Pada 2017, Instagram mengumumkan secara resmi bahwa lebih dari 45 juta orang Indonesia adalah pengguna aktif Instagram, meningkat secara signifikan dari 22 juta pengguna aktif di awal tahun 2016. Angka ini memosisikan Indonesia sebagai komunitas terbesar Instagram di Asia Pasifik dan salah satu pasar terbesar di dunia dari total 700 juta pengguna aktif setiap bulan di dunia.

Melengkapi data tersebut, lembaga riset internasional Taylor Nelson Sofres Indonesia melalui studi “Pengguna Instagram di Indonesia” mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna Instagram di Indonesia adalah anak muda, pengguna mobile-first dengan kemampuan finansial yang baik dan terdidik, bahkan memiliki gelar sarjana.

Advertisement

Dalam klasifikasi usia pengguna, 59% diantaranya adalah anak muda usia 18-24 tahun yang terdidik dan mapan, 30% adalah kelompok usia 25-34 tahun, dan sisanya dari usia 34 tahun ke atas. Secara keseluruhan, 63% penggunanya yang aktif didominasi oleh wanita.

Menjadi digital native membuat mereka menghabiskan 15 jam per hari untuk menjelajah internet, mengirim pesan, dan menggunakan media sosial (Yong, 2016:55). Pada porsi waktu tersebut, kaum muda di Indonesia menghabiskan waktunya untuk berselancar di Instagram dengan tapping instastories, timeline scrolling, dan juga explore dengan intensitas akses yang beragam.

Mayoritas, masyarakat Indonesia menggunakan Instagram untuk mencari inspirasi, membagi pengalaman saat bepergian, dan mencari informasi dan tren terbaru. Mereka memiliki realitas lain dari lingkungan sosial virtual yang sehari-hari mereka amati. Selain terjebak dalam pusaran tren yang terjadi di kalangan teman dekat, mereka juga lebih mudah untuk mengadopsi tren baru yang muncul dari social media influencer (selebgram) maupun public figure lainnya.

Advertisement

Tingginya angka penetrasi media sosial Instagram pada kaum muda di Indonesia ini tentu secara tidak langsung berdampak pada berbagai aspek. Tak hanya cara berpakaian, gaya hidup, makanan, atau budaya modern yang berbaur dengan budaya lokal Indonesia, acara bridal shower kemudian juga menjadi tren beberapa tahun belakangan.

Sebagai gambaran, bridal shower sendiri merupakan sebuah pesta yang khusus diadakan untuk calon pengantin perempuan sebelum melepas masa lajang. Dalam perayaan ini, teman-teman calon pengantin acapkali memberikan hadiah berupa barang atau uang yang bisa digunakan setelah menikah. Perayaan ini biasanya dilakukan dua sampai empat minggu sebelum digelarnya pernikahan.

Sebuah fenomena yang menarik ketika ditelusuri ke masa lampau, setidaknya sebelum ramainya penggunaan Instagram di Indonesia, bridal shower adalah tradisi yang sangat asing bahkan dalam kehidupan public figure sekalipun. Perayaan umum yang berkaitan dengan rangkaian pernikahan di Indonesia biasanya hanya meliputi lamaran, resepsi, ngunduh mantu, ditambah serangkaian prosesi adat yang berbeda pada tiap suku dan daerah.

Namun, beberapa tahun ke belakang ini, bridal shower menjadi tradisi tambahan yang semakin lumrah dilakukan terutama pada pasangan muda di kota-kota besar. Tentu, hal ini berkaitan dengan kemudahan akses pada jasa-jasa party planner yang juga bermunculan seiring derasnya tradisi baru tersebut. Melalui kutipan dari Detik.com, Ola Harika, pemilik usaha party planner Little Thoughts Party Planner menyepakati bahwa media sosial memiliki peran penting dalam penyebaran tren bridal shower.

Menilik sejarah awal tradisi bridal shower pada 1890-an di Belanda, Kanada, Australia, Amerika Serikat, juga Selandia Baru, perayaan ini awalnya dianggap sebagai pengganti mas kawin. Semua kerabat maupun tetangga dari calon mempelai berbondong-bondong untuk memberikan hadiah, bantuan mas kawin dari calon mempelai pria pada wanita.

Perayaan bridal shower di Kanada bahkan sengaja dibuat sangat meriah dan mengundang sekitar 250 hingga 300 orang tamu. Maka dari itu diperlukan undangan khusus yang dikirim melalui pos atau e-mail sebagai tanda bahwa kehadiran mereka sangat diharapkan.

Seiring waktu berjalan, tradisi bridal shower pun berkembang. Bila di luar negeri bridal shower turut dihadiri oleh keluarga calon pengantin wanita yang berperan sebagai tamu, di Indonesia, perayaan ini hanya dihadiri sahabat-sahabat dekat.

Selain itu, bridal shower ala Indonesia lebih dijadikan momentum berkumpul, bukan ajang pemberian hadiah seperti seharusnya. Bahkan, tren tradisi bridal shower di Indonesia tak jarang dimaknai sebagai perayaan sebelum pelepasan keperawanan sehingga banyak simbol-simbol seksualitas yang ditemukan pada atribut pesta.

Biaya yang dikeluarkan untuk perayaan ini pun tidak sedikit, berkisar 500 ribu rupiah tiap orang dalam sekali perayaan. Kedengarannya cenderung konsumtif, karena tren tradisi ini diadopsi untuk mendapatkan penghargaan, pujian, menjaga gengsi, menampilkan kehidupan mewah, meniru gaya hidup social media influencer atau public figure, atau sekadar untuk menjaga simbol status tertentu.

Mengingat tren ini dilakukan eksklusif pada kelompok tertentu, tak jarang kemudian muncul asumsi bahwa hal tersebut dilakukan demi mencari pengakuan eksistensi kelompok dengan status sosial yang tinggi.

Dengan alasan-alasan tersebut, tidak sedikit yang mengadaptasi fenomena ini sehingga menjadi semakin booming pada kaum millenial di Indonesia. Meskipun Indonesia sudah memiliki rangkaian adat dan tradisi sendiri selama prosesi pernikahan, tampaknya masih belum cukup juga untuk mampu beradaptasi pada lingkungan sosial virtual di Instagram.

Praktis, asumsi akan adanya adopsi bridal shower yang muncul karena tingginya angka penggunaan Instagram kemudian mengendap ke permukaan. Sebuah kegelisahan akhirnya muncul, apabila tidak ada Instagram, apakah tradisi bridal shower akan eksis dan diadopsi oleh kaum muda di Indonesia? Maka patut dipertanyakan, bagaimana pengaruhnya dalam menciptakan tren baru melalui kekuatan gaya hidup dan lingkungan sosial virtual yang diciptakan dalam Instagram?

Daftar Pustaka

Astarina, Sintia. 2017. Bridal Shower Sejarah dan Fenomenanya Saat Ini. Diakses melalui https://indonesianyouth.org/sintiaastarina/bridal-shower-sejarah-dan-fenomenanya-saat-ini/ pada 18 Mei 2018.

Edwin, Yoseph. 2016. Instagram Beberkan Fakta-Fakta Pengguna di Indonesia. Diakses dari https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/instagram-beberkan-fakta-fakta-pengguna-di-indonesia pada 18 Mei 2018.

Sari, Intan Kemala. 2015. Ini Bedanya Bridal Shower di Luar Negeri dan Indonesia. Diakes melalui https://wolipop.detik.com/read/2015/11/13/132443/3070229/854/ini-bedanya-bridal-shower-di-luar-negeri-dan-indonesia pada 18 Mei 2018.

Triwijanarko, Ramadhan. 2017. 45 Juta Orang Indonesia Punya Instagram. Diakses dari http://marketeers.com/45-juta-orang-indonesia-punya-instagram/ pada 18 Mei 2018.

Yong, Su-Ting, dkk. 2016. Digital Native Students – Where is the Evidence? Selangor Darul Ehsan: The University of Nottingham Malaysia. Terarsip dalam The Online Journal of New Horizons in Education, January 2016 Vol. 6, Issue 1. Diakses melalui www.tojned.net/journals/tojned/articles/v06i01/v06i01-07.pdf pada 18 Mei 2018.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya