Apakah kalian pernah merasakan kesakitan yang mendalam dan hingga kini masih kalian rasakan? Aku Anisa, Aku sepenuhnya merasakan hal yang sungguh sangat amat tak ku minati. Siapa juga yang ingin berselimut luka?

"Entah bahagia entah dalam duka, entah nyata bahkan sandiwara. Akulah Aku dengan segala pilihanku."

Advertisement

Aku selalu berusaha menyelesaikan masalah apapun, dan mengambil keputusan apapun dalam hidupku atas naluri dan kehendak hatiku sendiri. Bahkan ketika masalah rumit datang, Aku berusaha untuk tetap percaya bahwa solusi terbaik adalah pada diriku. Bahkan, sahabat pun tak mempengaruhiku dalam keputusan. Sesuai kehendak hati akan ku alihkan semua kepadaku.

Mungkin di dunia ini bermacam-macam sahabat bertabur di keseharian kalian. Mulai dari sahabat perempuan, sahabat laki-laki, yang berkarakter aneh, pendiam, pintar atau bahkan jenis unik lainnya yang tak terdefinisikan dengan kata-kata. Aku pernah memiliki seorang sahabat laki-laki. Menurutku Ia adalah sosok yang tak banyak bicara dan penuh teka-teki tapi senang tertawa. Sikap dan karakternya tak bisa ku mengerti membuatku dan teman-temanku bahkan bingung dan lama-kelamaan terbiasa dengan alur fluktuatifnya.

Bak terguyur cahaya, suatu ketika Ia berubah menjadi sosok yang banyak bicara dan hangat dalam satu malam. Hingga teman-teman pun tak percaya ketika berkomunikasi dengannya. Tak sedikit yang mengira akunnya telah dibajak, hingga mereka membuktikannya sendiri keesokan harinya. Aku yang tak biasanya basa-basi dengannya di media sosial pun entah mengapa sekejap terbawa alurnya. Tentu dengan 1000 pertanyaan janggal yang tak bisa kudapatkan jawabannya.

Advertisement

Hari itu, Farris namanya, orang yang tak pernah membuang waktunya dengan berbincang apalagi dengan teman perempuannya tiba-tiba berkata padaku untuk menjalih persahabatan. Tentu setelah beberapa hari konyol yang kami lalui dengan berbincang dalam basa-basi. Aku pun tak masalah dengan permintaannya, lagi pula Ia tak memiliki teman yang benar-benar dapat Ia ajak bertukar pikiran-bukan pikiran hati tepatnya-.

Tak ada bahasan berarti selama ini, hanya candaan dan basa-basi konyol yang kami perbincangkan beberapa bulan setelahnya. Hingga Aku mengetahui maksud yang sebenarnya. Hari itu, Ia menyatakan perasaannya padaku. Aku yang masih menepuk jidat tak percaya akan kenyataan hari itu. Hingga aku sadar akan keseriusannya dalam beberapa bulan setelahnya. Hatiku mulai luluh terhadapnya, sosok lelaki yang selalu menjadi tempatku menuangkan segala ocehan harianku dengan setia.

Namun, waktu berkata lain. Entah mengapa perasaan dan kepribadiannya luntur secepat yang Ia lakukan perubahan beberapa bulan lalu. Semua yang telah Ia lakukan membekas jelas. Aku mengingat semua sakit yang Ia buat. Aku mengingat semua luka yang Ia berikan. Aku mengingat semua janji yang Ia untai. Bahkan Aku mengingat semua lukisan yang Ia torehkan. Setelah semua itu, tak kunjung jua aku dapat membersihkan semua kenangan indah dan pahitnya. Tak kunjung jua Ia menoleh barang sedetikpun. Tak kunjung jua Ia menyadari kesalahannya. Namun sejujurnya aku tak ingin menyalahkannya. Biarlah orang mencaci tuk lepaskan semua kenangan menyakitkan dan menemuan yang lain.

Aku tak pernah berpikir untuk memaksakan diri apalagi hati untuk berubah. Aku tak ingin mengubah apapun. Hanya waktu yang aku percaya dapat menjawab teka-teki hidupku. Tak perlulah aku hiraukan keinginan semu, Aku biarkan semuanya berjalan apa adanya dan tak pernah ku paksakan untuk mencinta sosok lain. Ini jalanku, ini keinginanku. Cinta tak selalu indah, dan kita tak selalu dalam dekapan nyata romansa cinta. Yang Aku tahu, bahwa mencinta lara tak pernah salah. Bahwa hanya sekedar mencintai sosok dirimu adalah bahagia untukku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya