Selfie adalah memfoto diri sendiri dengan kamera atau mengarahkan foto ke arah sendiri. Jika sudah ramai-ramai, disebut groufie (group selfies). Fenomena narsis untuk memamerkan tempat mereka kunjungi, kecantikan dan ketampanannya ke sosial media seperti facebook, Twitter atau Instagram sudah menjadi kebutuhan agar dipuji dan dikatakan "wow".

Bahkan, efek negatif selfie/groufie ini sering kali menghilangkan esensi dari tujuan awal mengerjakan sesuatu. Maksudnya ni guys, orang naik haji atau umrah yang sebenarnya niat untuk ibadah, akhirnya jadi ajang selfie dan pamer-pameran berlebihan. Atau dapat beasiswa ke luar negeri yang sebenarnya harus menggunakan kesempatan untuk banyak publikasi ilmu, tulisan, jurnal, tapi lebih banyak mempublikasi foto selfie di internet.

Nah, saya ingin menawarkan solusi bagi yang hobi selfie biar selfie-nya bermutu, berkualitas dan edukatif. Kurangi selfie yang menonjolkan bibir monyong anda. Artinya perbanyaklah selfie yang tidak hanya menampakkan wajah dan bibir saja, tetapi juga background dimana anda sedang berada atau objek yang sedang bersama anda. Jelaskan pada publik tentang background foto di belakang anda atau objek disana. Ini sekaligus akan menambah informasi publik tentang foto selfie anda.

Misal nih, anda berkunjung ke Mesir dan selfie dengan Mumi Fir’aun, di bawah foto tersebut buatlah caption, tulis informasi dan sejarah singkat tentang sang Mumi (mungkin anda bisa menulis kapan dia lahir, mak-nya siapa, kawin dengan siapa, siapa anaknya, kapan matinya, berapa tahun menjadi raja, dll).

Kalau anda selfie di tempat wisata dan kuliner, anda juga bisa mempromosikan wisata daerah anda. Bagi yang hobi masak bisa juga selfie dengan makanan dan jelaskan pada publik nama makanannya, makanan khas daerah mana dan cara membuatnya. Tentu ini akan menambah informasi buat publik.

Advertisement

Nah, silahkan ber-selfie edukatif dan kreatif, kurangin monyong-monyongan.