Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia. Kota yang menjadi tujuan orang-orang untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Kebanyakan dari pendatang bertujuan untuk mencari pekerjaan dan membangun usaha seperti berdagang. Kali ini, saya akan membahas tentang pekerjaan menjadi seorang pedagang. Pedagang adalah seseorang yang memperjual belikan suatu barang dagangan untuk memperoleh keuntungan.

Barang dagangan tersebut misalnya berupa: sembako, perlengkapan sekolah, aksessoris motor, peralatan masak, dan berbagai macam lainnya. Setiap hari, para pedagang berinteraksi dengan berbagai macam latar belakang si pembeli, sehingga banyak hal-hal menarik yang dialami oleh pedagang. Salah satunya adalah penipuan dengan berbagai macam modus. Lalu modus seperti apa yang dilakukan oleh si penipu untuk mengelabui korbannya?

Advertisement

1. Lupa Membawa Uang

Modus ini biasanya terjadi ketika si pembeli telah selesai memilih barang yang diinginkan. Kemudian, saat ingin membayar ia beralasan lupa membawa uang atau uang yang dimiliki tidak cukup. Lalu si pembeli tersebut mengatakan bahwa ia akan menjemput uangnya dengan membawa barang belanjaan tersebut saat itu juga. Namun setelah ditunggu beberapa saat, si pembeli tersebut tak kunjung datang untuk membayar tagihan belanjaan.Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, jangan langsung percaya kepada si pembeli biarkan ia menjemput uangnya terlebih dahulu.

2. Uang Kembalian Kurang

Advertisement

Modus yang digunakan pelaku adalah dengan mengatakan bahwa ia memberikan uang Rp.100.000 untuk tagihan belanja yang berjumlah Rp.15.000, tetapi pedagang hanya mengembalikan Rp.35.000 saja sehingga masih ada sisa kembalian Rp.50.000 lagi. Namun pelaku tidak mengatakan langsung saat ia sedang berbelanja, ia akan mengatakan bahwa kejadian itu terjadi kemaren atau beberapa hari yang lalu sehingga pedagang biasanya sudah tidak ingat siapa saja pembeli yang datang pada hari itu.Agar tidak tertipu sebaiknya ajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan barang yang ia beli kepada pembeli tersebut.

3. Barang Tidak Sesuai Keinginan

Modus seperti ini biasanya dilakukan pelaku dengan tergesa-gesa seolah-olah ia sedang dikejar waktu. Misalnya pelaku membeli sebuah barang seharga Rp.5.000 dengan membayar menggunakan uang Rp.100.000, sehingga pedagang mengembalikan uangnya sebesar Rp.95.000. Namun saat uang kembalian sudah diberikan, pelaku akan mengatakan bahwa barang yang sudah di beli tidak sesuai dengan yang di inginkannya dan mengembalikan barang tersebut kepada pedagang. Disini, pelaku akan menyerahkan barang sekalian dengan uang kembalian tetapi hanya Rp.45.000 saja, sementara uang yang Rp.50.000 disimpan atau disembunyikan. Jika tidak teliti, pedagang akan mengambil uang tersebut tanpa menghitung kembali dan mengembalikan uang Rp.100.000 milik si pelaku sehingga pedagang tersebut merugi sebesar Rp.50.000.

4. Titipan Bos

Modus seperti ini biasanya dialami oleh karyawan toko. Modus ini diawali dengan pelaku bertanya tentang keberadaan pemilik toko (Si Bos), jika karyawan menjawab bahwa pemiliknya tidak ada di tempat, pelaku akan berpura-pura menelpon dan berbicara tentang pesanan yang seolah-olah sudah dipesan oleh si Bos dan menyebutkan jumlah tagihan yang harus dibayar. Setelah itu, pelaku akan mengatakan kepada karyawan tadi bahwa tagihannya diwakilkan saja dengan menyerahkan kwintasi lengkap dengan nominal yang harus dibayar. Untuk mencegah penipuan tersebut sebaiknya lakukan konfirmasi dengan si bos terlebih dahulu.

Ketelitian dan ketegasan sangat diperlukan saat berjualan, karena penipuan bisa terjadi kapan saja. Jangan berikan kesempatan bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan aksinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya