Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah paham. Ini wilayah kejernihan logika berpikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya. Tingkat kedua terbawah adalah kurang paham. Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham, dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul-simpul pemahaman yang benar. Naik setingkat lagi adalah mereka yang salah paham. Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berpikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalahpahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah gagal paham. Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan. Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain. Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu dari yang dia suka saja. Bukan ilmu yang disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan. Tertutup hatinya, tertutup akal pikirannya, tertutup pendengarannya, tertutup logikanya. Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri. Parahnya lagi, dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham. Dia tetap dengan dirinya, dan dia bangga dengan gagal pahamnya itu.

Advertisement

Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi? Apa tidak terbalik? Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk dan merendah. Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa seakan-akan dia tidak tahu apa-apa. Dia terus mau menerima ilmu, darimana pun ilmu itu datangnya. Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat apa yang disampaikan. Dan dia paham.

Ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah. Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya. Sedangkan, gagal paham itu ilmu tingkat tinggi "dia seperti balon gas" yang berada di atas awan. Dia terbang tinggi dengan kesombongannya, memandang rendah keilmuan lain yang tidak sepaham dengannya. Dan merasa akulah kebenaran.

Masalahnya, dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak. Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti. Akhirnya dia terbawa kemana-mana sampai terlupa jalan pulang. Dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya. Dia akan mengakui kegagalpahamannya dengan penyesalan yang amat sangat dalam. Jadi yang perlu diingat, akal akan berfungsi dengan benar, ketika hati merendah. Akan tetapi, ketika hati meninggi, maka ilmu jugalah yang akan membutakan si pemilik akal.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya