Teruntuk kau yang pada akhirnya akan memintaku untuk mendampingimu, aku bukanlah wanita yang sempurna. Mungkin aku bukanlah wanita yang sepenuhnya dewasa ataupun memiliki sisi keibuan yang hal seperti itulah yang mungkin selalu menjadi kriteria para pria dalam mencari pasangan hidup, tetapi semoga kau percaya bahwa aku berusaha memperbaiki diri. Aku pun sadar, aku harus terus belajar dan terus belajar. Aku pun semakin sadar, aku harus memperbaiki niatku bahwa perkara memperbaiki diri tak melulu untuk orang-orang di sekitar tetapi untuk diriku juga, sehingga hal tersebutlah yang meyakinkanku bahwa aku harus mampu menyayangi diriku sebelum menyayangi orang-orang di sekitarku.

Teruntuk kau yang akan bersedia bertengkar denganku, berdiskusi denganku, berbagi tawa denganku, dan bersedia di sampingku kala duka menyelimuti kita. Aku bukanlah seorang wanita dengan masa lalu yang selalu menyenangkan, dan juga bukan dari keluarga yang sempurna. Namun, masa laluku yang manis dan pahit pun membuatku belajar bahwa Tuhan ingin hambaNya terus belajar memaknai hidup yang Ia berikan. Dan dibalik ketidaksempurnaan keluargaku, aku mendapat berlimpah cinta dan kasih sayang yang mengajarkanku bahwa hidup pun harus saling mengasihi,dan juga menyadarkanku bahwa keluarga akan menjadi hal pertama yang akan selalu aku prioritaskan. Sehingga, kau tak perlu ragu ketika kau akan menjadi salah satu yang aku tulis teratas dalam daftar prioritasku, kelak.

Advertisement

Teruntuk kau yang akan bersedia menjagaku di hari-hariku kelak, mungkin kau sering melihat sosok wanita-wanita tangguh di luar sana, tetapi semoga kau menyadari bahwa wanita mempunyai sisi ingin dilindungi. Mungkin kau sering melihat sosok wanita-wanita berkepribadian tegas diluar sana, tetapi semoga kau menyadari bahwa akan selalu ada sisi lembut dalam dirinya. Mungkin kau juga akan menyadari bahwa aku adalah seseorang yang memiliki ego dalam diriku. Kuharap kau akan bersabar kala menghadapi egoku.

Teruntuk kau yang bersedia menghadapi segala keriuhan yang aku ciptakan, dengan segala kekuranganku, semoga kau tetap percaya bahwa perlahan-lahan aku menyadari kodratku sebagai seorang wanit. Yang akan mendampingimu, berada di sebelahmu, menemanimu saat kau menghadapi kesulitan atau sekedar mengusap lembut pundakmu agar kau merasa tenang. Agar kau yakin, kau tak sendiri. Ada aku di sampingmu.

Teruntuk kau yang mungkin pusing memikirkan persoalan bagaimana menafkahi keluarga kecilmu kelak, semoga kau percaya aku tak meragukan rezeki untukmu, untukku. Untuk kita. Percayalah bahwa kau mengantongi jatah rezekimu sendiri. Bertahanlah untuk mencari nafkah dengan cara yang Tuhan sukai, sehingga Ia akan suka memberimu rezeki secara terus-menerus dan berlimpah.

Advertisement

Tetapi, sebelum kau memikirkan segala harapku ini, aku ingin bertanya, "Apa rencana yang sudah kau pikirkan untuk 'kita'?" dan "Yakinkah kau memilihku dengan segala kekuranganku?"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya