Mungkin seringkali kita melakukan hal yang tanpa kita sadari sudah menyakiti hati orang lain. Sudah membuat orang lain tersinggung, bahkan membuat mereka merasa bahwa diri mereka tidak layak berada di lingkungan mereka saat ini.


Mungkin kita pun sering tidak sadar, apa yang kita katakan sebenarnya tidak seharusnya kita ungkapkan. Kita hanya terbawa suasana, terbawa situasi untuk dapat diterima oleh lingkungan. Namun banyak menjatuhkan orang lain di dalamnya.


Advertisement

Dunia yang semakin menunjukkan perkembangan pesat terhadap terknologi. Teknologi yang semakin memudahkan semua informasi untuk disebarluaskan. Dan manusia yang seolah bukan lagi haus akan informasi karena memang membutuhkan, tapi karena takut ketinggalan berita dan takut dibilang kudet alias kurang update.

Semua tidak pernah ada salahnya. Sebab manusia memang makhluk yang terus haus akan ilmu dan informasi. Sehingga media pemberitaan dan media sosial menjadi tempat bagi mereka berburu informasi. Mulai dari berita politik, ekonomi, isu penting di dunia, sampai informasi tidak penting tapi mampu menjadi viral.

Seolah dunia tidak perlu lagi dijelajah dengan biaya yang mahal, namun cukup lewat internet semua informasi bisa didapatkan.

Advertisement


Ya, semua kemudahan itu bisa saja kita dapatkan. Bahkan menambah teman pun bisa dengan mudah kiat dapatkan. Termasuk untuk melukai hati orang lain pun seolah tidak ada halangan.


Kenapa saya bilang begitu?

Kadang saya sendiri pun masih sering menyakiti hati orang lain dengan semua ucapan saya.


Benar memang ucapan lidah tidak bertulang lebih tajam dari mata pisau yang bahkan telah diasah.


Seringkali orang akan mengabaikan situasi, kondisi bahkan perasaan orang lain, ketika ia ingin mendapatkan perhatian dari lingkungan. Seolah kita tahu semuanya. Kita menyebarkan semua informasi yang bahkan kita tidak mendapatkan dari sumber aslinya. Kita hanya bermodalkan “katanya”. Kita hanya bersumber “sosial media”. Bukan lagi mereka yang bersangkutan.

Kita yang berhasrat untuk memberitahu orang lain. Menyampaikan informasi yang bahkan belum kita pastikan kebenarannya. Kita seolah kehilangan empati, apakah itu boleh disebarkan atau tidak. Seolah sudah hilang bagi kita, apa yang disebut dengan amanah.

Sadar gak sih?

Harusnya setiap orang memiliki alarm ini saat mereka hendak menceritakan rahasia orang lain. Mereka adalah orang yang dipilih untuk mampu menyimpan rahasia orang lain. Namun seolah semua mudah dilupakan, dan rahasia yang diamanahkan pun hilang begitu saja.

Sadar gak sih?

Ada hati yang tersinggung, tersakiti bahkan seolah tidak mempercayakan orang lain sebagai tempat ia bersandar lagi.

Sadar gak sih?

Kita hanya menuruti keinginan kita untuk “kepo” bukan berempati kepada mereka yang mempercayai kita sebagai tempat bercerita. Kita hanya berhasrat untuk dianggap “cerdas” oleh lingkungan, karena tahu banyak hal. Tapi justru menyakiti banyak hati.

Sadar gak sih?

Ada hati yang sedang merasa malu, sedih bahkan mereka ingin marah, ketika kita menceritakan masalah mereka, membuka aib mereka bahkan menganggapnya seolah lelucon biasa.

Sadar gak sih? Atau mungkin kita sudah lupa, apa itu empati? Bagaimana itu menjaga perasaan orang lain? Bahkan mungkin sudah hilang keinginan kita untuk berbuat baik dari hati. Bukan untuk mendapatkan perhatian lingkungan.

Kita seolah sedang sibuk membangun brand untuk diri sendiri. Sampai membenarkan semua cara termasuk menjatuhkan orang lain dengan cerita kita. Bahkan kita seolah lupa, bagaimana menghargai privacy orang lain. Hanya untuk mendapatkan informasi tentang keadaan mereka.

Mungkin kita sering lupa. Kita tidak sepenuhnya ingin memperhatikan. Kita juga tidak sepenuhnya ingin membantu. Kita hanya ingin dikenal. Kita hanya ingin dianggap oleh lingkungan. Kita hanya ingin pengakuan yang baik dari lingkungan.

Tapi dengan cara yang bahkan membuat orang kehilangan rasa percaya diri mereka. Membuat orang lain merasa tidak lagi berharga, karena cerita mereka sudah disebarluaskan oleh kita yang tidak membantu sama sekali.


Cobalah untuk memposisikan diri sebagai mereka yang mencoba mempercayakan kisah mereka padamu. Berusaha merobohkan ketakutan untuk mempercayai orang lain, karena menganggap kamu adalah tempat paling aman untuk menyimpan cerita.


Tapi kita dengan mudahnya bercerita kepada orang lain. Membuat orang lain berpikir lebih luas dan tanpa kejelasan tentang cerita aslinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya