Kamu lelaki yang tertutup. Aku masih ingat pertama kali kita bertemu; kamu cuek, datar, tidak ada senyum terbentuk dari wajahmu. Tidak ada yang istimewa darimu saat pertama kali aku melihatmu. Waktu berlalu, rupanya Tuhan sudah menjadwalkan kita untuk saling mengenal satu sama lain.

Kamu mengetahuiku melalui Facebook, lucunya kamu sama sekali tidak ingat pertemuan kita yang pertama. Kamu katakan bahwa kamu tidak pernah melihatku sebelumnya. Gumamku dalam hati "yang benar saja, pada waktu itu kita bertemu hanya berdua, saling bertatap muka. Aku melihatmu dengan jelas, dan kamu tidak ? Cihh rupanya aku tidak cukup menarik bagimu."

Waktu berlalu, kita semakin akrab. Kita menyukai hal yang sama; kartun, lagu berbahasa Inggris, bermain game, komunitas Meme. Aku menyukaimu. Sungguh. Hal darimu yang sampai saat ini masih berhasil membuatku tersenyum yaitu kamu sulit sekali untuk menatap mataku ketika kita bertemu. Kamu selalu menundukkan kepala ke layar ponselmu.

Aku suka melihatmu grogi, aku suka melihatmu salah tingkah. Kamu terlihat lucu.

Setiap pertemuan kita, kamu tidak banyak bicara. Aku sulit sekali untuk memahami kamu itu orang seperti apa. Kamu terlalu banyak diam. Hening. Aku tidak menyukainya. Sungguh. Semakin lama aku mengenalmu, akupun tak sengaja mulai menyentuh hatimu. Kita berpacaran. Caramu mengutarakan perasaanmu padaku pun sangatlah berbeda.

Advertisement

Kamu hanya mengirimkan pesan lewat BBM yang berisi

"Aku suka sama kamu. Aku mau kamu jadi pacarku. Ada pertanyaan ?".

Tidak ada kalimat romantis, kata-kata rayuan yang biasa kaum Adam gunakan untuk menyatakan perasaannya kepada kaum Hawa. Yaa, mau bagaimana lagi, itulah kepribadianmu. To the point. Selama kita berpacaran, kamu bersikap sangat baik kepadaku.

Kamu selalu berusaha menghubungiku di sela-sela waktumu yang sibuk, kamu menyempatkan diri untuk bertemu denganku walaupun itu hanya sebentar. Sejak kamu mengetahui aku tidak menyukai laki-laki perokok, kamu pun tidak pernah menyulutkan api pada rokok di hadapanku.

Kamu menemaniku berbicara dan menghiburku di telepon hingga aku tertidur apabila aku sedang merasa takut, kamu mengantarkan obat dan makanan ke rumah ketika aku sakit, kamu nekat pergi ke kota mengendarai motor tanpa SIM untuk menjengukku yang sedang sakit, kamu ke rumahku hanya untuk mengantarkan makanan yang aku sukai, kamu memberiku kejutan untuk peringatan hari kelahiranku.

Ahh sudahlah… Terlalu banyak kebaikan yang sudah kamu lakukan untukku.

Di balik sifatmu yang tertutup, cenderung cuek, seolah-olah tidak peduli, ternyata kamu adalah lelaki yang sangat perhatian, peduli, penyayang. Kamu tidak romantis dalam berkata, namun kamu sangat romantis dalam bersikap. Sampai suatu hari aku menyadari bahwa kamu lelaki yang sangat baik yang pernah aku temui, aku memutuskan untuk melepasmu.

Aku wanita jahat. Kejahatanku ?

Baik, akan aku tuliskan; aku lebih sering mengahabiskan waktu dengan teman-teman lelakimu, aku lebih sering bermain daripada mengirimkanmu pesan singkat, yang paling fatal adalah aku mengakhiri hubungan kita tanpa ada masalah yang berarti.

Namun aku ingin kamu tahu, dulu aku salah mengartikan perasaanku. Banyak kesamaan yang kita miliki bukan berarti membuat kita menjadi pasangan yang serasi. Tidak. Bukan seperti itu kenyataannya. Aku menyukaimu hanya karena kesamaan yang kita miliki, bukan karena sepenuhnya aku ingin menjadi kekasihmu.

Ini tentang hati yang sulit aku bohongi. Andai hatiku tidak menolakmu, sudah pasti aku akan mempertahankanmu. Sungguh. Yaa, sudah ku katakan aku ini wanita jahat. Teramat jahat. Teramat egois.

Maaf, aku yang bodoh membiarkan orang yang baik sepertimu masuk ke dalam duniaku yang jahat. Maaf, aku telah menyentuh hatimu dan menggoreskan luka di sana lalu pergi tanpa mengobatinya. Maaf, aku yang sesukaku mengakhiri hubungungan kita tanpa masalah yang berarti.

Maaf, atas kekacauan yang telah aku lakukan untuk hidupmu. Maaf, aku terlalu cepat menemukan penggantimu. Terima kasih untuk perhatian yang tulus, perjuangan yang tidak terbayarkan, kesabaran yang tiada batas.

Terima kasih telah mengajarkanku agar menjadi wanita yang kuat, tangguh, berani.

Kamu pintar, ambilah pelajaran dari hubungan kita dulu. Kamu tangguh, aku tahu itu.

Untukmu lelaki baik yang telah ku goreskan luka pada hatimu, semoga bahagia 😊