Sudahkah kalian tahu siapa Pramoedya Ananta Toer itu? Sudah saatnya kita berkenalan pada sosok sastrawan kebanggaan bangsa satu ini. Pada masanya beliau pernah menjadi tahanan namun dibebaskan secara hukum tanpa proses pengadilan karena dianggap tidak terlibat dalam kasus G30S PKI. Ketika dalam penjara bahkan beliau aktif menulis dan melahirkan banyak karya yang mengagumkan. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Suatu hal yang jarang sekali orang lain lakukan. Sangat menarik bukan?

Dalam karyanya yang berjudul sekali peristiwa di Banten Selatan mampu menggugah rasa patriotik bagi setiap pembaca setianya. Beliau membawa pembaca untuk berimajinasi pada suatu daerah yang masih sejuk dan asri tanpa polusi dan belum terkontaminasi. Semua digambarkannya dengan menarik di setiap paragraf terutama pada bagian awal yang mengantarkan pembaca dalam sebuah prolog yang indah.

Advertisement


Langit bermendung. Udara berwarna kelabu. Dari jarak dekat, pegunungan di depan desa itu, yang dirimbuni berbagai pepohonan hutan, berwarna kelabu (Halaman 11).


Bukan hanya itu, dalam novel ini juga menceritakan sebuah tanah yang subur tapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka diisap sedemikian rupa. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan. Sebagai generasi penerus Banten saat ini saya bahkan merasa tertampar akan tragedi yang begitu kelam di masa lalu. Hanya bisa bertanya-tanya dan tidak bisa menyalahkan. Mengapa Banten dulu begitu menyedihkan? Bukankah bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan?

Dan ternyata kekuasaan dan ketidakadilan selalu mendominasi di setiap generasi bangsa. Sulit mengungkapkan fakta sebuah kebenaran. Bahkan zaman sekarang pun tanpa uang semua angan akan pincang. Sangat miris bukan?

Advertisement

Kembali pada alur cerita, tokoh Ranta menjadi peran utama yang menggembor-gemborkan bahwa jalan hidup pasti berubah, kesulitan yang didapatnya selama ini pasti berakhir meski sangat sulit. Dulu, kebenaran saja harus diperjuangkan bahkan hingga menimbulkan perang. Ranta bahkan pernah mengatakan:


"Dimana-mana aku selalu dengar : Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar."



Merasa harga dirinya diinjak binatang buas, binatang buas yang haus akan kekuasaan, Ranta tidak mau lagi mematuhi ancaman Juragan Musa untuk mencuri bibit karet dengan upah pukulan keras. Hingga suatu ketika luapan emosinya membara dan membuat Juragan Musa terbirit-birit meninggalkan tasnya. Dari sanalah awal mula perseteruan sengit antara Juragan Musa dan Ranta.

Ranta berontak dengan dukungan isteri tercinta, orang yang pertama, kedua, dan ketiga. Mereka mengambil tindakan untuk pergi dari gubuk beratap rumbia sebelum dibakar oleh ajudan Juragan Musa. Sampai pada masa di mana rumah Juragan Musa dicurigai oleh Komandan dan paraprajurit serta dimintai keterangan atas keributan dengan sang isteri yang dicuri dengar akan keterlibatannya dengan DI. Semua terbukti saat ditemukannya surat-surat Darul Islam di dalam tas. Setelah pembuktian telah menemukan titik terang akhirnya Juragan Musa angkat tangan. Sedangkan Ranta diangkat jabatan sebagai lurah karena lurah sebelumnya yang memperlancar jalannya penindasan tersebut digantikan.


Sebelumnya Ranta pernah mengatakan bahwa: Kalau ada yang pilih aku jadi lurah, tentu aku terima. Tapi aku takkan calonkan diri. Aku tak mampu keluarkan biaya. Tapi kalau aku dipilih, tentu pilihan aku terima (Halaman 30).


Dalam kalimat tersebut terlihat bahwa di zaman saat ini bahkan sangat sulit sekali mencari pemimpin seperti Ranta. Memiliki kesiapan mental untuk menembus kebenaran tanpa sedikitpun mengusik tentang uang. Berjuang dengan hati mulia dan lapang dada tanpa harus secuil pun mengeluarkan modal.

Mantan pasukan Heiho pada zaman Jepang ini dengan lantang mengutarakan tekadnya untuk sebuah persatuan. Kematangan akan pola pikirnya mampu untuk mengambil keputusan bahwa segerombolan Oneng akan balas dendam. Sambil bangkit dari kursi Ranta membantah dengan pasti meski Djali menimpali.


Tidak, kita bersatu dan juga melawan, bahkan menyerang. Ah, Djali, kau berpikir secara dulu juga seperti yang lain-lain. Begini Djali, kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan (Halaman 76).


Kata-kata filsafahnya seolah menjadi bius pemersatu warga. Segala upaya dikerahkan termasuk memperketat keamanan warga, dibuatnya larangan untuk tidak keluar dari kampung halaman, dan yang terpenting adalah mentaati aturan.

Kata orang sebuah aturan dibuat untuk dilanggar tapi faktanya peraturan bahkan mengendalikan kita untuk tidak terjerumus di lubang yang menyesatkan, sekalipun dibuat pengecualian bagi orang yang pernah berjasa pada hidup kita. Yang pertama adalah sosok tidak patut dicontoh. Nekat melanggar aturan untuk pergi keluar kota dan kini hanya tinggal penyesalan, dikeroyoki gerombolan hingga setengah mati hanya menyisakan celana dalam, dan habislah modal. Dengan begitu Ranta tidak marah justru menganjurkan yang pertama untuk mengungkapkan salam maafnya pada warga desa.

Banyak rencana baik Ranta tersampaikan. Dari memperketat keamanan hingga menghadapi pertempuran sampai tamat membuatnya hidup lupa makan dan tidur menjelang siang. Gotongroyong yang mengagumkan turut andil menyemarakkan kepemimpinannya, sekolah rakyat berdiri kokoh sejak tiga bulan silam serta waduk yang hampir terselesaikan dengan baik disusunnya dengan matang agar kelak bermanfaat.

Bermanfaat di sini bukan hanya untuk kemaslahatan warga yang turut merasakan lilitan kemiskinan saja tetapi juga untuk anak cucu generasi yang akan datang. Termasuk baca-tulis yang sempat diperdebatkan oleh warga namun, nasib baik berujung baik pula dan disepakati bahwa sang Nyonya sebagai pengajarnya.

Lantas masih wajarkah generasi bangsa hanya pandai menyebar hoax semata? Membesar-besarkan masalah demi kepentingan sepihak saja. Seluruh rakyat Indonesia turut dirugikan andai kata dampaknya adalah sebuah perpecahan. Di mana hati nurani tersimpan? Para pejuang berkorban bukan untuk mereka yang berpangku tangan. Menyatukan suara bukan untuk diretakkan. Tidak ada yang membatasi persatuan di negara ini, suku, agama, ras, bahkan antargolongan harus saling hidup rukun karena hanya saling menghargailah hidup sejahtera.

Hanya saja novel Pramoedya satu ini, kurang dilengkapi dengan tanda kutip sebagai lambang dari kalimat langsung atau ujaran dalam hati, sangat unik. Meski harus dipahami secara mendalam esensi setelah membaca buku ini sangat terasa sekali.

Sebagai warga Banten saya terkesan sekaligus malu dengan buah karya yang satu ini. Di satu sisi wilayah barat yang baru berdiri tahun 2000 ini sudah diakui, dengan kata lain menarik untuk dikenal. Di lain sisi, tidak adakah warga Banten yang mengeksplor rumah sendiri? termasuk saya dan ini sangat menampar sekali. Dengan ini saya mewakili seluruh penduduk provinsi Banten mengucapkan banyak terima kasih atas reportase mengagumkannya hingga diabadikan sampai detik ini, semoga Bapak mendapat tempat yang diistimewakan Tuhan di alam sana.

Teruntuk tokoh Ranta, semoga kami dapat menemukan pemimpin-pemimpin baru yang mengemban amanah warga bukan untuk mencari jabatan semata.


“Aku sudah bosan takut, sudah bosan putusasa.”


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya