Hal yang selalu aku inginkan adalah bisa duduk berdua denganmu. Sederhana memang tapi tidak pernah sesederhana kelihatannya. Hubungan yg aneh, memang hubungan milik kita. Terlalu rapuh bertahan. Terlalu susah untuk dilepaskan. Beberapa hari ini aku dalam kepayahan mengendalikan hati. Maka satu-satunya cara bagiku meredamnya adalah dengan mengisolasi diri dari apapun yang mengingatkan perihalmu.

Aku menutup diri, berdoa meminta kekuatan pada-Nya. Agar kali ini aku tidak kembali seperti orang bodoh saat menyuarakan perihal hati. Lantas, bagaimana caranya mengatakan padamu, betapa rindu terlampau begini menyakitiku? Tapi aku kira, soal diketahui atau tidak itu lain perkara. Bahwa aku senang dan puas sesudahnya karena berhasil menenangkan gejolak hati, itu pasti tujuan dari ini semua.

Advertisement

Hampir jam satu dini hari disini, mungkin kau tengah menyeduh kopi kesekian di kotamu. Apa kabarmu? Dan kau, pasti tidak mengetahui tangis yang hampir meledak di mataku. Rasanya lebih mudah berkata tidak apa-apa ketimbang berkata aku bisa. Rasanya lebih mudah berpura-pura tersenyum daripada menangis. Bagaimana jika aku duduk di sampingmu, lalu mulai mengalami hidup bersama? Rasanya seperti tidak menginginkan apapun lagi selain bisa mendengarmu bercerita hingga pagi.

Kukira kau tahu pasti hal itu. Dan betapa seluruh tanda tanya hanya kau sendiri yang tahu jawabannya. Dan meski entah hingga huruf keberapa yang aku coba eja sampai kau mengerti maknanya. Maka, aku hanya harus terus bersabar mengeja kata per kata sampai kau menemukan alasan tepat untuk membiarkanku jatuh di pangkuanmu. Betapa indahnya jika tertidur dalam cinta yang seperti itu nantinya. Pernahkah kau berharap menemukan sebuah pagi dengan senyuman paling merekah serta secangkir kopi yang siap kau seduh hingga tuntas?

Aku suka debaran jantung. Rasanya seperti mengalami kembang api paling besar. Tetapi aku lebih suka debaran jantungmu. Jadi tidak tahukah kau hatiku? Yang begini tumpah padamu. Cintaku mungkin terlihat remeh dan sama bagi pandanganmu atau siapa pun. Tapi coba carilah hingga belahan dunia yang paling jauh, niscaya cintaku tak akan pernah lebih remeh dibandingkan cinta siapa pun. Meski ya aku tahu, di antara mereka, akulah yang paling tanpa apa pun.

Advertisement

Paling bukan siapa pun. Aku mencintaimu. Aku rindu. Tidakkah kau ingin bersamaku? Andai aku bisa duduk bersampingan denganmu. Mengalami semua hal yang tertunda. Andai kita, aku dan kau. Bisa melewati waktu seperti mereka. Para kekasih di luar sana. Sayangnya, kita masih belum sesuai perkiraan-Nya. Masih bisu dan jauh. Lebih dari semua yang aku tuliskan padamu, aku hanya ingin mengatakan; Aku rindu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya