Aku masih dalam lamunan, membayangkan seorang ibu yang telah mengorbankan segalanya untukku. Ketika memberikan nasihat, hati yang kotor ini sering kali memberontak. Ketika ia marah, hati yang kotor ini sering geram. Tapi ibu, maafkan aku, perlu waktu cukup lama untuk mengenal kemuliaan dan ketulusanmu. Sampai pada waktu tertentu, napasku tersedak karena namamu muncul dalam lamunan kosongku, suara berderangmu menyapa telingaku.

Aku sadar, Tuhan yang maha segalanya, tak meletakkan Nabi dalam rumahku, tak menitipkan malaikat untuk mengasuhku, tak menurunkan peri untuk menyiapkan sarapan pagiku. Lebih dari itu semua, Tuhan justru menggantungku pada timangan seorang wanita yang dalam dagingku terdapat dagingnya, dalam nadiku mengalir darahnya, dan hidupku diwarnai oleh hidupnya.

Advertisement

Mulai saat itu, cerita demi cerita mengukir namanya, membentuk sebuah bangunan khusus dalam hati, mengunci ruang spesial dalam bangunan itu. Kuletakkan nama ibu di dalamnya. Ia yang menyadarkanku makna pengorbanan, karena napasnya terbagi agar aku bisa bernapas, semangatnya terbagi agar aku bisa bangkit, kesadarannya terbagi agar aku menjadi manusia sejati.

Belum ada dalam perut sejarah, seseorang yang lebih berkorban untuk seseorang melebihi pengorbanan ibu kepada anaknya. Hanya saja sejarah tak mencatat detail kejadian yang normatif, sejarah tak peka bahwa ibu melebihi semua tokoh dalam perut bumi, ibu memiliki Cinta Tuhan yang dominan, ibu menyandera kebahagiaannya demi melihat anaknya tersenyum, ibu mengorbankan badan dan jiwanya agar anaknya tak dianggap pecundang, ibu menginjak egonya demi melihat anaknya mengambil posisi penting pada struktur sosial.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam memerintah kebaikan.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam mengingatkan kesalahan.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam menjaga kehormatan.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam berkasih sayang.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam berlemah lembut.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam menghukum.

Ibu telah mewakili Tuhan dalam memberikan kehidupan.

Advertisement

Wahai Tuhanku, mungkin aku bisa melupakan semua pemberianMu, tapi perpanjangan tanganMu yang ku panggil "Ibu" tak akan mungkin kulupakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya