah yang pertama.

Lalu, bagi para perempuan, yang penting cantik, dapat yang ganteng dan mapan, masuk rumah tangga, lalu jadi ibu rumah tangga. Kalau ada yang mau menyela, silahkan. Kalau ada yang mau bilang, udah nggak zaman begitu lagi. Tapi, nyatanya masih banyak yang mau begitu.

Seperti sebuah diskriminasi bagi perempuan yang punya wajah biasa saja. Seperti, ketika saya sekolah, akan ada kelompok-kelompok tertentu yang isinya hanya mereka yang katanya cantik—primadona sekolah. Lalu, mereka akan dikenal satu sekolah, dikejar-kejar, dan pastinya suka mematahkan hati cowok-cowok. Mungkin, sebenarnya sampai perkuliahan juga begitu, ya. Tapi, karena kebetulan saya #AnakTeknikCantik, jadi di fakultas saya semua perempuan itu cantiknya paten. Kalau fakultas lain, saya kurang tahu. Mungkin saja, hal-hal begini akan terus ada ditingkat kuliah.

Karena dalam pengamatan saya, yang cantik-cantik ini akan bergaul dengan yang cantik juga, istilahnya yang selevel atau sederajat. Labeling seperti menggucang psikis ternyata. Beberapa perempuan jadi minder, merasa tidak pantas dan sebagainya. Akhirnya, mereka mengurung diri. Apalagi ketika ada proses bully, baik itu secara fisik atau verbal.

Belum lagi yang saya perhatikan di lingkungan dan menurut beberapa teman perempuan saya, ketika beranjak remaja, beberapa ibu-ibu akan nyinyir. Membandingkan anak gadisnya dengan anak gadis tetangga. Padahal, harusnya sikap begini itu nggak boleh dilakukan orang tua. Si anak akan makin merendah, merasa tak pantas. Ketika lingkungan meremehkannya sana sini. Si anak akan membentuk diri semakin merasa tak pantas. Selalu merasa rendah diri dan merasa bahwa terlahir tidak dengan standar-standar kecantikan orang Indonesia adalah mimpi buruk.

Saya tidak menyalahkan orang yang dianugerahi wajah yang rupawan, juga tidak menyalahkan mereka yang akan menjadi pusat perhatian dari perempuan lain. Saya juga tidak memihak pada mereka yang terlahir dengan wajah biasa—percayalah saya juga biasa saja. Ada kalanya wajah rupawan memberikan dampak positif, tapi juga memberi dampak negatif dalam beberapa hal. Begitu juga yang memiliki wajah biasa saja.


Terlahir dalam kondisi cantik atau tidak, sebenarnya bukan jadi masalah. Orang-orang selalu punya penilaian sendiri. Tapi, yang perlu kita kembangkan adalah percaya diri.


Percaya bahwa kita cantik, bagaimana pun rupa kita. Pencipta menciptakan manusia sebagai bentuk yang paling sempurna dari semua ciptaan. Jadi, tidak ada alasan untuk mengutuk diri sendiri. Tidak ada alasan marah, kecewa, ataupun iri dengan kecantikan seseorang. Sekali lagi, bagaimana pun standar kecantikan adalah hal yang tidak pernah ada. Standar kecantikan itu diciptakan lingkungan. Lingkungan yang memberi penilaian dan lingkungan juga yang menetapkannya. Jadi, ini bukan tolak ukur, bahwa kamu cantik atau tidak.

Semua perempuan itu cantik. Cantik dalam caranya sendiri. Boleh memang menjadikan seseorang atau siapapun sebagai role model. Tapi, kita tetap harus punya ciri khas sendiri, yang menjadikan kita cantik dalam pandangan orang. Saya sudah melihat, bahwa beberapa orang salah karena kecantikkannya. Dan beberapa orang tidak terbantu karena kecantikkan wajahnya. Cantik tidak harus berbicara fisik. Kalau kata Kahlil Gibran, cantik itu bukan apa yang terlihat, tapi apa yang terpancar dari dalam hati. Bukan berarti juga, tidak memperhatikan penampilan dan sebagainya. Penampilan perlu, tapi ada yang lebih perlu.

Setidaknya kata Mama saya, “Kalau kamu nggak bisa cantik secara rupa, maka cantiklah lewat hatimu.” Setidaknya, kalau kita merasa wajah kita biasa saja—meski saya yakin, semua orang punya wajah-wajah yang luar biasa—maka kita perlu memupuk kecantikan kita lewat sikap dan hati. Membangun citra lewat cara bersikap, bergaul, dan membawa diri. Proses untuk dilihat melalui kecantikan ini memang lama. Butuh banyak waktu dan butuh banyak hal-hal yang harus dilewati. Karena, minimal harus dilakukan berulang kali, baru akan dapat penilaian yang pas. Beda, kalau kecantikan rupa yang dinilai, hanya dalam sekejap dapat dilihat, karena dalam sekejap juga terlihat.

Mari mempercantik diri secara jiwa. Tapi, bukan berarti melupakan fisik. Nggak perlu dengar standar kecantikan yang gimana-gimana. Cukup dengan merawat diri sebaik-baiknya. Contohnya, rajin mandi dan olahraga. Lalu, kemudian perbanyak senyum, ramahlah ke setiap orang, jaga cara bertutur, dan bagikan energi positif. Minimal setiap perempuan harus bisa charge energi positif seseorang, jadi kalau ada yang dekat, mereka happy. Nggak usah takut, bakal tetap ada laki-laki yang memandang kita cantik. Dan tidak semua laki-laki memandang hanya dari segi fisik.


Jangan terus merendah kalau belum bisa memenuhi standar kecantikan perempuan Indonesia. Jangan pernah menganggap diri tidak cantik atau sebuah kesalahan karena lahir dengan rupa yang biasa aja.


Sekali lagi, slogan “Perempuan yang terlahir cantik, maka setengah dari masalah hidupnya telah terselesaikan” hanya sebuah kebetulan. Cantik atau tidaknya diri, tidak pernah menjadi tolak ukur dalam keberhasilan. Mungkin, memang benar, fisik akan jadi hal pertama. Namun, bukan yang utama. Tidak pernah ada jaminan, jika kita cantik maka semua akan selesai dengan baik. Mau secantik dewi sekalipun, kalau nggak ngerjain skripsi bakal lulus lama. Yang menentukan sukses, berhasil, dan berjalan lancarnya kehidupan kita adalah bagaimana kita menanam benih-benih baik dalam kehidupan.

Itulah yang akan kita tuai kelak. Percantik dirimu dengan hal-hal yang baik, tidak perlu memberitahu siapapun, akan terpancar sendiri. Tidak perlu tampil mencolok juga untuk dilihat kecantikanmu. Jadi, mari menjadi cantik secara jiwa dan fisik. Mari, menyelesaikan masalah-masalah hidup tanpa memandang kecantikkan. Mari berhenti untuk memasang standar kecantikan. Mari berhenti untuk terus memberi penilaian tentang kecantikan. Kecantikan itu tidak abadi, akan hilang pada saatnya. Hidup terlalu kuno kalau hanya mengandalkan kecantikan dan untuk terus mendengarkan standar kecantikan.

Dan hidup terlalu sia-sia untuk sekedar memperdebatkan cantikmu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya