Masalah gizi buruk merupakan masalah yang sering dibicarakan di Indonesia. Sesuai dengan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang mengalami beban ganda permasalahan gizi.

Salah satu permasalahan gizi yang dialami yakni masalah stunting. Stunting yaitu masalah kekurangan asupan gizi dalam kurun waktu yang lama sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Advertisement

Sesuai data Bappenas menunjukan stunting menyebar diseluruh wilayah dan lintas kelompok pendapatan, sehingga masalah stunting tidak hanya ditemukan pada keluarga miskin, namun juga keluarga yang termasuk golongan menengah.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting dari status awal 32,9% turun menjadi 28% pada 2019, sedangkan WHO menetapkan batas toleransi stunting maksimal 20% dari jumlah keseluruhan balita.

Ini menunjukkan bahwa masalah stunting menjadi permasalahan serius dan menjadi salah satu fokus pemerintahan saat ini.

Advertisement

Dilihat dari faktor penyebab terjadinya masalah stunting dapat dikelompokkan menjadi dua aspek yakni, aspek eksternal dan aspek internal. Aspek eksternal mengenai stunting dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.

Tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan kurangnya pemahaman mengenai pentingnya gizi pada bayi dan balita. Masalah ekonomi menjadi hal yang langsung mempengaruhi peningkatan stunting di Indonesia.

Keluarga dengan perekonomian yang rendah akan mengakibatkan keterbatasan pangan dalam rumah tangga sehingga konsumsi pangan individu tidak tercukupi. Dengan keterbatasan pangan dalam rumah tangga, anak-anaklah yang rentan mengalami kekurangan gizi.

Tentu hal ini disebabkan oleh anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan sangat membutuhkan gizi yang cukup dan berimbang. Selain itu pada zaman modern ini terjadi perubahan pola hidup, yakni peningkatan jumlah wanita yang bekerja di luar rumah dan menyebabkan keterbatasan dalam memberikan ASI.

Tentunya ini dapat menyebabkan terjadinya status gizi kurang, karena ASI memiliki kandungan gizi yang mencukupi untuk bayi dan balita. Aspek internal menjadi masalah sendiri bagi penderitanya. Kelainan genetik dan penyakit infeksi dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dari bayi dan balita.

Sehingga perlu perhatian dari orang tua untuk memperhatikan konsumsi sayur dan buah untuk meningkatkan imunitas tubuh. Dengan rendahnya imunitas yang dimiliki oleh anak-anak maka tubuh akan rentan terhadap penyakit infeksi.

Dengan kejadian stunting yang banyak di alami oleh masyarakat Indonesia saat ini, tentunya akan menjadi masalah yang serius. Baik bagi anak-anak tersebut nantinya ketika tumbuh dewasa maupun terhadap bangsa Indonesia nantinya.

Tingginya angka kejadian stunting dapat menghambat perkembangan pada anak-anak dan mempengaruhi proses belajar sehingga akan terjadi gangguan perkembangan kognitif. Selain itu anak yang stunting juga memiliki IQ yang rendah dan mempengaruhi prestasi akademiknya di sekolah.

Hal ini menyebabkan minimnya kualitas dari sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia nantinya. Dimana seseorang yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang kurang baik akan mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang rendah.

Sehingga ini nantinya akan menjadi sesuatu yang berkelanjutan dan membuat bangsa Indonesia semakin terhambat kemajuannya.

Antisipasi dan penanggulangan masalah stunting membutuhkan berbagai pihak dari pemerintah untuk mencari akar permasalahan dan menyusun program yang bersifat lintas sektor. Penyusunan regulasi kesehatan diperlukan untuk menyusun program yang dapat diterapkan di seluruh Indonesia.

Tentunya dalam hal ini pemerintah telah menetapkan sebuah kebijakan dari Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Perbaikan Gizi untuk mendukung upaya dari pemangku kepentingan untuk terlaksananya perbaikan gizi dalam 1000 hari pertama kelahiran.

Pada bidang kesehatan hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan cakupan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan pemahaman gizi. Pelatihan keterampilan bagi tenaga kesehatan tentunya juga diperlukan dalam meningkatkan kualitas pelayanan ibu, bayi dan balita nantinya.

Dalam bidang pendidikan dan sosial budaya dapat dilakukan dengan membuat program edukasi untuk mengatur pola asuh bayi dan balita yang baik dalam keluarga. Sehingga dapat memberikan contoh di masyarakat dan meningkatkan pengetahuan mengenai masalah stunting.

Selain dari pemerintah, masalah stunting juga harus dilakukan oleh pihak non pemerintah,swasta dan masyarakat. Seperti halnya kader PKK harus ikut berpartisipasi untuk menanggulangi masalah stunting di Indonesia, salah satunya melalui posyandu.

Sedangkan dari masyarakat hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian stunting yaitu dengan cara pemberian ASI esklusif pada bayi usia 0-6 bulan untuk memenuhi zat gizi bayi. Saat bayi berusia 6-12 bulan dapat dilakukan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI).

Selain pemenuhan zat gizi pada bayi, orang tua dan masyarakat harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Perilaku PHBS perlu diterapkan untuk mencegah terjdinya infeksi. Untuk penerapan perilaku hidup bersih dan sehat pada keluarga dapat dilakukan dengan membiasakan mencuci tangan sebelum mengolah makanan, sebelum makan dan sebelum pemberian makanan pada balita agar tidak terkontaminasi bakteri.

Sedangkan perilaku hidup bersih dan sehat pada balita dapat dilakukan dengan membiasakan sarapan pagi dan memberikan imunisasi yang lengkap untuk membantu pertahanan imunitas mereka.

Manajemen kasus stunting merupakan suatu masalah kompleks sehingga membutuhkan perhatian semua pihak, sehingga diharapkan adanya peningkatan kualitas kesehatan bagi semua generasi muda yang akan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menjadikan bangsa Indonesia yang sehat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya