Suara Disko: Orgasme Pemikiran dan Pergeseran Paradigma

Melihat Kebelakang

Advertisement

Ketika saya mendatangi diskusi yang diinisiasi Proud Project dengan tema “Cerita Musik Pop” beberapa waktu yang lalu di Jakarta Pusat, terlihat jelas hasil dari buah pikiran beberapa anak muda di Indonesia yang sempat tergelitik dengan fakta di atas. Musik lokal yang merupakan karya kreatif anak bangsa rupanya sempat dianggap ‘najis’ oleh mereka yang sudah keranjingan musik barat sebagai barometer ‘kekinian’ pada masa itu.

Memang, di sekitar tahun 90an musik yang didengarkan mereka generasi Millenial adalah Linkin’ Park, Limp Bizkit, Backstreet Boys, Westlife. Masa dimana MTV benar-benar merajai kalangan remaja dan anak muda dengan gelombang tsunami musik baratnya. Tetapi, tidak bisa dipungkiri juga bahwa exposure dari anak muda kreatif bangsa ini juga telah merasuk kedalam sukma dan darah mereka yang mungkin akut dengan musik barat. Sebut saja Kahitna, Chrisye, atau Fariz RM. The Legends.

Eureka!

Advertisement

Menyikapi kondisi kebarat-baratan yang mungkin bagi beberapa pemuda ini dirasa terlalu naif, hal ini rupanya mendorong mereka untuk memilih jalur berbeda dan memelihara idealismenya bahwa lagu Indonesia itu playable untuk materi party. Pada akhirnya, muncullah komunitas Suara Disko yang diinisiasi oleh sekumpulan anak muda bekerjasama dengan Merdi Simanjuntak dan Fadli Aat untuk membuat satu event bertajuk disko dengan musik asli Indonesia.

Acara tersebut digelar di bilangan Jakarta Selatan pada tahun 2015. Sampai sekarang, event lanjutan pun kian marak berdatangan hingga pada hari ini. Beberapa artis pun turut ambil bagian didalamnya seperti Fariz RM, Danilla, dan Monita.

Advertisement

Suara Disko menjadi perhatian banyak orang. Di Instagram saja, followers mereka sudah sampai di angka 10.600 saat artikel ini ditulis. Tanpa bermaksud menjadi hiperbola, mungkin memang ini momen ’Eureka!’ bagi mereka pencetus komunitas Suara Disko. Sebuah invensi, desain, dan implementasi yang mengejawantahkan puncak kenikmatan dari pergumulan sekian lama untuk membawa tema ’Indonesia’ di belantika klub musik tanah air.

Setiap event yang dibuat pada akhirnya selalu menghasilkan cerita. Mulai dari pasangan suami istri yang tidak jadi bercerai, hingga pasangan yang akhirnya memutuskan untuk menikah di mana mereka ternyata pernah bertemu di acara Suara Disko. Memang, setelah dilihat lebih dalam ada sebuah pesan tersirat yang coba diusung oleh komunitas Suara Disko.

Gerakan

Mungkin memang kata ’disko’ erat dengan dansa, minum, ngudut, dan menghabiskan malam untuk memproduksi serotonin didalam tubuh yang pada akhirnya memacu kesenangan short-term pada otak; plus, efek adiktif yang muncul menanti mereka setelah mengonsumsinya. Tetapi pada kenyataannya, tujuan yang diusung oleh Suara Disko adalah perubahan paradigma.

Dalam dunia sains, ini dikenal dengan nama paradigm shift. Dalam ilmu pemasaran misalnya, terdapat pergeseran paradigma logika goods-dominanthingga ­service-dominant. Ini juga terjadi saat dulu Galileo Galilei menentang paradigma yang menganggap bahwa bumi merupakan pusat tata surya. Mereka menginisiasi perubahan cara pandang yang sama sekali berbeda dalam melihat realita.

Inilah gerakan yang diinisiasi Suara Disko. Komunitas ini secara gerilya mencoba untuk menyampaikan satu pesan bahwa musik tanah air harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bagi sebagian orang, mungkin pesan ini terdengar naif. Tapi, belajar dari Neil Armstrong, mungkin ada saatnya dimana kita memerlukan satu langkah kecil untuk langkah selanjutnya yang lebih besar lagi.

Mungkin tanpa adanya komunitas ini, karya kreatif anak bangsa masih tetap underappreciated. Bisa saja Diskoria Selekta sampai hari ini memainkan lagu barat karena memang industri secara de rigueurmenetapkan demikian. Padahal, ini merupakan langkah awal untuk kembali dapat menikmati gelora masa muda melalui hal sesederhana musik.

Bukankah memang demikian benar seperti kata Bob Marley, "One good thing about music, when it hits you, you feel no pain." Tidak jarang dalam event yang saya ikuti oleh pegiat musik lokal di sebuah venue, banyak sekali millenials yang sepertinya terbawa kembali ke masa-masa dimana dunia begitu indah–tanpa adanya tagihan cicilan dan menunggu tanggal gajian. Masa di mana semuanya terasa indah, yang membuat mereka attachedsebegitu dalam dengan musik-musik pada zaman itu.

Mungkin Suara Disko memiliki agendanya sendiri. Namun, sebagai seorang yang memiliki perhatian besar pada industri musik di Indonesia, saya yakin bahwa banyak gerakan lain yang mungkin bisa dibawa oleh komunitas ini untuk dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang menikmatinya. Glenn, contohnya, dalam diskusi publiknya menyampaikan bahwa ia secara pribadi sangat tertarik untuk perform dalam pertunjukan musik yang dimana terdapat higher purpose di dalamnya. Tidak semata-mata materi, tetapi inspirasi.

Pembelajaran

Ada beberapa lesson learned yang bisa diambil dari komunitas ini.

Pertama, idealisme patut untuk dipelihara apabila itu memiliki tujuan yang baik bagi kehidupan kita. Buah pikiran yang kita punya bisa menjadi substansi disrupsi bagi sekeliling kita.

Kedua, selalu ada higher purpose atas setiap hal yang kita lakukan, yang mungkin lebih dari sekadar materi. Bukan semata-mata charity-minded, tetapi doing business with purpose ini merupakan hal yang mungkin clichénamun memang punya sensasi tersendiri bagi mereka yang mau memelihara idealismenya.

Ketiga, apabila kita sudah tau apa yang ingin dilakukan, kerjakanlah sekarang! Sudah terlalu banyak filsuf baik itu di bidang bisnis maupun aksi sosial yang idenya hanya berkarat di pikirannya, namun tidak diwujudnyatakan dalam aksi nyata.

Tanpa adanya wujud nyata dari Suara Disko, Merdi dan Aat, mungkin hari ini Suara Disko hanya menjadi fantasi bagi mereka yang mendambakan musik terbaik Indonesia untuk diputarkan di lantai dansa.

Sebagai seorang akademisi yang merasa memiliki ikatan dengan mereka yang ada didalam ’ekosistem’ musik Indonesia – istilah yang bung Glenn Fredly sering pakai dalam menggawangi Konferensi Musik Indonesia – Suara Disko, salute mi familia.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Harriman Samuel Saragih adalah kandidat Doktor pada Sekolah Bisnis Manajemen, Institut Teknologi Bandung. Saat ini Ia merupakan Kepala Konsentrasi Kewirausahaan di Fakultas Ekonomi, Universitas Pelita Harapan. Ia juga aktif terlibat sebagai musisi di grup musik independen di Bandung yang telah menghasilkan dua album yang tersedia di media digital seperti iTunes dan Spotify. Sebagai seorang ilmuwan dan praktisi, artikelnya telah dan akan diterbitkan di Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics, International Journal of Business Innovation and Research, International Journal of Innovation Science dan juga media nasional seperti The Jakarta Post, Hipwee dan Jakarta Globe. Ia juga merupakan reviewer pada International Journal of Innovation Science. Pada beberapa kesempatan, ia juga aktif dalam memberikan pandangannya di stasiun televisi swasta. Harriman merupakan Founder dari Essaiku.

CLOSE