Oleh: Lisa Anggriani

Indonesia memiliki beragam daerah, budaya dan bahasa yang berbeda, mulai dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah memiliki ciri bahasa yang khas. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Bahasa daerah disebut sebagai bahasa ibu. Bahasa daerah mencerminkan identitas bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa.

Di zaman yang semakin berkembang, dunia seakan menawarkan kehidupan yang serba modern dan canggih. Seiring dengan perkembangan zaman masyarakat seakan terlena akan kehidupan mewah itu. Tidak dapat bahwa globalisasi membawa dampak positif dari segi ekonimi, politik dan kemudahan berinteraksi. Namun, disamping membawa pengaruh positif, globalisasi juga membawa dampak negatif terhadap penggunaan bahasa daerah. Masuknya bahasa asing melalui media-media membuat bahasa daerah menjadi terpingirkan.

Di era globalisasi sekarang ini bahasa daerah sudah mulai luntur dengan drastis. Contohnya penggunaan bahasa Jawa yang sudah jarang dipakai lagi. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang bahasa Jawa akan punah terkikis zaman. Salah satu penyebab punahnya bahasa daerah adalah bahasa nasional sendiri yaitu bahasa Indonesia, karena secara tidak langsung penutur bahasa daerah menjadi enggan mengajarkan bahasa daerah pada keturunannya.

Lunturnya bahasa daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu dari lingkungan keluarga, penggunaan bahasa dalam pendidikan dan kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan bahasa daerah. Dalam lingkungan keluarga, orang tua cenderung menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari dengan keluarga dan anak-anaknya. Orang tua jarang mengajarkan bahasa daerah pada anak-anaknya, sehingga anak kurang mengerti atau kurang fasih berbicara menggunakan bahasa daerah.

Di lingkungan sekolah pengggunaan bahasa daerah hampir tidak pernah diucapkan karena mayoritas pendidik menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Pada mata pelajaran bahasa daerah dikenal dengan istilah “Muatan Lokal” yang hanya diberikan pada anak SD sampai SMP dan itu tidak diprioritaskan, sebaliknya yang diprioritaskan bahasa asing. Sedangkan untuk tingkat SMU/MA/SMK pelajaran bahasa daerah sudah tidak diberikan.

Banyak generasi muda yang beranggapan bahwa bahasa daerah adalah bahasa kuno dan dianggap kampungan. Mereka lebih senang dan bangga menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing yang dianggap lebih maju dan modern. Beberapa bahkan tidak perduli dengan bahasa daerah dan enggan menggunakannya. Budaya dan nilai-nilai yang berlaku di anak muda sekarang ini telah mengeyampingkan bahasa daerah. Tidak ada lagi kesadaran bahwa bahasa daerah merupakan warisan budaya luhur yang harus dilestarikan.

Menggunakan bahasa Indonesia dan menguasai bahasa asing memang tidak ada salahnya karena tuntutan dunia kerja yang semakin berdaya saing global dan mengharuskan menguasai bahasa asing, Namun, bukan berarti kita melupakan bahasa daerah yang notabennya merupakan bahasa sendiri. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus bangsa mencintai dan bangga menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari disamping bahasa nasional dan bahasa asing.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya