Peristiwa buruk sedang melanda indonesia belakangan ini, mulai dari bencana erupsi gunung Merapi di Sleman hingga yang masih hangat diperbincangkan yaitu bom yang meledak di tiga gereja Surabaya. Kejadian ini menjadi kado yang menyedihkan untuk warga Surabaya yang pada tanggal 31 Mei akan melaksanakan hari jadi kota pahlawan ini, yang lebih memilukan yaitu pelaku peledakan bom ini berasal dari warga Surabaya dan pelaku di tiga gereja ini merupakan satu keluarga.

Keluarga ini dikabarkan baru saja pulang dari Suriah, tidak lama setelah itu mereka melancarkan aksinya untuk meledakkan bom di Surabaya. Saat ini (Mei 2018) Surabaya dan beberapa kota lainnya sedang berada dalam keadaan siaga satu terorisme. Tidak sedikit korban meninggal ataupun korban luka dalam kejadian ini, sangat disayangkan orang yang tidak bersalah menjadi korban.

Advertisement

Terorisme di Indonesia bukan hal baru untuk diperdebatkan, sejarah terorisme diawali dengan adanya bom Bali yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Ali Imron yang sekarang mendekam di penjara. Terorisme adalah aktifitas kriminal yang melibatkan kekuatan (kekerasan) secara sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu (Keling, et al., 2009).

Penyebab dari adanya peristiwa mengerikan ini yaitu beberapa kelompok masyarakat yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, jelas hal ini sulit diterima di masyarakat karena Indonesia memiliki dasar negara Pancasila. Masyarakat Indonesia memiliki keberagaman ras, suku, bahasa bahkan agama dengan didasari oleh Pancasila yaitu Bhineka Tunggal Ika. Ketika berbicara tentang teroris tidak terlepas dari radikalisme karena menyebarkan keyakinan yang berakar dan berpengaruh negatif terhadap masyarakat. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti dari radikalisme salah satunya yaitu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastic.

Faktor Pendukung

Advertisement

Faktor yang mendukung radikalisme dan terorisme yaitu karena ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil terhadap rakyat kecil. Faktor tersebut menjadi pendukung karena ketika tidak adanya keadilan untuk rakyat kecil dianggap pemerintah melanggar aturan ajaran agama islam yang menjunjung tinggi keadilan.

Teori ilmu ekonomi liberal mempunyai paham yaitu mereka yang mempunyai kecukupan materi akan menerima sebuah sistem dimana mereka tinggal dengan beraktifitas secara damai, sebaliknya mereka yang secara sosio-ekonomi mengalami kesengsaraan dan kekurangan yang cenderung melakukan kekerasan seperti terorisme.

Motif dari pelaku terorisme tidak bisa terlepas dari isu agama yang menganggap Indonesia harus menjadi negara islam karena salah satu tujuan dari kelompok islam ekstrimis ini menentang demokrasi yang mereka anggap sebagai ajaran barat (non muslim) dan didukung oleh kekecewaan mereka terhadap pemerintahan yang kurang memihak rakyat kecil. Para teroris diketahui adalah individu yan masuk kedalam suatu kelompok organisasi yang tujuan awalnya berusaha melakukan perubahan sosial (Kruglanskri, 2003).

Menururt Staub (1989) Individu yang rentan bisa masuk dan bergabung dalam organisasi teroris adalah individu yang merasa termarginalisasi (menjadi minoritas di masyarakat) atau dipinggrikan, suaranya tidak didengarkan oleh pemerintah sehingga individu ini berada dipihak rakyat kecil. Alasan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang tidak berdasarkan syari’at Islam menjadi dasar utama dan sejalan dengan fatwa Osama bin Ladin tentang pembolehan membunuh warga negara Amerika dan sekutunya di manapun.

Dampak yang ditumbulkan

Kejadian teror bom ini menyisakan bekas mendalam pada korban serta rakyat Indonesia sejalan dengan waktu yang terus bergulir tidak bisa menghapus dampak yang ditimbulkan. Kejadian yang sangat keji ini menjadi trauma tersendiri pada masyarakat khususnya korban, trauma yang mereka terima tidak dapat disembuhkan dalam waktu cepat.

Menurut kesaksian korban bom Tamrin para korban harus menjalani pengobatan yang intensif serta penanganan trauma yang serius dan membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Trauma yang di alami masyarakat secara luas yaitu ketakutan dalam melakukan kegiatan di luar pasca bom Surabaya terlihat dari jalanan dan pusat kegiatan masyarakat yang terlihat sangat sepi.

Trauma masyarakat mulai menjurus kepada rasisme terhadap simbol-simbol yang biasa digunakan oleh seorang teroris, sebagian orang menganggap hal ini wajar terjadi karena bentuk kewaspadaan masyarakat yang sudah memuncak. Simbol-simbol yang dianggap mencurigakan yaitu wanita yang menggunakan cadar atau lelaki yang memelihara jenggot, padahal mereka hanya ingin menjalankan sunnah dari agama yang mereka yakini. Dalam hal ini terorisme dapat menjadi bencana untuk memecah bangsa Indonesia, karena jelas sikap demikian akan mengingkari dasar negara Indonesia yaitu pancasila, serta tidak sejalan dengan tujuan negara yang di buat oleh pendiri bangsa ini.

Perbedaan pendapat tentang terorisme juga memicu perpecahan bangsa ini, bukan hanya satu atau dua orang yang terlibat dalam kesalah pahaman. Banyak yang mengaitkan peristiwa ini dengan pemilihan calon pemimpin daerah yaitu sebagai pengalihan isu politik. Kini media sosial menjadi salah satu senjata pula untuk memecah belah bangsa ini, sangat di sayangkan banyak orang yang hanya memandang suatu kejadian hanya satu sudut pandang dan lebih di sayangkan lagi bangsa indonesia yang dulu mengutamakan musyawarah kini menjadi manusia yang tempramen dan individual sehingga memicu perselisihan paham karena tidak dapat menghormati pendapat orang lain. Hal ini tentu saja menjadi suatu respon negatif dari masyarakat indonesia dan terorisme dapat menjadi pemecah belah bangsa menjadi bagian-bagian

Dibalik kesedihan yang melada pasca bom Surabaya banyak dukungan dari luar kota untuk warga untuk tetap berani dan tidak takut oleh teroris. Dukungan yang datang dalam bentuk moril ataupun dalam bentuk lain sangat membantu warga surabaya untuk bangkit dari peristiwa bom bunuh diri ini. Salah satu bentuk bantuan yang diterima warga surabaya yaitu dengan #suroboyowani menjadi trending topik dapat mencerminkan dukungan yang tidak mengenal batas waktu, tempat, suku, agama, ataupun ras.

Bantuan untuk para korban yaitu berupa donor darah yang di lakukan oleh warga Surabaya tidak memandang jabatan atau pekerjaan salah satu pesepak bola dari Persebaya rela mendonorkan darahnya untuk korban dan juga ratusan warga Surabaya yang rela mengantri untuk melakukan donor darah. Hal ini dapat mewujudkan persatuan Indonesia tetap ada walau sudah ditimpa dengan peristiwa yang menyakitkan. Hal ini merupakan bentuk dari respon positif dari masyarakat yang semakin membuat kita merasa bersatu kembali sebagai bangsa Indonesia

Beberapa respon yang ditunjukkan masyarakat terhadap terorisme menjadi sangat beragam, baik respon positif ataupun respon negatif. Respon negatif ini yang banyak berdampak buruk pada nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia sedangkan respon positif dapat menjadi senjata kita untuk melawan terorisme karena pada logikanya jika kita bersatu san meyakini bahwa pancasila adalah dasar negara yang paling sesuai untuk NKRI ini maka bangsa ini akan susah di masukin ideologi lain yang berlawanan dengan pancasila. Sekarang bagaimana kita sebagai bangsa indonesia menjatuhkan pilihan akan memberi respon seperti apa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya