Sebenarnya, kita terlebih dahulu menyepakati definisi dari social climber dalam tulisan ini. Kalau sederhananya,social climber ini sebagai seseorang yang berusaha menaikan status sosialnya dengan usaha tertentu. Misalnya, Seorang yang sebenarnya dari kelas menengah, berusaha untuk masuk ke lingkungan sosialita. Mulai meniru gaya hidup dari sosialita tersebut. Mulai dari berusaha memakai pakaian branded. Lalu, berusaha bergaul dengan ala-ala sosialita seperti arisan berlian atau malah arisan brondong. Intinya, seorang social climber ingin mendapatkan sebuah pengakuan.

Nah, kalau kita bawakan ke contoh yang lebih sederhana. Sebut saja sosialita ala mahasiswa dan social climber ala mahasiswa. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya akan lebih banyak mengupas masalah social climbernya. Kalau sosialita ala mahasiswa memang mereka difasilitasi secara lengkap oleh orangtuanya.Sehingga tidak terlalu memikirkan kalau akan menggunakan uang orangtua mereka secara hura-hura. Berbeda dengan social climber ala mahasiswa yanng berusaha mendapatkan pengakuan status yang lebih tinggi dengan memanipulasi keadaan.

Advertisement

Sedihnya, tanpa disadari, mungkin ada juga diantara kita yang berusaha menjadi social climber. Dalam arti kata, gaya hidup tidak sesuai dengan kehidupan sesungguhnya. Maka, terkadang, kita akan terkaget-kaget, ketika ada mahasiswa yang sebelumnya bergaya hebring sekali ketika diperkualiahan, ternyata di suatu momen seleksi beasiswa, tetiba mengaku miskin dan berasal dari keluarga tidak mampu.Saya ingat ketika saya ikut mendengarkan rapat seleksi beasiswa jurusan (waktu itu sekedar jadi tukang entry data), penyeleleksi terkaget-kaget karena mahasiswa tersebut kesehariannya trendi sekali punya hape keluaran baru, akan tetapi ternyata latar belakang keluarganya tidak demikian. Opsinya sih sebenarnya cuma dua, mereka berusaha menjadi social climber yang pandai baminyak aia atau memiskinkan diri di momen tersebut.

Apakah ada yang salah dengan menjadi seorang social climber? menurut saya , bagaimana ya, soalnya kecenderungan kita akan memaksakan diri untuk masuk ke status sosial yang lebih tinggi hanya demi mendapatkan pengakuan. Biar dibilang kekinian dan ngehits berusaha gaul tiap hari di kafe-kafe keren, padahal duit masih mintak ke orangtua. Berusaha membual tentang diri padahal itu tidak hal yang sesungguhnya. Ke kampus harus pake motor keren atau mobil keren. Saya ingat sekali waktu, ketika masih hidup di jaman-jaman asrama, ada juga teman saya yang rela tidak makan dan minjam uang biar bisa beli baju branded dan gonta-ganti asesoris setiap hari. Intinya, memaksakan gaya hidup yang pada akhirnya menyiksa diri sendiri.

Pengaruh lingkungan pergaulan yang tidak sehat, menyebabkan terkadang kita terpaksa ikut mengikuti gaya hidup lingkungan sekitar. Apabila hal tersebut mendatangkan dampak positif tidak masalah, akan tetapi, kebanyakan malah akan jatuh ke hal negatif seperti memaksakan keadaan dan berusaha mengikuti gaya hidup yang high class dengan cara apapun. Disanalah terkadang, mahasiswa (terutama mahasiswi) terjebak dengan berbuatan yang menyimpang demi mendapatkan uang dalam pemenuhan kebutuhannya.

Advertisement

Kalau kita lihat dalam ruang lingkup yang lebih luas, ada sebuah pertanyaan muncul:
"seberapa penting pengakuan status sosial ini akan berpengaruh dalam kehidupan?"

Kalau menurut saya, status sosial yang kita dapat dengan menjadi sosial climber hanya semu. Penghargaan dan penerimaan dalam grup pergaulan sebaya yang dirasa selevel tidak akan berlangsung lama. Kenapa harus repot-repot memaksakan diri untuk hal demikian? Padahal masa depan yang ingin kita kejar masih panjang. Kenapa harus sibuk memaksakan diri?

Solusinya?
Sebaiknya, jalani semasa kehidupan mahasiswa dengan baik. Belajar dengan sungguh-sungguh. Gapai masa depan yang gemilang. Maka, kita akan memetik hasil dari buah yang kita tanam. Tidak perlu lah terlalu memikirkan pergaulan yang harus kekinian yang dipaksakan kalau itu memang tidak cocok dengan diri kita. Terus belajar memperbaiki diri. Jangan sampai mengecewakan orangtua yang membanting tulang demi membiayai kuliah, kita disini justru sibuk bagaimana bagaimana diterima di lingkungan pergaulan "sosialitanya mahasiswa".

Sekedar renungan untuk kita bersama. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan. Sekedar berbagi pengalaman dengan para mahasiswa dimanapun berada. Belajar yang rajin dan carilah pengalaman sebanyak-banyaknya ketika masih mahasiswa #merasasudahtua. Sekian. (*)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya