Perempuan yang sering disebut makhluk tuhan paling seksi, mempunyai banyak peran di berbagai bidang. R.A Kartini misalnya, yang berjuang mempersiapkan kemerdekaan tidak dengan gencatan senjata, melainkan melalui beberapa jalur konferensi, tulisan, mediasi hingga menyiapkan tokoh-tokoh intelektual untuk mendapat pendidikan yang cukup dan berkarakter.

Kartini dalam surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon tertanggal 21 Januari 1901, menyatakan betapa penting peran perempuan dalam memajukan peradaban dan moralitas manusia. Pendidikan merupakan hal yang penting untuk membentuk intelektual atau kecerdasan yang tinggi, namun kecerdasan yang tinggi belum menjamin individu memiliki budi pekerti yang luhur. Thats right, Kartini menggaris bawahi “pentingnya pendidikan intelektual dan pendidikan karakter”.

Advertisement

Alhamdulillahnya, pada masa sekarang cita-cita besar Kartini dalam perjuangannya menaikkan intelektual para perempuan Indonesia bisa dibilang sangat terwujud. Namun hal tersebut tidak tanpa tantangan, terutama pada masa milenial sekarang ini.

Jika dahulu R.A Kartini menyatakan bahwa perempuan merupakan Soko Guru Peradaban, yang artinya melalui perempuan, anak-anak menerima pendidikan pertama, belajar merasakan, belajar berpikir, dan belajar berkata-kata. Maka dari sinilah kita sebagai (calon) ibu sudah saatnya menjadi pembendung pengaruh-pengaruh buruk eksternal yang dapat menjerumuskan generasi bangsa.

Sehingga yang terlontar bukan sekedar jadilah dokter, insinyur, ilmuwan, akuntan, pengusaha, dan apapun itu. Namun, ajarkan juga bagaimana anak-anak bisa peka bila melihat temannya belum makan, temannya lagi sakit, mau meminta maaf bila bersalah, mengucapkan terimakasih saat ditolong dan hal serupa lainnya. Begitulah pelajaran-pelajaran moral yang diajarkan oleh orangtua jaman dulu didalam sebuah keluarga, sehingga anak-anak memiliki karakter yang luhur.

Advertisement

Banyak berita-berita moral yang memprihatinkan sering kita jumpai di medsos seperti anak-anak yang sudah berani mengeroyok dan melakukan tindak kekerasan kepada temannya, pemudi cantik yang berkata dan berlaku kasar pada orang yang lebih tua sampai ramainya judgement-judgement, hinaan-hinaan, hingga menjadi pertengkaran serius antar organisasi masyarakat.

Memang, banyaknya individu dengan intelektual tinggi, terkadang menciptakan suatu “pride” tersendiri yang memunculkan tingginya self center dalam pribadi masing-masing individu tersebut, hingga yang kebanyakan terjadi adalah “perasaan aku gak salah kok” atau “siapa loe, gue harus minta maaf”. Dari pride itulah muncul pribadi-pribadi yang susah sekali untuk sekedar bilang maaf, apalagi mengikhlaskan kesalahan teman dengan hati lapang. Disinilah peran orangtua khususnya ibu yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya juga menanamkan akhlak mulia dan jiwa besar, sehingga dengan semakin majunya pendidikan intelektual, tertanam juga pendidikan karakter yang memadai. Itulah yang disebut keseimbangan!

Quality time ibu dengan anak-anaknya merupakan hal yang sangat penting dalam membangun kepribadian anak-anak. Ini bukan bicara soal manakah yang utama, menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Namun lebih ke ranah kebersamaan ibu dan anak adalah pondasi utama karakter anak-anak itu sendiri, tentunya kebersamaan yang dimaksud adalah kebersamaan yang berkualitas ya!

Saya sendiri sering mendapat curhatan-curhatan peserta didik tentang ibu mereka. Ada yang sangat bangga dengan ibunya sebab ibunya menjadi “pahlawan” dikeluarganya karena perjuangan dan pintarnya ibu tersebut dalam managing waktu antara kerja dan mengurus rumah dengan baik dilakoni tanpa asisten rumah tangga. Ada juga yang sangat kecewa dengan ibunya lantaran ibunya selalu lembur kerja pulang malam seakan tak pernah peduli dengan kondisi rumah dan keluarganya. Yapp,, dua keadaan yang sangat berbeda!

Terkadang karena banyaknya permasalahan, sewaktu-waktu sebuah keluarga mengalami situasi dan kondisi yang tidak ideal dan dinamis. Disinilah keseimbangan intelektual dan moral yang dimiliki perempuan sangat berperan. Dimana ibu sebagai jembatan antara anak dan orangtua harus mampu menguasai pola komunikasi yang baik serta dengan penyampaian yang santun pula kepada anak agar dapat membuat anak-anak mengerti dan memahami keadaan keluarga. Sehingga bagaimanapun latar belakang keadaan keluarga, tidak menjadi pengaruh buruk pada anak-anak. Justru sebaliknya, malah menjadi semangat dan motivasi tersendiri buat anak-anak.

Umii…Ibu…saya sangat bersyukur kepada Allah karena atas uluran tanganmu yang lembut itu, kelak semoga anak-anakmu ini dan semua generasi penerus bangsa ini menjadi orang besar dan berjiwa besar yang tumbuh bersama keturunan-keturunannya untuk membentuk keluarga bahagia yang sukses dan mampu mensukseskan banyak orang.

Akhirnya, semoga perempuan Indonesia yang sedang menyiapkan diri menjadi ibu maupun yang terus belajar menjadi ibu yang baik, dimudahkan Allah untuk terus berbenah dan menjadi ibu-ibu masa depan yang berkualitas sehingga tercipta pula generasi penerus yang berkualitas baik secara intelektual maupun moralitas. Jika setiap perempuan berkualitas, maka berkualitaslah suatu keluarga! Jika setiap keluarga berkualitas, maka berkualitaslah negeri ini!

Oleh Nurul Hidayati,

Yang tengah mengisi kemerdekaan RI dengan menjadi ibu dari peserta didik di suatu perguruan tinggi dan tengah menyiapkan diri sebagai calon istri sekaligus ibu yang baik bagi suami dan anak-anak keturunan kelak.

NB : Tulisan diatas bukan untuk menghakimi siapapun, hanya rangkuman dari pengalaman sekitar dan bahan renungan pribadi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya