Wahai calon mertua yang berbahagia…


Hari ini izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya secara pribadi kepada Anda. Nama saya Dek Agam. Mudah untuk diingat, bukan? Saya berpikir saya sudah sangat cukup umur untuk berhadapan dengan Anda. Sudah jauh-jauh hari saya ingin menjumpai Anda. Namun keadaan belum berpihak kepada kita untuk saling bertatap kata. Wahai calon Tuan, izinkan saya untuk berbicara panjang lebar dihadapan Anda. Berbicara blak-blakan, apa adanya. Saya hadir disini karena satu alasan, hanya untuk meminta putri Anda. Minta izin untuk tinggal bersama diatas perjanjian berlandaskan syariat agama.


Wahai calon Mertua


Saya memang bukan siapa-siapa. Hanya seorang pemuda yang baru bisa memenuhi hajat perut dua kali sehari. Hanya seorang lajang yang sering langganan kopi pancong di warung seberang. Dan kehidupannya sering bertukar antara siang dan malam. Saya juga belum punya apa-apa yang patut Anda banggakan. Dan sah-sah saja apabila kemudian ada pertanyaan yang akan Anda ajukan.


Wahai calon Mertua


Advertisement

Sedikit tentang latar belakang keluarga, saya bukan keturunan bangsawan. Bukan juga berdarah konglomerat yang memiliki banyak proyek di dinas pemerintahan. Apalagi keturunan panglima yang sering menyetir Avanza ataupun sedan. Saya hanya orang biasa dari kalangan biasa. Keluarga saya hanya seorang petani yang kesehariannya menanam padi dan kacang. Sedikit mempunyai penghasilan dari hasil membelah pinang. Tentunya Anda bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami yang serba pas-pasan.


Calon mertua yang saya kagumi.


Berbicara tentang pendidikan, saya sedikit berbangga hati. Pendidikan menjadi prioritas keluarga walaupun dengan biaya yang pas-pasan. Tentunya dengan banyak halangan dan rintangan. Saya yakin Anda sudah sangat paham dengan keadaan yang saya perjuangkan.


Wahai calon Mertua yang arif nan bijak.


Saya hadir dengan satu alasan yaitu ingin melamar anak Anda yang cantik jelita. Saya sangat menghargai dan menghormati ia sebagai perempuan. Saya tidak mau mencederai anugerah yang Tuhan berikan. Karena alasan itulah saya beranikan hati untuk berbicara dengan Anda. Selayaknya saya tidak baik berbicara begini, namun hati saya selalu berontak untuk berkata jujur apa adanya. Saya rasa itu tidak salah, bukan? Sedikit cerita tentang awal perjumpaan dengan anak Anda. Ketika itu di suatu cara kami saling berkenalan. Saya tidak mungkin memendam perasaan sampai akhir kehidupan. Menurut saya, Anda lah yang menjadi jalan sebagai obat penenang.


Wahai calon mertua yang saya muliakan.


Saya memang belum berkecukupan selayaknya orang-orang diluar sana. Saya belum punya banyak penghasilan. Belum punya banyak pendapatan untuk mengarungi samudera yang sewaktu-waktu karam ditengah jalan. Pun begitu, yakinilah wahai calon Tuan. Yakinilah, saya akan menjaga amanah ini dengan sebaik mungkin. Karena saya percaya, putri Anda adalah seorang navigator ulung yang sudah sangat mengenali arah bintang kehidupan.


Wahai calon mertua


Ini bukanlah penutup dari percakapan kita. Ini adalah percakapan pembuka kita supaya Anda membuka ruang. Sebagai permulaan Anda memberikan saya kesempatan meniti kehidupan bersama putri Anda yang rupawan.